Puisi-Puisi Hesty Qomariyah, UNIA Prenduan
Hesty Qomariyah, berasal dari Pulau Gili Raja, Giligenteng Sumenep. Memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang kuat dan saat ini sedang menempuh studi di Universitas Al-Amien (UNIA) Prenduan. Berfokus pada pengembangan diri, akademik, dan kontribusi sosial bagi masyarakat Madura.
Senja yang Tak Pernah Sama
Senja datang dengan warna berbeda,
Menyapa langit yang mulai reda,
Awan berarak perlahan saja,
Seolah tahu hati yang gelisah meraba.Ada rindu yang tak sempat bicara,
Tertahan di antara waktu dan rasa,
Larut bersama cahaya yang sirna,
Menjadi bayang dalam jiwa yang luka.Aku berdiri di antara waktu,
Menunggu bayangmu yang semu,
Angin berbisik membawa ragu,
Namun langkahku tetap membeku.Kuharap senja membawa kabar,
Tentang hati yang dulu bersinar,
Namun yang datang hanya samar,
Seperti janji yang enggan benar.Dan ketika malam mulai tiba,
Kutahu semua telah berbeda,
Senja hanya menjadi saksi setia,
Bahwa pergi tak selalu butuh kata.
Hening di Ujung Doa
Di ujung doa yang lirih terucap,
Kutitipkan harap tanpa sebab,
Langit mendengar tanpa menjawab,
Namun iman tak ingin lenyap.Ada air mata yang jatuh perlahan,
Mengiringi setiap permohonan,
Meski tak semua jadi kenyataan,
Namun hati belajar keikhlasan.Hening menjadi teman setia,
Saat dunia terasa hampa,
Dalam sunyi yang tak bersuara,
Kudengar jiwa mulai bicara.Kusadari dalam setiap luka,
Tersimpan hikmah yang tak terduga,
Bahwa sabar bukan sekadar kata,
Melainkan jalan menuju bahagia.Dan di ujung doa yang sederhana,
Kuserahkan semua pada-Nya,
Karena kutahu di balik segala,
Ada rencana yang lebih sempurna.
Jejak yang Tertinggal
Langkahku terhenti di jalan lama,
Tempat kenangan pernah bersama,
Angin membawa cerita lama,
Yang kini hanya tinggal nama.Jejak kaki kini hanya cerita,
Tertulis dalam lembar rasa,
Tak lagi bisa kuraba nyata,
Namun masih hidup dalam jiwa.Aku berjalan tanpa arah,
Mencari arti dari yang pernah,
Dalam lelah yang tak terucap,
Kucoba bangkit meski tersendat.Kadang hati ingin kembali,
Pada masa yang telah pergi,
Namun waktu tak pernah berhenti,
Mengajarkan arti berdiri sendiri.Dan kini aku mulai mengerti,
Bahwa kehilangan bukan akhir dari arti,
Melainkan cara hidup ini,
Mengajarkan kita untuk kembali berdiri.
Rindu yang Tak Bersuara
Rindu ini tak pandai berkata,
Hanya diam dalam rasa,
Mengalir seperti air mata,
Yang jatuh tanpa suara.Setiap malam kusebut namamu,
Dalam sunyi yang membelenggu,
Meski kau jauh dari kalbu,
Namun kenangan tak pernah berlalu.Rindu ini terus bertahan,
Meski tanpa kepastian,
Seperti hujan di tengah kerinduan,
Yang jatuh tanpa tujuan.Aku belajar untuk merelakan,
Meski hati belum sepenuhnya ikhlas,
Karena mencintai bukan tentang memiliki,
Namun tentang keikhlasan yang tulus dan pasti.Dan jika suatu saat kita bertemu,
Biarlah hanya sebagai masa lalu,
Yang pernah indah namun semu,
Dan kini telah menjadi debu.
Cahaya dalam Gelap
Dalam gelap kutemukan terang,
Meski redup tetap bersinar tenang,
Harapan kecil tak pernah hilang,
Meski badai datang menyerang.Langkahku mungkin tertatih lemah,
Namun hati tak ingin menyerah,
Karena di balik luka yang parah,
Tersimpan kekuatan yang indah.Aku belajar dari setiap jatuh,
Bahwa hidup tak selalu utuh,
Namun dari serpihan yang rapuh,
Kita bisa menjadi lebih tangguh.Gelap bukan akhir perjalanan,
Melainkan awal dari perubahan,
Yang mengajarkan arti keteguhan,
Dan makna dari sebuah harapan.
Dan ketika cahaya mulai terlihat,
Kusadari semua tak sia-sia,
Bahwa setiap air mata yang terlewat,
Adalah jalan menuju bahagia.


