Hujan dan Seekor Kucing Pengirim Kisah
Cerpen: Ach. Fauzi (ACeHa KaeF)
Di suatu pagi yang paling subuh, langit temaram membersamai tumpahan derai gerimis hujan. Tampak sesosok pemuda, Randu, sedang dalam perjalanan ke tempat kerja. Dia seorang BloTeng --Jomblo Mateng. Dia diberkahi indera penglihatan yang awas akan varian paras cantik para gadis belia.
Mulai dari tipe melayu eksotis, asia, arab, persia, blasteran Sunda-Jerman hingga gadis India berhidung mancung; semisal Kajool. Menginjak usia seperempat abad, ia tak jua menunaikan sunnah Rasul, menikah alias berumah tangga. Sudah banyak anak gadis yang "disodorkan" bahkan "disuapkan" ke selera kelelakiannya, namun semua mentah ditampiknya dengan gelengan kepala. Randu seorang guru SD berstatus PNS lajang. Dia anak pak Haji Pandu, seorang 'blantik' sapi terpandang di kotanya.
Di pagi yang biasa itu, Randu mendapati sebuah kejadian yang tak biasa. Melintas tak jauh di depan jalan yang akan dilaluinya, seorang gadis, dengan tangan sebelah kiri memegang sepelepah daun pisang, sedang tangan kanan memungut sesuatu. Ternyata seekor anak kucing yang kebasahan; yang dapat dikata budukan dan perawakan cungkring.
Anak kucing itu tanpa ragu didekapnya, lalu dibawa ke salah satu pohon akasia yang tumbuh di tepi sepanjang jalan raya, di mana ada beberapa orang yang terlebih dahulu telah berteduh dari hujan. Dia menyaksikan kesempurnaan pekerti yang menggugah sisi kemanusiaannya.
Gadis itu merunduk meletakkan daun pisang di samping tempat ia berdiri, lalu mengalihkan dekapannya pada anak kucing di bahu tangan kiri, mengelap bulu kuyup anak kucing dengan ujung jilbabnya yang lebar menutupi sebagian besar badannya.
Randu tidak serta-merta melepaskan pandangannya. Dalam benaknya, jika untuk seekor anak kucing yang nggak banget dia mau peduli, apalagi ..., pikirnya. Lantas Randu mengarahkan motornya ke pohon yang sama, di mana si gadis berada, pohon akasia.
"Lho, kok nggak terus, Den? Kan pake jas hujan!" suara seorang kakek menegur di antara himpunan orang yang saling mengamankan diri dari deraan air hujan.
"Anu ..., Kek. Takut sama bunyi geledek!" kilah Randu salah tingkah sambil sudut matanya mencuri pandang pada gadis yang tepat di sampingnya.
Mata itu bersitatap. Ough! Telak! Baru kali ini jantung Randu mengalami loncatan degup yang maha hebat. Darah sebadan berdesir kencang serasa ada lokomotif yang meluncur cepat di seluruh pembuluh darah pada seluruh anatomi tubuhnya hingga ke tingkat seluler.
Baru kali ini, Randu serasa menjadi manusia super. Semisal Superman yang bisa melambungkan asa kemuskilan 'tuk terbang, Batman yang menyibak dunia misterius di gelapnya hati, Spiderman yang mampu memanjat ketinggian angan dan impian akan kenyataan, atau bisa jadi, Popeye si pelaut yang perkasa dengan bayamnya untuk mempesona nona Olive Oil. Sensasi ini melebihi romantisme Romeo-Juliet -nya William Shakespeare, Qais-Laila si Majnun, bahkan cinta suci Ainun-Habibi, pun kepolosan Si Kabayan dengan Nyi Iteung.
Lalu, wajah itu. Wajah itu begitu membius Randu. Mungkin beginilah rasanya sakau karena pandangan pertama. Paras ayu di balik jlbab biru. Alis mata sepenggal sabit, hidung "bangir" nongkrong di atas bibir delima merekah, serta dekik di pipi langsat mangir. Cewek-cewek seputar Randu selama ini, semua mah apa atuh! --Cie-cie, kalo lagi demen, dia mah gitu orangnya!
Hujan telah reda, dan si gadis melenggang pergi bersama anak kucing, yang begitu sangat beruntung, didekap dan diperhatikan. Pandu berasa ada ketidaksempurnaan di dalam diri dan harinya. Kehampanya Randu membuatnya bertekad mengulik dan mengorek informasi. Tentang gadis dengan seekor anak kucing.
***
"Tidak!" jawab Jihan tegas sambil mengelus kucing kelabu juga coklat bekas luka tanpa bulu karena budukan.
"Apakah aku tidak masuk kriteria lelaki idamanmu untuk seorang suami?" tanya Randu mencari jawaban.
"Menurutmu?" Teduh sorot mata itu masih tidak berubah, masih seperti sedia kala pertama bertemu.
"Masuk!"
"Bagaimana sebuah hubungan suci harus diikat, jika diawali dengan muslihat dan kebohongan niat?"
"Maksudmu?"
"Pikirlah sendiri. Bukankah engkau sarjana tercerdas!"
Randu merenung, berpikir sejenak. memang, untuk mendapatkan informasi tentang gadis yang ditemuinya tempo hari, ia sempat mendramatisir keadaan. Dia bilang mencari anak kucingnya yang hilang. Dari sanalah dia mendapatkan informasi tentang nama dan domisili sang gadis pujaan hati. Jihan, anak gadis pak penghulu sekaligus sesepuh desa sebelah.
"Perihal itu, aku memang merasa berlebihan. Lantas, dapatkah kamu menunjukkan adakah cara lain bagaimanakah aku bisa mengenalmu?"
"Ah, ngeles!" Bibirnya manyun.
Pembicaraan sore hari ini, terasa gigil dan tidak ada titik temu kesepakatan. Satunya keukeh dengan tujuannya, mempersunting sang gadis untuk menjadi isterinya dan di lain pihak mencari momentum atas berbagai pernyataan untuk meyakinkan dirinya.
"Apa motifnya kauberani melamarku?"
"Tidak ada alasan lagi bagiku untuk terus membujang dan tidak melaksanakan tuntunan rasul untuk menikah. Dan aku rasa, engkaulah wanita yang tepat untuk menemaniku."
"Artinya, Kamu memaksakan diri! 'Dan aku rasa?' Nikah kok untuk coba-coba!"
"maksudku ...."
"Ah, sudahlah, jawaban klise!" Jihan mengibaskan telapak tangannya.
Randu tertegun. Terpaku diam seribu bahasa. Hanya gestur tubuhnya yang menandakan bahwa dia sedang gelisah hebat.
"Sekarang, terangkan tentang dirimu padaku!"
Randu merasa diinterogasi, disudutkan dan seolah menjadi seorang pesakitan. Tak lama kemudian, dia mulai mengungkapkan seputar identitas dirinya, pendidikannya yang jebolan universitas ternama. Perihal pekerjaannya, dan tak lupa tentang keluarga serta kerabatnya.
"Kamu jumawa dan narsis! Apa yang kamu ungkapkan tidak berimbang. Aku tidak terlalu tertarik dengan materi dan jaminan masa depan, apalagi prestise. Tapi ... kamu orangnya polos."
"Terserah apa maumu! Aku jadi serba salah."
"Apakah kamu telah benar mengenalku sangat-sangat?"
"Tidak!"
"Lantas! Bagaimana jika tak sekabar pun yang kamu terima, bisa meneguhkan hatimu untuk menikahiku?"
"Bagiku, untuk mengenalmu cukup butuh hanya satu kejadian kebaikan belaka."
"Apa itu?"
"Apa yang ada di pangkuanmu itulah persaksiannya."
"Jelaskan!"
"Bukankah engkau yang telah memungutnya yang sebatang kara saat hujan deras mendera. Buatku, satu kebaikan, satu kepedulian darimu, adalah cerminan lebih dari jiwa dan kepribadianmu yang besar dan agung. Selain wajah ayu nan menawan."
Mendengar akan hal itu, si gadis tersipu, terlihat dari pipinya yang merona memerah dan sedetik senyum bibirnya.
Suara puji-pujian dan dzikir berkumandang dari TOA masjid sebelah rumah Jihan. Menandakan bahwa menjelang tiba waktu sholat Magrib.
"Kita sudahi pembicaraan ini. Maaf, aku tidak yakin kali ini."
Dengan mengucap salam, sebagai respon pernyataan Jihan disertai dengan anggukan. Randu melangkahkan kaki keluar dari beranda depan rumah Jihan, tempat percakapan yang telah berlangsung. Petang menyuguhkan sinar keemasan tanpa sekumpulan burung yang pulang sarang di awan yang tak lelah berarak dan menghuni langit biru.
***
Ada nuansa berbeda pada sholat Magrib berjamaah kali ini, terutama bagi Jihan selaku makmum. Bacaan sholat Jahr --yang dinyaringkan-- begitu tartil, tepat makhrojul hurufnya. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an-nya sangatlah khusuk, patut untuk dinikmati dan diresapi maknanya. Subhanallah, hanya kata itulah yang ada di batin Jihan. Menurutnya, ---Sang Imam--- bukan sekedar fasih membaca, tapi juga hafidz Al-Qur'an, fainsya Allah.
Selepas sholat Magrib, sang imam disongsong oleh seorang lelaki paruh baya di selasar masjid. Memakai gamis dan sorban, berikut peci putih.
"Boleh minta waktunya sebentar, Nak? Mari kita duduk berbincang sejenak!"
Sang imam pun menghentikan langkahnya. Keduanya duduk di salah satu pilar sisi timur masjid.
"Perkenalkan, saya ayahnya Jihan." Sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Nampak di belakangnya, Jihan yang masih memakai mukena.
"Oh, Abah!" sahut Randu sang imam jadi salah tingkah.
"Sebenarnya saya telah mengetahui maksud kedatangan Ananda sedari sore tadi. Juga semua percakapan kalian di beranda depan rumah. Maaf, jika Abah bermaksud menguping dari ruang sebelah."
"Ya, justru saya yang seharusnya dan wajib meminta maaf, karena memaksa Dik Jihan berkhalwat, berduaan."
"Masih yakin dengan niatannya?" seru Jihan menyela.
"Sedianya diperkenankan. Namun, apalah aku ini, Dik. yang tidak mau jujur dengan nurani dan berdamai dengan kenyataan bahwa yang kuimpikan adalah Kejora benderang di angkasa luas. Bahkan rembulan pun enggan untuk berpelita di pekatnya malam."
"Jangan lebay, ah! Sok romantis segala."
"Lho, kata pepatah, Jika seseorang dilanda asmara, dia bisa menjadi mendadak pujangga." sahut Randu sambil tersenyum simpul.
"Huh, nama aja nggak jelas gitu. Randu, tempat para demit tinggal. Iiiih, amit-amit!"
"Udah-udah, ini kagak bakalan kelar urusannya. kalian itu, sukanya eyel-eyelan aja." Abah mencoba menengahi.
"Saya pamit dulu, Abah. Terima kasih sebelumnya. dan saya minta maaf jika ada salah kata dan sikap. Hal-hal yang mengganggu dan tidak sepantasnya." kata Randu sambil meraih tangan Abah untuk berpamitan.
"Silahkan! Tapi wajib balik lagi, bersama orang tuamu ke sini lho!"
"Untuk apa, Abah?" Ada rasa girang menyelinap di benaknya.
"Ya untuk melamar sekaligus nentuin hari baik untuk pernikahan kalian dong! Gimana kamu ini? Nggak mau tah?"
"Jadijadijadi, Abah." Kegembiraan itu pun sampai pada puncaknya tumpah-ruah.
"Secepatnya!"
"Baiklah, Abah. Akan saya sampaikan kabar gembira ini pada kedua orang tua saya!"
Kedua pasang mata itu pun kembali bersitatap. kali ini, bukan hanya sekedar lokomotif yang beredar, juga berikut gerbong-gerbongnya yang sarat muatan untuk meramaikan langit impian dan harapan mereka berdua.
Kita memang tidak mengetahui siapa jodoh kita kelak. Apakah jauh-dekat? Kapan dan di mana dipertemukan? Cantik atau tampan? Semua sepenuhnya rahasia Tuhan. Namun, dengan mengupayakan sebuah kebaikan, sebuah keniscayaan bisa menjadi jalan harapan. Sedianya kita mematutkan diri dengan hal yang baik.
Kita tidak tahu, satu kebaikan yang kita lakukan bisa menjadi pembuka jodoh dan penyemai sejuta keberuntungan kebaikan lainnya.
Pilihan





