Ketika Adab Meja Makan Hilang: Cermin Sikap dan Harga Diri dalam Rumah Tangga
Sebuah tayangan video dibawah memperlihatkan perilaku seorang istri yang mencuci tangan di piring suaminya dan memukul kepala sang suami di tempat umum. Tulisan ini mengajak kita merenungkan kembali pentingnya adab, rasa hormat, dan suasana batin saat makan bersama—baik di ruang publik maupun di rumah—agar kebersamaan menjadi sumber kenyamanan, bukan penghinaan.
Di media sosial beredar sebuah video yang memantik perhatian dan perbincangan. Dalam tayangan tersebut terlihat sepasang suami istri tengah makan bersama di sebuah tempat makan. Awalnya tampak seperti kebersamaan biasa—dua orang duduk satu meja, menikmati hidangan yang tersaji. Namun suasana berubah ketika sang istri lebih dulu menghabiskan makanannya.
Alih-alih menunggu atau mengambil tisu, ia justru mencuci tangannya di piring suaminya yang masih berisi makanan. Tidak berhenti di situ, dalam suasana yang masih dipenuhi pengunjung lain, ia juga tampak memukul kepala suaminya tanpa rasa canggung atau sungkan.
Adegan itu mungkin dianggap sebagian orang sebagai candaan. Mungkin pula ada yang melihatnya sebagai hal sepele. Namun jika dicermati lebih dalam, tindakan tersebut menyimpan pesan yang jauh lebih besar tentang adab, penghormatan, dan kualitas relasi dalam rumah tangga.
Meja Makan Bukan Sekadar Tempat Makan
Meja makan bukan hanya tempat mengisi perut. Ia adalah ruang perjumpaan. Di sanalah percakapan ringan terjadi, keluh kesah dibagikan, dan kebersamaan dirayakan. Dalam budaya mana pun, makan bersama memiliki nilai simbolik: penghormatan terhadap rezeki, penghargaan terhadap sesama, dan pengakuan atas kebersamaan.
Ketika seseorang mencuci tangan di piring orang lain yang masih digunakan, terlebih pasangan hidupnya sendiri, tindakan itu bukan sekadar persoalan kebersihan. Ia mencerminkan pengabaian terhadap batas pribadi, ketidakpedulian terhadap kenyamanan orang lain, dan hilangnya rasa hormat.
Apalagi dilakukan di ruang publik, di hadapan banyak mata. Suami yang menjadi objek perlakuan itu mungkin memilih diam. Namun diam bukan selalu berarti rela. Bisa jadi itu bentuk menahan diri, menjaga suasana, atau menghindari konflik yang lebih besar di hadapan orang banyak.
Candaan yang Melukai Harga Diri
Sebagian orang sering berlindung di balik dalih “hanya bercanda.” Namun tidak semua candaan pantas dilakukan, apalagi yang berpotensi merendahkan. Memukul kepala pasangan di depan umum, sekecil apa pun, tetaplah bentuk tindakan yang tidak patut.
Dalam relasi suami istri, penghormatan adalah fondasi. Tanpa penghormatan, cinta akan perlahan kehilangan makna. Ketika salah satu pihak merasa direndahkan, meski di ruang publik yang terlihat santai, harga diri bisa tergores. Dan luka harga diri sering kali tidak tampak, tetapi membekas.
Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang penuh dominasi atau penghinaan terselubung. Ia adalah relasi yang saling menjaga martabat, baik saat berdua maupun di hadapan orang lain.
Adab Makan: Sederhana tapi Bermakna
Seharusnya bagaimana ketika makan bersama, baik di tempat terbuka maupun di rumah?
Pertama, saling menunggu dan menghargai ritme makan pasangan. Jika satu telah selesai lebih dulu, ia dapat menunggu dengan tenang, berbincang ringan, atau membantu merapikan bagian miliknya sendiri tanpa mengganggu yang lain.
Kedua, menjaga kebersihan dengan cara yang pantas. Gunakan tempat cuci tangan yang tersedia atau tisu yang disediakan. Piring orang lain bukan tempat membersihkan diri. Tindakan sederhana seperti ini menunjukkan kesadaran batas dan rasa hormat.
Ketiga, hindari tindakan fisik yang merendahkan, meskipun dianggap bercanda. Sentuhan dalam rumah tangga seharusnya menghadirkan kehangatan, bukan mempermalukan. Publik bukan tempat mempertontonkan perilaku yang dapat menjatuhkan pasangan.
Keempat, bangun komunikasi yang lembut. Jika ada hal yang mengganjal, bicarakan dengan baik. Meja makan adalah ruang dialog, bukan arena menunjukkan kekuasaan.
Makan Bersama, Membangun Suasana Batin
Suasana makan yang nyaman tidak lahir dari kemewahan hidangan, tetapi dari kualitas interaksi. Sepiring nasi sederhana bisa terasa nikmat jika disantap dengan rasa saling menghargai. Sebaliknya, makanan mahal pun terasa hambar jika diwarnai sikap meremehkan.
Di rumah, meja makan adalah tempat anak-anak belajar. Mereka mengamati bagaimana ayah dan ibu saling memperlakukan. Jika yang terlihat adalah saling menghormati, anak akan menyerap nilai itu. Jika yang terlihat adalah penghinaan dan candaan yang merendahkan, maka itulah yang terekam dalam benaknya sebagai hal biasa.
Di tempat umum, perilaku pasangan mencerminkan kualitas pribadi. Orang lain mungkin tidak mengenal latar belakang kita, tetapi dari sikap sederhana mereka dapat menilai kedewasaan dan etika.
Refleksi: Lebih dari Sekadar Video
Video tersebut bukan sekadar potongan adegan viral. Ia adalah cermin kecil dari realitas yang mungkin juga terjadi di banyak tempat—ketika rasa hormat mulai dianggap remeh, ketika candaan melampaui batas, dan ketika adab perlahan memudar.
Tidak perlu menghakimi berlebihan. Namun perlu ada refleksi. Setiap pasangan tentu memiliki dinamika masing-masing. Tetapi prinsip dasar dalam hubungan tetap sama: saling menjaga martabat.
Menghormati pasangan bukan soal siapa yang lebih tinggi atau lebih berkuasa. Ia adalah pengakuan bahwa di hadapan kita ada manusia yang memiliki perasaan dan harga diri.
Makan bersama seharusnya menjadi momen istirahat dari kerasnya dunia luar. Sebuah ruang kecil untuk menikmati rezeki dengan hati tenang. Jika di meja makan saja rasa hormat tidak terjaga, maka di mana lagi ia akan tumbuh?
Pada akhirnya, adab adalah cerminan kualitas jiwa. Dan jiwa yang baik akan selalu memilih untuk memuliakan, bukan merendahkan—baik di ruang privat maupun di hadapan publik.
(Redaksi: Tulisan dan video dihimpun dari sumber online)
Pilihan




