Takut Turun dari Kursi, Lupa Berdiri sebagai Manusia
Artikel ini mengulas secara naratif dan reflektif mengapa banyak orang lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan harga diri. Melalui pembacaan realitas sosial dan dunia kerja, tulisan ini mengajak pembaca merenungkan makna status, gengsi, dan nilai diri—serta kegelisahan manusia modern yang sering terjebak pada pengakuan luar, namun abai pada kehormatan batin.
Ada satu ketakutan yang jarang diucapkan dengan jujur, tetapi hidup subur di banyak kepala manusia dewasa: takut kehilangan jabatan. Bukan sekadar kehilangan pekerjaan, melainkan kehilangan posisi, titel, kursi, dan semua yang menyertainya—sapaan hormat, undangan resmi, akses istimewa, dan perasaan “dianggap penting”. Ketakutan ini sering kali jauh lebih besar daripada rasa takut kehilangan harga diri. Padahal, jika dipikirkan dengan tenang, harga diri adalah fondasi, sementara jabatan hanyalah bangunan sementara di atasnya.
Mengapa bisa demikian? Karena jabatan itu terlihat. Ia punya nama, ruang, tanda pengenal, dan simbol-simbol yang bisa dipamerkan. Orang tahu siapa kita dari kartu nama, dari papan di depan kantor, dari posisi duduk dalam sebuah rapat. Sementara harga diri bekerja dalam diam. Ia tidak selalu tampak, tidak selalu dibicarakan, dan sering kali dianggap urusan pribadi yang bisa disembunyikan atau dinegosiasikan. Selama orang lain masih menghormati kita, selama sistem masih memberi kita tempat, seolah harga diri bukan hal yang mendesak untuk dipertahankan.
Masalahnya muncul ketika jabatan itu hilang.
Begitu kursi ditarik, panggung menghilang. Tidak ada lagi yang menyapa dengan nada khusus. Telepon yang dulu ramai mendadak sepi. Pendapat yang sebelumnya ditunggu kini hanya menjadi suara biasa—atau bahkan tidak didengar sama sekali. Undangan makan malam berhenti datang. Orang-orang yang dulu rajin tersenyum mulai berlalu begitu saja. Di titik inilah banyak orang tersadar bahwa yang mereka miliki selama ini bukanlah pengaruh, melainkan posisi; bukan wibawa, melainkan fasilitas.
Dan justru di saat itulah harga diri diuji dengan paling telanjang.
Di dunia kerja, terutama dalam struktur yang hierarkis dan penuh kompetisi, jabatan sering berubah menjadi mata uang utama. Ia menentukan siapa yang berhak bicara, siapa yang harus diam, siapa yang boleh marah, dan siapa yang wajib menunduk. Tidak mengherankan jika banyak orang rela menelan ludah pahit, menundukkan kepala, bahkan mengkhianati prinsip demi satu hal: kursinya aman.
Di sini, garis antara tanggung jawab dan gengsi mulai kabur.
Awalnya, jabatan diperjuangkan atas nama amanah. Ada visi, ada misi, ada keinginan untuk berbuat. Namun seiring waktu, yang dipertahankan bukan lagi kerja, melainkan simbolnya. Bukan lagi kontribusi, melainkan pengakuan. Jabatan berubah fungsi: dari alat untuk bekerja menjadi tameng untuk mempertahankan identitas. Selama masih menjabat, seseorang merasa “ada”. Begitu tidak, ia merasa menghilang.
Ironisnya, dalam proses mempertahankan jabatan itu, banyak orang justru perlahan kehilangan rasa hormat pada dirinya sendiri. Mereka tahu ada yang salah, tetapi memilih diam. Mereka paham ada ketidakadilan, tetapi ikut menormalisasi. Mereka menyadari nilai-nilai yang dulu diyakini mulai dilanggar, tetapi berkata pada diri sendiri, “Nanti saja, yang penting sekarang aman.”
Di titik ini, harga diri tidak hilang sekaligus. Ia terkikis pelan-pelan.
Setiap kompromi kecil yang bertentangan dengan nurani meninggalkan jejak. Setiap kebohongan yang dibenarkan atas nama jabatan menambah beban batin. Sampai suatu hari, seseorang bangun dan merasa asing dengan dirinya sendiri. Ia masih duduk di kursi yang sama, masih disapa dengan gelar yang sama, tetapi ada kehampaan yang sulit dijelaskan. Hormat dari luar tetap ada, namun hormat dari dalam mulai runtuh.
Lucunya, banyak orang baru menyadari betapa mahalnya harga diri ketika semuanya sudah terlanjur jauh.
Masyarakat juga ikut andil dalam membesarkan ketakutan ini. Kita sering menilai orang dari posisinya: “Sekarang dia apa?” Kita bertanya tentang jabatan sebelum bertanya tentang nilai. Kita memberi respek pada titel, bukan pada integritas. Akibatnya, kehilangan jabatan terasa seperti kehilangan identitas sosial. Orang tidak lagi dilihat sebagai pribadi, melainkan sebagai “mantan”.
Dalam budaya seperti ini, tidak mengherankan jika jabatan dipertahankan mati-matian. Ia bukan hanya soal pekerjaan, tapi soal eksistensi. Tanpa jabatan, seseorang khawatir tak lagi punya tempat, tak lagi dianggap, tak lagi dihitung. Padahal, persoalan sebenarnya bukan pada hilangnya kursi, melainkan pada rapuhnya fondasi harga diri yang sejak awal terlalu bergantung pada pengakuan luar.
Harga diri yang sehat seharusnya tidak runtuh hanya karena papan nama dilepas.
Orang yang punya harga diri tahu bahwa nilainya tidak ditentukan oleh struktur organisasi. Ia bisa bekerja dengan hormat, dan juga berhenti dengan hormat. Ia bisa memimpin tanpa merendahkan, dan bisa mundur tanpa merasa hina. Ketika jabatan datang, ia menerimanya sebagai amanah. Ketika jabatan pergi, ia melepasnya sebagai fase.
Sebaliknya, orang yang menggantungkan harga dirinya pada jabatan akan selalu gelisah. Ia takut tersingkir, takut dilupakan, takut tidak relevan. Bahkan saat masih berkuasa, hidupnya dipenuhi kecemasan. Ia menjaga citra lebih dari menjaga nurani. Ia sibuk mempertahankan posisi, sampai lupa bertanya: apakah aku masih menghargai diriku sendiri?
Di sinilah perbedaan antara kehormatan dan kehormatan semu menjadi jelas.
Jabatan memang bisa menambah hormat dari luar. Orang berdiri ketika kita masuk, mendengarkan ketika kita bicara, dan mencatat ketika kita memberi arahan. Namun harga diri menentukan seberapa kita dihormati dari dalam. Ia menentukan apakah kita bisa tidur nyenyak tanpa merasa bersalah, apakah kita bisa bercermin tanpa menghindar dari tatapan sendiri, apakah kita bisa berkata “cukup” ketika sesuatu sudah melampaui batas nilai.
Pensiun dengan jabatan mungkin membuat seseorang kehilangan rutinitas, tetapi pensiun dengan harga diri memungkinkan seseorang hidup dengan tenang. Sebaliknya, mempertahankan jabatan dengan mengorbankan harga diri hanya akan melahirkan kegelisahan panjang—bahkan setelah kursi itu akhirnya benar-benar hilang.
Pada akhirnya, jabatan memang bisa datang dan pergi. Ia tergantung pada sistem, politik, usia, dan situasi. Tetapi harga diri, begitu hilang, tidak mudah dikembalikan. Ia membutuhkan keberanian untuk jujur, kesiapan untuk menanggung konsekuensi, dan kesediaan untuk berdiri sebagai manusia utuh—bukan sekadar pemegang posisi.
Pertanyaan “mengapa orang lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan harga diri?” sesungguhnya adalah cermin. Ia mengajak kita menilai ulang apa yang selama ini kita kejar. Apakah kita bekerja untuk nilai, atau untuk gengsi? Apakah kita bertahan demi tanggung jawab, atau demi status? Apakah kita ingin dihormati orang lain, atau masih mampu menghormati diri sendiri?
Karena pada akhirnya, ketika semua atribut dilepas, ketika panggung ditutup, dan ketika nama di papan kantor dihapus, yang tersisa hanyalah satu hal: bagaimana kita berdiri sebagai manusia. Dan di titik itulah, harga diri bukan lagi pilihan—melainkan penentu.
(Redaksi, dari beberapa sumber)Pilihan





