Ketika Kebodohan Berkuasa: Awal dari Sebuah Kehancuran
Kekuasaan adalah amanah yang menuntut kebijaksanaan, kejernihan berpikir, dan kerendahan hati. Namun ketika ia jatuh ke tangan yang tak cakap, dampaknya bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan kerusakan yang meluas. Tulisan ini adalah refleksi tentang bahaya kebodohan yang diberi panggung kekuasaan, sekaligus ajakan agar rakyat lebih bijak dalam menentukan arah bangsanya.
Orang bodoh ketika berkuasa ibarat menaruh senjata di tangan anak kecil—berbahaya, tak terarah, dan berpotensi melukai semua orang, termasuk dirinya sendiri. Kekuasaan di tangan orang yang tidak cerdas bukan hanya melahirkan kebijakan ngawur, tetapi juga mematikan masa depan bangsa. Sebab kebodohan tidak pernah berjalan sendirian; ia selalu ditemani keserakahan, kebanggaan palsu, dan arogansi buta.
Orang cerdas yang serakah setidaknya masih menggunakan logika dalam merampas. Ada kalkulasi, ada strategi, bahkan ada batas. Namun orang bodoh yang berkuasa merampas tanpa perhitungan, merusak tanpa sadar, dan menghancurkan dengan keyakinan penuh bahwa tindakannya adalah kebenaran. Ia tak menyadari bahwa setiap keputusan keliru adalah luka yang menumpuk pada tubuh bangsa.
Kebodohan yang diselimuti kekuasaan berubah menjadi tirani. Ia lebih ganas dari korupsi biasa, lebih brutal dari keserakahan semata. Koruptor mungkin tahu bahwa ia bersalah. Tetapi orang bodoh dalam kekuasaan merasa dirinya pahlawan, merasa paling berjasa, merasa sedang menyelamatkan keadaan. Di situlah letak bahayanya: kehancuran yang dilakukan dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Bangsa yang menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada orang-orang yang tak cakap sejatinya sedang menggali kuburnya sendiri. Negara berubah menjadi laboratorium uji coba kebijakan serampangan. Rakyat dijadikan kelinci percobaan. Kesalahan demi kesalahan ditambal dengan pencitraan. Kegagalan disulap menjadi klaim keberhasilan. Realitas ditutup oleh narasi kosong.
Yang lebih parah, orang bodoh dalam jabatan tinggi hampir tak pernah merasa dirinya bodoh. Ia alergi terhadap kritik, curiga terhadap nasihat, dan memusuhi kebenaran. Ia menutup telinga dari suara rakyat, menutup mata dari data dan fakta, serta menutup hati dari jeritan mereka yang terdampak. Negara pun pelan-pelan berubah menjadi panggung sandiwara—di mana yang dipertontonkan bukan solusi, melainkan ilusi.
Sejarah banyak mencatat runtuhnya peradaban bukan semata karena serangan musuh dari luar, melainkan karena pembusukan dari dalam. Ketika kebodohan dibiarkan memimpin, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu. Fondasi hukum melemah, ekonomi tersendat, pendidikan merosot, dan kepercayaan publik terkikis. Semua terjadi perlahan, namun pasti.
Kebodohan yang berkuasa jauh lebih berbahaya daripada seribu koruptor. Korupsi merusak harta, tetapi kebodohan merusak arah. Korupsi mungkin bisa diperbaiki dengan penegakan hukum, namun kebodohan yang sistemik menghancurkan cara berpikir dan budaya bangsa. Ia merusak dari akar hingga pucuk, dari generasi kini hingga generasi mendatang.
Negeri akan terus terseret ke jurang jika rakyat membiarkan orang-orang tak cakap duduk di singgasana. Demokrasi bukan sekadar hak memilih, melainkan tanggung jawab memilih dengan sadar.
Nasihat untuk Rakyat
Jangan lagi menyerahkan nasib bangsa kepada kebodohan yang berwajah manis.
Jangan tertipu oleh retorika yang memukau tetapi kosong isi.
Gunakan akal sehat. Buka mata lebar-lebar. Periksa rekam jejak, bukan sekadar janji.
Jangan mudah terbuai oleh slogan murahan yang dirancang untuk menyentuh emosi sesaat.
Pilihlah pemimpin dengan pikiran jernih, bukan dengan amarah atau fanatisme.
Pilihlah mereka yang mau belajar, mau mendengar, dan mau dikoreksi.
Karena masa depan bangsa bukan ditentukan oleh siapa yang paling lantang berbicara, melainkan oleh siapa yang paling bijak mengambil keputusan.
Pada akhirnya, kualitas pemimpin adalah cermin kualitas pilihan rakyatnya. Jika kita ingin negeri ini tumbuh kuat dan bermartabat, maka mulailah dengan keberanian untuk memilih dengan waras.
(Sudirman Aka)Pilihan





