Kejujuran Cekomang dan Kapak Emas
Cerita: Amril Mustafa
Cerita ini mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda bernama Cekomang yang miskin namun memiliki hati yang jujur dan sabar, berbanding terbalik dengan temannya, Julika, yang serakah dan suka berbohong. Suatu hari, sebuah kejadian tak terduga membawa perubahan besar bagi keduanya, serta mengajarkan bahwa kejujuran adalah harta paling berharga, sedangkan kebohongan hanya akan mendatangkan celaka. Kisah ini mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, dan akibat dari setiap perbuatan yang kita lakukan.
*****
Di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat dan pegunungan hijau, hiduplah seorang pemuda bernama Cekomang. Ia adalah anak yatim piatu yang tidak memiliki harta selain sebuah gubuk tua yang bocor dan sebuah kapak butut yang sudah kusam dan tumpul. Meski hidup dalam kemiskinan, Cekomang dikenal oleh seluruh penduduk desa sebagai pemuda yang sangat jujur, rajin, dan penuh kesabaran. Ia bekerja menebang kayu di hutan setiap hari, lalu menjualnya ke pasar desa untuk mendapatkan sedikit uang guna membeli makanan.
Berbeda dengan Cekomang, ada seorang pemuda lain bernama Julika. Julika adalah teman akrab Cekomang, namun perangainya sangat bertolak belakang. Ia orangnya malas, serakah, dan suka berbuat curang demi keuntungan sendiri. Ia sering kali menipu pedagang di pasar, mengambil barang tanpa membayar, atau berbohong untuk menghindari pekerjaan berat. Cekomang sering kali menasihati Julika, namun nasihat itu selalu diabaikan bahkan dianggap angin lalu saja.
“Julika, lebih baik kita bekerja dengan jujur. Rezeki yang halal meski sedikit rasanya jauh lebih nikmat dan tenang,” kata Cekomang suatu sore saat mereka duduk beristirahat di pinggir jalan.
Julika hanya tertawa mengejek. “Ah, kau ini terlalu polos, Cekomang! Dunia ini keras, kalau kita jujur saja, kita hanya akan tetap miskin dan sulit seumur hidup. Lihat saja nanti, suatu hari aku akan menjadi orang kaya raya dengan caraku sendiri.”
Cekomang hanya menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa mengubah pandangan temannya itu, jadi ia hanya berusaha tetap berbuat baik sesuai dengan hati nuraninya.
Suatu pagi yang cerah, seperti biasa, Cekomang berjalan masuk ke dalam hutan membawa kapak butut kesayangannya. Kapak itu adalah satu-satunya alat yang ia miliki untuk mencari nafkah, peninggalan mendiang ayahnya. Ia berjalan jauh hingga sampai ke sebuah telaga kecil yang airnya sangat jernih namun dalam, terletak di tengah hutan yang rimbun. Di sanalah biasanya banyak pohon kering yang bisa ditebangnya.
Saat ia sedang bersiap untuk mulai bekerja, tiba-tiba tangan Cekomang terpeleset karena terkena lumut basah di pinggir telaga. Byur! Kapak butut itu terlepas dari tangannya dan jatuh meluncur ke dalam air, lalu tenggelam dengan cepat ke dasar telaga.
“Aduh, celaka!” seru Cekomang dengan wajah pucat. Ia berlutut di pinggir telaga, menatap air yang tenang itu dengan perasaan sedih dan cemas. “Kapak itu satu-satunya hartaku. Tanpa kapak itu, bagaimana aku bisa mencari kayu dan makan hari ini?” Ia duduk diam, menyesali kecerobohannya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena air telaga itu terlalu dalam dan dingin.
Tiba-tiba, permukaan air bergolak pelan. Muncul seekor katak berukuran besar, kulitnya berwarna hijau keemasan yang berkilau terkena sinar matahari, dan memakai mahkota kecil di kepalanya. Itulah Raja Katak, penguasa telaga tersebut. Di tangannya, Raja Katak menggenggam sebuah kapak yang sangat indah, terbuat dari emas murni yang bersinar terang, memancarkan cahaya keemasan yang mempesona.
“Hai, pemuda yang sedang bersedih,” suara Raja Katak terdengar berat namun lembut. “Apakah kapak emas yang sedang aku pegang ini adalah milikmu yang terjatuh ke dalam telaga?”
Cekomang menatap kapak emas itu dengan takjub. Ia belum pernah melihat benda seindah dan semahal itu seumur hidupnya. Namun, ia segera menggelengkan kepalanya dengan tegas dan jujur. “Bukan, Baginda Raja Katak. Kapak itu bukan milikku. Kapakku hanyalah sebilah kapak tua, berkarat, dan sudah tumpul, sama sekali tidak berkilau seperti itu.”
Raja Katak tersenyum tipis. Ia kembali menyelam ke dalam air, dan tak lama kemudian muncul lagi dengan membawa sebuah kapak yang terbuat dari perak yang putih berkilau. “Kalau begitu, apakah kapak perak ini milikmu?” tanyanya lagi.
Cekomang kembali melihat kapak itu. Meski kapak perak itu juga tampak sangat berharga, ia tetap menjawab dengan jujur. “Maaf Baginda, itu pun bukan kapak milikku. Kapakku sangat buruk rupa, jauh sekali berbeda dengan yang Baginda tunjukkan.”
Untuk ketiga kalinya, Raja Katak menyelam ke dasar telaga. Saat muncul kembali, kali ini ia membawa kapak milik Cekomang yang berkarat dan butut itu. “Nah, bagaimana dengan yang ini? Apakah kapak tua dan kusam ini milikmu?”
Mata Cekomang langsung berbinar gembira. Ia bangkit berdiri dan mengangguk dengan antusias. “Benar, Baginda! Itulah kapak milikku! Terima kasih banyak Baginda sudah menemukannya dan mengembalikannya kepadaku!”
Raja Katak tersenyum lebar, wajahnya tampak sangat puas. “Cekomang, aku sudah menguji kejujuranmu. Banyak orang yang akan berbohong demi mendapatkan kapak emas atau kapak perak yang berharga itu. Namun kamu tetap berkata benar meski kesempatan kaya raya ada di depan matamu. Karena kejujuran hatimu yang tulus, aku berikan ketiga kapak ini kepadamu sebagai hadiah.”
Cekomang terkejut dan sangat berterima kasih. Ia menerima ketiga kapak itu dengan rasa syukur yang mendalam, lalu bergegas pulang ke desa. Ia tidak langsung membawa kapak-kapak itu ke gubuknya, melainkan langsung menuju istana Raja yang berada di tengah desa. Ia ingin menyerahkan kapak emas dan kapak perak itu kepada Raja desa, karena ia merasa benda seberharga itu seharusnya menjadi milik pemimpin dan rakyat, bukan miliknya sendiri meski sudah dihadiahkan.
Di hadapan Raja, Cekomang menceritakan seluruh kejadian dari awal hingga akhir dengan jujur. Raja sangat terkesima dan kagum mendengar kisah itu, serta melihat ketulusan hati pemuda miskin itu.
“Engkau adalah pemuda yang luar biasa, Cekomang. Tidak hanya jujur kepada sesama makhluk, tetapi juga rendah hati dan tidak serakah,” kata Raja dengan suara lantang. “Karena itu, aku angkat engkau menjadi penasihat kerajaanku, dan seluruh kekayaan yang ada pada kapak-kapak ini akan aku gunakan untuk membantumu dan juga warga desa yang membutuhkan.”
Berita keberuntungan Cekomang menyebar ke seluruh desa dengan sangat cepat, hingga akhirnya terdengar oleh Julika. Mendengar bahwa Cekomang sekarang menjadi orang yang dihormati, hidup makmur, dan dekat dengan Raja, hati Julika penuh dengan rasa iri dan dengki. Ia berpikir, “Ah, ternyata begitu caranya menjadi kaya dan terhormat! Itu pasti sangat mudah dilakukan. Aku pun bisa melakukannya, bahkan mungkin lebih pintar dari Cekomang!”
Julika pun segera menyusun rencana liciknya. Ia mengambil sebuah kapak butut miliknya sendiri yang sudah tua dan rusak, lalu berjalan menuju telaga di tengah hutan itu. Ia sengaja datang ke tempat yang sama di mana Cekomang mendapatkan keberuntungannya. Sesampainya di pinggir telaga, Julika melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Lalu, dengan sengaja dan keras-keras, ia melemparkan kapak bututnya ke tengah air.
Byur! Kapak itu terlempar jauh ke dalam air dan tenggelam. Julika lalu berpura-pura menangis dan meratap, seolah-olah ia sangat sedih dan kehilangan barang berharga, padahal ia hanya sedang berakting.
“Wahai Raja Katak! Tolonglah aku! Kapakku jatuh ke dalam air! Cepatlah keluar dan bantu aku!” teriak Julika dengan suara yang dibuat-buat sedihnya.
Tak lama kemudian, permukaan air kembali beriak. Raja Katak muncul kembali, masih dengan rupa yang sama, dan di tangannya tergenggam kapak emas yang berkilau indah. Ia sudah melihat apa yang dilakukan Julika dari dasar telaga, namun ia tetap bertanya sesuai kebiasaan.
“Hai pemuda, apakah kapak emas yang aku pegang ini adalah milikmu yang jatuh ke dalam air?” tanya Raja Katak dengan nada yang tenang namun tajam.
Mata Julika berbinar-binar melihat kapak emas itu. Tanpa berpikir panjang, dengan cepat ia menjawab dengan suara lantang dan berbohong, “Ya! Itu dia kapakku! Benar sekali, itu milikku! Cepat berikan kepadaku!”
Raja Katak menghela napas panjang. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menyodorkan kapak itu ke arah Julika. Dengan rakus, Julika menyambar kapak emas itu, lalu berlari secepat kilat menuju istana Raja. Ia berniat menyerahkan kapak itu kepada Raja, berharap ia pun akan mendapatkan kekayaan dan kedudukan seperti Cekomang.
Sesampainya di hadapan Raja, Julika dengan bangga mengangkat kapak itu tinggi-tinggi. “Paduka Raja! Lihatlah! Aku juga mendapatkan kapak emas dari Raja Katak di hutan! Kapak ini jatuh ke dalam air, dan aku mengakuinya sebagai milikku. Sekarang, berikanlah aku kedudukan dan kekayaan seperti yang engkau berikan kepada Cekomang!”
Namun, saat Julika meletakkan benda itu di meja Raja, tiba-tiba terjadi keajaiban yang mengerikan. Cahaya keemasan itu perlahan memudar, warna berkilauannya hilang, dan dalam sekejap mata, kapak emas itu berubah kembali menjadi kapak butut yang berkarat, kusam, dan rusak—persis seperti kapak yang sengaja ia lemparkan ke telaga tadi.
Raja terkejut dan segera bertanya dengan suara yang menggelegar penuh kemarahan. “Apa arti semua ini, Julika? Cekomang bercerita dengan jujur dan benda yang dibawanya tetap indah dan berharga. Tapi benda yang kau bawa ini berubah menjadi sampah. Coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!”
Karena ketakutan dan gugup, Julika akhirnya tidak bisa lagi menyembunyikan kejahatannya. Ia mengakui segala rencana liciknya, bagaimana ia sengaja melempar kapak, dan berbohong kepada Raja Katak demi mendapatkan harta. Ia mengira dengan berbohong ia akan mendapatkan keuntungan, namun ternyata ia justru terperangkap dalam kebohongannya sendiri.
Raja sangat murka mendengar pengakuan itu. Wajahnya memerah karena marah melihat sifat serakah dan penipu Julika. “Kau pemuda yang tidak tahu malu! Kau tidak hanya berbohong kepada makhluk halus, tetapi juga mencoba menipu Raja dan memanfaatkan kebaikan orang lain demi keuntungan diri sendiri. Orang yang tidak punya kejujuran tidak pantas hidup bebas di kerajaanku!”
Atas perintah Raja, para pengawal segera menangkap Julika dan menjebloskannya ke dalam penjara sebagai hukuman atas segala perbuatan buruk dan kebohongannya. Ia harus menyesali segala kesalahannya di sana dalam waktu yang cukup lama.
Sebaliknya, Cekomang hidup semakin mulia dan luhur di mata seluruh rakyat. Ia menggunakan kekayaan dan kedudukannya untuk membantu penduduk desa yang miskin dan kesusahan, serta menjadi teladan bagi semua orang. Ia selalu mengingatkan bahwa kejujuran adalah kunci kebahagiaan sejati, dan kebenaran akan selalu membawa keberkahan, sedangkan kebohongan hanya akan membawa pada kehancuran dan penyesalan.
Sejak saat itu, kisah Cekomang dan Julika menjadi cerita yang diceritakan dari generasi ke generasi di desa itu, agar setiap anak yang mendengarnya selalu ingat untuk menjaga kejujuran dalam setiap perkataan dan perbuatan mereka.


