Balada di Tepi Sungai yang Tak Pernah Mengeluh


Puisi Abdi Daya

Di tepi sungai yang keruh dan pelan mengalir,
berdiri gubuk dari papan yang setia menahan angin,
atapnya seng berkarat, bernyanyi tiap hujan turun,
lantainya tanah, dingin namun akrab di telapak kaki.

Di sanalah hidup sebuah keluarga kecil,
yang tak pernah tercatat dalam gemerlap kota,
namun namanya terukir di langit doa—
keluarga sederhana, namun teguh menjaga iman.

Sang ayah, dengan punggung yang mulai menunduk,
setiap pagi menyusuri jalanan kota yang riuh,
memungut sisa-sisa dunia yang dibuang manusia,
mengais harap dari kaleng, plastik, dan besi tua.

Tangannya kasar, wajahnya legam oleh matahari,
namun lisannya basah oleh dzikir yang tak henti,
setiap langkahnya adalah tasbih yang berjalan,
setiap peluhnya adalah saksi pengabdian.

Sang ibu, perempuan dengan mata yang teduh,
menemani suaminya dalam sunyi yang panjang,
mengumpulkan rongsokan dengan sabar dan diam,
seolah dunia tak pernah cukup kuat untuk merobohkan hatinya.

Ia menanak nasi dengan kayu bakar yang tipis,
membagi lauk seadanya dengan senyum yang utuh,
dan ketika malam turun memeluk bumi,
ia menjadi guru pertama bagi anak-anaknya.

Dua anak kecil, dengan mata penuh cahaya,
meski langkah mereka terhenti di bangku sekolah dasar,
namun lidah mereka fasih melantunkan ayat-ayat suci,
mengaji dalam gelap dengan lampu minyak yang redup.

Mereka belajar bukan dari buku yang mewah,
tetapi dari kehidupan yang keras dan jujur,
dari ayah yang tak pernah mengeluh,
dari ibu yang tak pernah lelah bersyukur.

Kadang mereka ikut membantu di rumah,
mengumpulkan botol-botol di pinggir jalan,
menyusun kardus dan memilah plastik bekas,
dengan tangan kecil yang tak pernah menuntut lebih.

Di kejauhan, gedung-gedung menjulang tinggi,
menyentuh langit dengan kaca yang berkilauan,
seolah dunia lain berdiri begitu dekat,
namun tetap jauh dari jangkauan kehidupan mereka.

Lampu-lampu kota bersinar seperti bintang buatan,
menggoda mata dengan janji kemewahan,
namun keluarga kecil itu tetap bertahan
dalam kesederhanaan yang tak tergoyahkan.

Setiap azan berkumandang dari masjid seberang sungai,
mereka berhenti dari segala aktivitas,
membasuh wajah dengan air yang dingin,
dan bersujud dalam khusyuk yang mendalam.

Rukun Islam bukan sekadar hafalan bagi mereka,
ia adalah napas yang menghidupkan jiwa,
syahadat terpatri dalam keyakinan,
shalat menjadi tiang yang tak pernah runtuh.

Puasa mereka jalani dengan penuh kesabaran,
meski perut telah lama akrab dengan lapar,
zakat mereka tunaikan meski tak berlebih,
dan doa mereka melangit tanpa suara.

Di malam hari, ayah duduk di depan pintu,
menatap langit yang bertabur bintang,
berbisik lirih kepada Sang Pencipta,
tentang harapan yang tak pernah padam.

“Ya Tuhan, Engkau Maha Mengetahui,
kami tak meminta dunia yang berlebihan,
cukupkanlah kami dengan iman yang kuat,
dan angkatlah derajat kami di hadapan-Mu.”

Sang ibu mengamini dalam diam,
air matanya jatuh tanpa suara,
bukan karena putus asa,
melainkan karena cinta yang terlalu dalam kepada Tuhan.

Anak-anak mereka pun menengadahkan tangan,
dengan doa yang sederhana namun tulus,
memohon masa depan yang lebih terang,
tanpa pernah menyalahkan keadaan.

Hari demi hari berlalu dalam ritme yang sama,
pagi dengan kerja keras, malam dengan doa,
hidup mereka seperti aliran sungai di depan rumah—
tenang, namun menyimpan kekuatan yang tak terlihat.

Mereka tahu dunia tak selalu adil,
namun mereka percaya Tuhan selalu dekat,
lebih dekat dari urat nadi,
lebih memahami dari segala yang mereka rasakan.

Di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur,
keluarga kecil itu menjadi oase yang sunyi,
mengajarkan bahwa kebahagiaan
tidak selalu berwujud materi.

Bahwa kemuliaan bukan tentang apa yang dimiliki,
tetapi tentang bagaimana hati berserah,
dan bahwa kekayaan sejati
adalah iman yang tak pernah goyah.

Suatu hari, mungkin dunia akan berubah,
mungkin nasib akan berpihak pada mereka,
atau mungkin tidak—
namun mereka tetap berjalan dengan keyakinan.

Karena bagi mereka, hidup bukan sekadar bertahan,
tetapi tentang bagaimana menjaga cahaya iman
tetap menyala dalam gelap yang panjang.

Dan di tepi sungai itu,
di antara gemerlap kota yang tak mereka miliki,
mereka tetap berdiri—
sebagai keluarga kecil yang besar dalam keteguhan.

Balada mereka tak pernah terdengar di panggung dunia,
namun menggema di langit yang luas,
menjadi doa yang tak pernah usai,
menjadi harap yang tak pernah mati.

Sebab mereka percaya,
di balik setiap kesulitan yang panjang,
ada tangan Tuhan yang diam-diam
sedang menyiapkan keindahan yang lebih abadi.

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 5362445647581261747

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 


Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close