Tengka: Antara Tradisi yang Mengikat dan Beban yang Memberatkan di Tanah Madura
![]() |
| Salah satu satu tradisi pengantin sunat juga masuk dalam trasisi tengka |
Di setiap sudut desa dan kota di Madura, nama "tengka" tidaklah asing di telinga masyarakat. Sejak zaman dahulu, konsep etika sosial yang satu ini telah menjadi tulang punggung kehidupan bermasyarakat di tanah yang dikenal dengan keberanian dan kesetiaannya itu. Tengka mengajarkan tentang tingkah laku yang baik, sikap andhap asor (rendah hati), dan penghormatan yang tulus kepada sesama, khususnya kepada orang yang lebih tua dan pihak yang berwenang. Ia berperan sebagai kompas yang mengatur interaksi sosial, menjaga tali silaturrahmi, dan melestarikan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, seiring berjalannya waktu dan perubahan dinamika kehidupan masyarakat, tengka yang semula menjadi jembatan pemersatu kini tengah menghadapi ujian. Bagi sebagian orang, terutama kalangan muda dan mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi, tengka justru berubah menjadi beban yang sulit ditanggung – sebuah kewajiban yang mengharuskan mereka memberikan sesuatu secara finansial atau barang, bahkan ketika kondisi tidak memungkinkan.
Akibatnya, tidak sedikit di antara mereka yang mulai menolak menganggap tengka sebagai kewajiban, meskipun masih menghargainya sebagai bagian dari identitas budaya Madura. Narasi ini akan mengikuti perjalanan pengalaman masyarakat Madura dalam menghadapi kontradiksi antara nilai-nilai tradisional dan realitas kehidupan modern, serta bagaimana mereka berusaha menemukan titik temu yang tepat untuk menjaga keutuhan budaya tanpa harus menyakiti diri sendiri.
Di sebuah dusun kecil di kecamatan Pamekasan, tepat di tengah hamparan lahan pertanian yang menjulang hijau di bawah panas matahari Madura, Pak Soleh duduk di teras rumahnya sambil merokok kretek yang asapnya melayang perlahan ke udara. Tangannya yang keriput mengusap pipinya yang berkulit gelap akibat paparan sinar matahari sepanjang hari, sambil mata memandang jauh ke arah jalan desa yang sedang ramai dengan aktivitas masyarakat. Hari itu, ada acara khitanan di rumah keponakannya yang tinggal tiga rumah di sebelah barat.
“Sudah siapkah yang akan kita bawa sebagai tengka, Bu Siti?” tanya Pak Soleh kepada istrinya yang sedang menyusun bungkusan berisi beras, telur, dan beberapa bungkus gula di atas meja kayu yang sudah lapuk akibat usia.
“Sudah, mas,” jawab Bu Siti sambil menekukkan bibir. “Tapi aku khawatir, uang yang kita siapkan untuk beli sembako bulan depan akan sedikit terpotong. Harga beras lagi naik, dan anak kita yang sedang kuliah di Surabaya juga akan segera minta uang saku.”
Pak Soleh menghela napas panjang. Ia tahu betul kesulitan yang dihadapi keluarganya. Sebagai seorang petani jagung yang hasil panennya tidak selalu menentu, penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Namun, ketika ada acara penting di lingkungan keluarga atau masyarakat – baik itu khitanan, pernikahan, kematian, atau bahkan acara adat tahunan – memberikan tengka adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.
“Kita harus tetap berikan, Bu,” ujar Pak Soleh dengan nada yang tegas namun penuh kesusahan. “Ini adalah tengka, tanda kita menghargai keluarga dan masyarakat. Kalau kita tidak berikan, apa yang akan orang katakan? Mereka akan bilang kita tidak tahu sopan santun, tidak menghargai tradisi.”
Begitulah cara tengka telah hidup dalam kehidupan masyarakat Madura selama puluhan tahun. Konsep yang berasal dari akar budaya yang dalam ini tidak hanya sekadar memberikan sesuatu secara fisik, melainkan juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Tengka mengajarkan tentang rasa tanggung jawab sosial, empati terhadap sesama yang sedang mengalami suka atau duka, dan pentingnya menjaga hubungan baik antar anggota masyarakat.
Ketika ada keluarga yang merayakan acara bahagia seperti pernikahan atau khitanan, tengka yang diberikan oleh tetangga dan kerabat menjadi bentuk dukungan dan kebahagiaan yang dibagikan bersama. Sedangkan ketika ada keluarga yang mengalami musibah seperti kematian, tengka menjadi bentuk dukungan materi dan emosional yang menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi kesusahan.
Selain itu, tengka juga menjadi sarana untuk mengajarkan sikap andhap asor kepada generasi muda. Anak-anak diajarkan untuk selalu menghormati orang yang lebih tua, tidak menunjukkan kesombongan, dan selalu bersedia membantu sesama. Dalam acara adat, mereka diajarkan untuk tidak mencuri perhatian sendiri, melainkan lebih fokus pada bagaimana dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Misalnya, ketika ada acara resepsi pernikahan, anak-anak diajarkan untuk membantu menyajikan makanan kepada tamu yang lebih tua, bukan langsung mengambil makanan untuk diri mereka sendiri. Sikap seperti ini dianggap sebagai bagian penting dari tengka yang harus ditanamkan sejak dini agar mereka tumbuh menjadi orang yang memiliki akhlak baik dan bisa hidup rukun dengan sesama.
Namun, tidak semua cerita tentang tengka selalu penuh kehangatan dan kebersamaan. Di sebuah kota kecil di Kabupaten Bangkalan, Rina – seorang perempuan muda berusia 25 tahun yang baru saja menyelesaikan studi dan bekerja sebagai karyawan swasta dengan gaji yang tidak terlalu besar – sedang menghadapi dilema yang membuatnya bingung. Beberapa hari yang lalu, ia menerima undangan dari kerabat jauhnya yang akan menikahkan anaknya. Sebagai bagian dari tradisi, ia diharapkan memberikan tengka dalam bentuk uang atau barang berharga.
“Padahal gajiku baru saja aku gunakan untuk membayar cicilan motor dan membeli perlengkapan kantor,” keluh Rina kepada temannya, Siti, saat mereka sedang bersantai di sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan. “Aku sangat menghargai tradisi tengka, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini? Seolah-olah besar kecilnya tengka yang diberikan menjadi ukuran seberapa kita menghargai orang lain. Kalau aku hanya bisa memberikan sedikit, aku takut dianggap tidak sopan atau bahkan sombong.”
Rina bukanlah satu-satunya orang muda di Madura yang merasakan hal seperti ini. Banyak di antara kalangan muda yang mulai menolak menganggap tengka sebagai kewajiban yang harus dipenuhi dengan cara tertentu. Menurut mereka, makna asli dari tengka – yaitu sikap sopan santun dan penghormatan kepada sesama – seharusnya tidak terikat pada besar kecilnya hadiah yang diberikan. Mereka berpendapat bahwa tengka seharusnya menjadi bentuk ekspresi hati yang tulus, bukan sebuah kewajiban yang membuat orang tertekan secara finansial.
“Kita masih bisa menunjukkan rasa hormat tanpa harus memberikan uang atau barang mahal,” ujar Amir, seorang pemuda berusia 27 tahun yang bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah dasar swasta. “Misalnya, dengan membantu mengatur acara, memberikan dukungan emosional, atau hanya datang dan berbagi momen bahagia bersama keluarga yang sedang merayakan acara penting. Itu juga termasuk tengka, bukan?”
Pandangan seperti ini semakin kuat seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan pola pikir masyarakat Madura. Banyak yang merasa bahwa tradisi tengka telah mengalami penyimpangan dari makna aslinya. Awalnya, tengka adalah tentang sikap dan perilaku yang baik, namun seiring waktu, ia mulai diidentikkan secara sempit dengan pemberian materi. Hal ini membuat banyak orang yang memiliki keterbatasan ekonomi merasa tertekan dan bahkan terasing dari lingkungan sosial mereka karena tidak mampu memberikan tengka yang dianggap "cukup baik".
Di sisi lain, masih banyak kalangan tua yang memegang teguh nilai-nilai tradisional tengka. Mereka berpendapat bahwa pemberian materi sebagai bagian dari tengka adalah bentuk penghormatan yang nyata dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Madura selama berabad-abad. Menurut mereka, tanpa adanya pemberian tersebut, tengka akan kehilangan makna dan tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai alat untuk menjaga harmonisasi sosial.
“Tengka bukan hanya tentang uang atau barang,” ujar Pak Hadi, seorang tokoh masyarakat di kecamatan Sumenep yang telah berusia lebih dari 70 tahun. “Ia adalah simbol bahwa kita peduli dengan sesama. Ketika kita memberikan sesuatu, itu menunjukkan bahwa kita mau berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain. Tanpa itu, bagaimana kita bisa menunjukkan rasa peduli kita secara nyata?”
Perbedaan pandangan antara generasi tua dan muda ini tidak jarang menimbulkan konflik di dalam masyarakat Madura. Ada kalanya keluarga harus menghadapi kesulitan karena salah satu anggota keluarga menolak memberikan tengka yang dianggap cukup oleh orang lain. Namun, di tengah konflik tersebut, banyak juga yang mulai berusaha mencari cara untuk menyelaraskan nilai-nilai tradisional dengan realitas kehidupan modern.
Misalnya, di beberapa desa di Madura, masyarakat mulai mengembangkan bentuk tengka yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kemampuan masing-masing orang. Mereka tidak lagi mengukur besar kecilnya tengka berdasarkan nilai materi yang diberikan, melainkan berdasarkan kesungguhan hati dan kontribusi yang diberikan.
Ada juga yang mengadakan acara sosial bersama di mana semua anggota masyarakat berkontribusi sesuai dengan kemampuan mereka, baik itu dengan memberikan uang, barang, atau tenaga kerja. Hal ini membuat tengka kembali menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar masyarakat tanpa harus menjadi beban bagi siapa pun.
Kembali ke cerita Pak Soleh. Pada hari acara khitanan keponakannya, ia dan Bu Siti datang dengan membawa bungkusan berisi beras, telur, dan uang yang tidak terlalu banyak namun diberikan dengan hati yang tulus. Ketika mereka memberikan tengka tersebut kepada keluarga keponakan, mereka disambut dengan senyuman hangat dan ucapan terima kasih yang tulus.
Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa tengka yang mereka berikan terlalu sedikit atau tidak cukup baik. Sebaliknya, mereka hanya merasa senang karena Pak Soleh dan keluarga bisa hadir dan berbagi kebahagiaan bersama mereka.
“Lihat, Bu,” kata Pak Soleh kepada istrinya saat mereka sedang pulang ke rumah. “Yang penting kita memberikan dengan hati yang tulus. Itulah makna sebenarnya dari tengka.”
Bu Siti mengangguk dengan senyuman. Ia merasa lega karena beban yang selama ini mengganggunya akhirnya sirna. Ia menyadari bahwa tengka bukanlah tentang besar kecilnya apa yang diberikan, melainkan tentang sikap dan rasa penghormatan yang kita miliki terhadap sesama.
Di kota Bangkalan, Rina juga akhirnya menemukan cara untuk menyelesaikan dilemanya. Ia datang ke acara pernikahan kerabatnya dengan membawa sebuah hadiah buatan tangan yang dibuat dengan sangat hati-hati – sebuah kain batik dengan pola tradisional Madura yang ia rancang sendiri.
Meskipun tidak memiliki nilai materi yang tinggi, hadiah tersebut diterima dengan sangat hangat oleh keluarga yang bersangkutan. Mereka merasa terhargai karena Rina telah memberikan sesuatu yang dibuat dengan cinta dan perhatian khusus.
“Sejak saat itu, aku semakin yakin bahwa tengka seharusnya tentang apa yang ada di dalam hati kita, bukan apa yang ada di dalam dompet kita,” ujar Rina dengan bangga.
Begitulah perjalanan hidup tengka di tanah Madura. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan perubahan, ia tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Madura. Di satu sisi, ia mengikat masyarakat dengan nilai-nilai luhur seperti sopan santun, penghormatan, dan rasa tanggung jawab sosial.
Di sisi lain, ia juga menjadi cermin dari perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan bagaimana mereka berusaha untuk menjaga keutuhan tradisi tanpa harus menyakiti diri sendiri. Pada akhirnya, tengka bukanlah sekadar konsep etika sosial atau norma perilaku – ia adalah cerita tentang bagaimana manusia berusaha untuk hidup bersama dengan damai dan harmonis, meskipun harus menghadapi berbagai kontradiksi dan tantangan dalam hidup.
(Redaksi/Anton)
Rereferensi:
https://bincangmuslimah.com/khazanah/nyai-sebutan-bagi-ulama-perempuan-penjaga-tradisi-tengka-di-madura-35942/
https://timesindonesia.co.id/kopi-times/478159/pendidikan-tengka-bagi-orang-madura
https://www.lazada.co.id/products/buku-ulama-perempuan-madura-otoritas-dan-relasi-gender-ircisod-i5015180806.html
https://journal.uny.ac.id/litera/article/view/47228
https://en.wikipedia.org/wiki?curid=183981
Pilihan





