Petik Laut Desa Tanjung: Tradisi Syukur, Sejarah, dan Harapan Nelayan Pesisir

Salah satu bawaan pada upacara rokat petik laut
Tulisan ini mengisahkan sejarah lahirnya tradisi petik laut di Desa Tanjung, Saronggi, sebagai wujud hubungan spiritual, budaya, dan ekonomi masyarakat nelayan dengan laut. Berangkat dari cerita lisan, pengalaman kolektif, hingga keyakinan yang diwariskan turun-temurun, petik laut menjadi simbol rasa syukur, permohonan keselamatan, dan identitas budaya masyarakat pesisir.
Oleh: Siti Aisyah
Samudera Indonesia menjadi ladang kehidupan bagi sebagian besar masyarakat di negeri ini, khususnya mereka yang tinggal di wilayah pesisir pantai. Laut bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup yang menyediakan penghidupan, harapan, sekaligus tantangan. Di Indonesia, banyak masyarakat menggantungkan nafkahnya sebagai nelayan, sebagaimana yang terjadi di Desa Tanjung.
Desa Tanjung merupakan salah satu desa pesisir yang terletak di Kecamatan Saronggi. Desa ini dikenal luas karena tradisi petik laut yang masih dilestarikan hingga kini. Keberadaan Desa Tanjung sebagai wilayah pesisir sekaligus pelabuhan laut tampak jelas dari fungsinya sebagai pangkalan para nelayan. Hal tersebut diperkuat dengan adanya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang cukup besar di kawasan Saronggi, yang menjadi pusat aktivitas ekonomi hasil laut masyarakat.
Sebagian besar masyarakat Desa Tanjung berprofesi sebagai nelayan. Kehidupan mereka sangat bergantung pada hasil laut yang diperoleh setiap hari. Meski demikian, penghasilan yang didapatkan para nelayan tidaklah semudah yang dibayangkan. Mereka harus berangkat sejak pagi dan pulang menjelang sore, bahkan tak jarang harus tinggal di laut selama beberapa hari apabila hasil tangkapan belum mencukupi untuk dibawa pulang. Semua itu tentu bergantung pada cuaca dan kondisi ombak yang sering kali tidak dapat diprediksi.
Dalam perjalanan sejarahnya, Desa Tanjung memiliki berbagai fakta dan nilai historis yang turut mendorong perkembangan masyarakatnya. Dahulu, desa ini termasuk salah satu wilayah dengan tingkat penghasilan terendah di Saronggi. Sumber daya alam yang dapat diandalkan oleh masyarakat setempat hanyalah hasil laut. Tidak ada pilihan lain selain mengarungi samudera setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup.
Setiap pagi, para penduduk Desa Tanjung, khususnya kaum laki-laki, memulai aktivitas mereka dengan melaut untuk mencari ikan. Sementara itu, para perempuan lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga. Setiap sore, ibu-ibu dan anak-anak kerap berdatangan ke pantai untuk menunggu kepulangan para suami dan ayah mereka, dengan harapan mendapatkan hasil tangkapan ikan yang melimpah agar dapat dijual ke pasar atau sekadar cukup untuk kebutuhan keluarga.
Namun, harapan tersebut sering kali tidak sejalan dengan kenyataan. Perasaan gelisah, resah, khawatir, dan sedih kerap menyelimuti keluarga nelayan setiap kali perahu para suami kembali ke daratan. Hasil tangkapan ikan sering kali sangat sedikit. Jangankan untuk dijual ke pasar, untuk lauk makan keluarga pun terasa jauh dari kata cukup. Padahal, para nelayan telah berangkat sejak pagi hingga sore menjelang magrib. Bahkan, ada pula yang tidak pulang lebih dari satu minggu, tetapi hasilnya tetap sama, nyaris tidak ada.
Melihat kondisi tersebut, suatu hari seorang warga lanjut usia menceritakan pengalaman aneh yang dialaminya kepada masyarakat Desa Tanjung. Ia mengaku pernah bermimpi didatangi oleh sekelompok orang yang menaiki kuda dan mengenakan pakaian seperti pada zaman kerajaan. Dalam mimpinya terdengar alunan musik Jawa yang membuatnya merasa takut. Yang paling menggetarkan hatinya adalah sosok seorang perempuan berparas cantik yang mengenakan busana layaknya putri kerajaan. Perempuan itu menaiki kereta kuda yang dihiasi emas, dikelilingi oleh para dayang yang tak kalah cantiknya. Namun, sorot mata tajam sang perempuan membuat kakek tua tersebut diliputi rasa takut yang mendalam.
Dalam mimpi itu, rombongan yang diyakini sebagai permaisuri atau ratu tersebut meminta agar masyarakat Desa Tanjung memberikan sesaji atau persembahan setiap menjelang bulan Suro. Sesaji tersebut harus dilarung ke laut agar para nelayan yang melaut diberi keselamatan dan hasil tangkapan ikan yang melimpah.
Cerita tersebut awalnya tidak dipercaya oleh salah satu tokoh masyarakat yang juga merupakan pemimpin Desa Tanjung saat itu. Karena pemimpin desa bersikap skeptis, sebagian besar masyarakat pun ikut tidak mempercayai kisah yang disampaikan oleh kakek tua tersebut. Akibatnya, cerita itu berlalu begitu saja tanpa ditindaklanjuti.
Karena tidak ada warga yang mempercayainya, kakek tua itu kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Namun sejak peristiwa tersebut, ia tidak lagi berani pergi atau mendekati pantai. Seolah ada rasa takut yang terus menghantuinya.
Keesokan harinya, petaka pun datang. Cuaca dan badai pada hari itu sangat tidak bersahabat untuk melaut. Meski demikian, beberapa nelayan tetap nekat berangkat ke tengah laut. Tidak lama setelah mereka berada di lautan, badai besar menerjang. Gemuruh ombak yang dahsyat menggulingkan dan menghancurkan perahu-perahu nelayan beserta seluruh isinya.
Peristiwa tersebut akhirnya membuka mata masyarakat Desa Tanjung. Mereka mulai mempercayai apa yang sebelumnya hanya dianggap sebagai cerita mimpi seorang kakek. Tidak ingin warganya terus terjebak dalam kesengsaraan, para pemimpin masyarakat kemudian meminta pendapat kepada kakek tua tersebut mengenai apa yang harus dilakukan agar musibah yang menimpa desa mereka dapat segera diatasi.
Belakangan diketahui bahwa kakek tua itu sebenarnya adalah seorang paranormal yang memiliki kemampuan spiritual tinggi pada masa mudanya. Namun, hanya sedikit warga yang mengetahui latar belakang kehidupannya tersebut. Dalam suatu perenungan spiritual, kakek tua itu mendapatkan petunjuk agar masyarakat Desa Tanjung melaksanakan sebuah ritual yang kemudian dikenal dengan sebutan petik laut.
Tujuan dari pelaksanaan petik laut adalah untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, khususnya bagi para nelayan yang melaut, serta sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan melalui laut. Sesuai dengan petunjuk dalam mimpinya, sesaji dilarung ke laut sebagai simbol persembahan dan doa.
Setelah tradisi petik laut mulai dilaksanakan, kehidupan perekonomian masyarakat Desa Tanjung perlahan mengalami perubahan. Hasil tangkapan nelayan meningkat secara signifikan. Penghasilan mereka pun membaik, sehingga masyarakat mampu membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan desa. Sejak saat itu, tradisi petik laut terus dikenang dan dilestarikan hingga kini sebagai warisan budaya, yang juga dikenal dengan istilah larung sesaji.
Tradisi dan budaya yang berkembang di Desa Tanjung tidak dapat dilepaskan dari kondisi alamnya yang didominasi oleh lautan luas Samudera Indonesia. Budaya nelayan menjadi identitas utama masyarakat Tanjung. Petik laut atau larung sesaji merupakan bentuk nyata interaksi manusia dengan alam semesta, khususnya laut, yang menyediakan sumber kehidupan berupa ikan dan kekayaan alam lainnya.
Kepercayaan masyarakat terhadap ketokohan kakek tua sebagai sosok yang memiliki kemampuan supranatural turut menguatkan keberlangsungan tradisi ini. Petik laut dilaksanakan setiap menjelang bulan Suro atau sekali dalam setahun. Ritual ini dilakukan dengan melarung sesaji ke laut sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia Sang Khalik yang telah memberikan sumber daya alam yang melimpah.
Kini, petik laut telah menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan menjelang bulan Suro atau Muharram. Tradisi ini tidak hanya dijalankan oleh masyarakat, tetapi juga difasilitasi oleh Pemerintah Desa Tanjung bersama Pemerintah Kabupaten Sumenep. Petik laut menjadi simbol pelestarian budaya, rasa syukur, dan harapan masyarakat nelayan Desa Tanjung agar laut senantiasa menjadi sahabat yang memberi kehidupan, bukan bencana.
Pilihan




