Bhârung Kopi; Pusat Solusi


Oleh : Fianolita Purnaningtias

Sebagian besar manusia di bumi sangat disibukkan oleh banyak urusan. Mulai dari yang sifatnya pribadi sampai yang umum, mulai dari urusan mencari sampai urusan mempertahankan. Perihal mencari saja sudah banyak menyita banyak waktu: mencari pekerjaan, makanan, karir, pasangan dan lainnya yang masih harus ditemukan. Begitu juga dengan mempertahankan, makin kesini urusan makin ruwet. Sikut sana – sikut sini, pertahankan kedudukan, harkat, martabat juga ambisi yang kadang mengorbangkan banyak hal; pertemanan, waktu, bahkan kerukunan antar sesama. Konon, Dari saking sibuknya mereka sampai tidak punya waktu untuk sebatas menikmati banyak perisiwa alam yang sangat disayangkan jika dilewati.

Sejak dulu, perbincangan kecil sudah biasa dilakukan, dengan tema yang dikemas semenarik mungkin agar enak dibaca dan banyak peminatnya. Bergesernya peradaban, orang-orang mulai memanfaatkan temuan-temuan yang sebenarnya tidak terlalu baru, seperti kopi sebagai salah satu kebutuhan pokok yang harus ada dalam sebuah perbincangan tersebut. Maka tidak heran, beberapa warung kopi di daerah saya tidak pernah absen tiap malam, kecuali hujan deras atau bencana alam. Memanfaatkan peluang bagus yang tidak boleh diabaikan begitu saja.

Kopi biasa/tubruk yang harganya masih sangat terjangkau berikut gorengan kesukaan yang menjadi menu paling utama yang itu-itu saja dan sama sekali tidak membuat pelanggan bosan untuk datang dan pulang pada larut malam. Begitu juga di warung lainnya. Dari sinilah kita akan paham mana manusia yang benar-benar sibuk atau sibuknya sebatas sampingan saja. Mana manusia yang pulang untuk istirahat dan mana manusia yang beristirhat di tempat dan cara yang berbeda.

Hal yang sangat menarik dan mulai sulit kita temui hari ini adalah percakapan dan candaan panjang yang sifatnya masih arif sekali di lingkungan kita. Termasuk pembahasannya yanng sangat verbal sekali, berkenaan dengan kehidupan sehari-hari. Pelanggan yang tiap malamnya tidak pernah kurang dan tidak pernah bertambah itu berasal dari latar belakang yang sama dengan pekerjaan yang berbeda-beda. Namun pada intinya sama, berkumpul untuk melepas penat dan bergahagia seutuhnya ala mereka

Jika teman-teman mau ingin melihat bagaimana gambaran orang-orang penghuni surga, maka saya pikir kita hanya cukup pergi ke tempat ngopi atau lebih tepatnya Bhârung Kopi semacam ini. termasuk jika ingin melepas penat, tidak perlu lah kita harus pergi ke tempat-tempat yang harus berbayar, di warung kopi seperti kita akan menemukan banyak sekali hal-hal yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya. Seperti permainan ala-ala judi (tapi bukan judi), obrolan serius dan sebaliknya, dan yang paling menarik adalah cara mereka berbahagia dengan cara yang sangat sederhana.

Para orang tua kita kadang lebih paham soal esensi. Dimana kepentingan jauh lebih diutamakan daripada keinginan yang sifatnya senang-senang. Banyak kita temui teman yang ngajak ngopi dan ketika sampai di lokasi malah nanya password wifi dan main game sesuka hati. Namun bagi yang memang niatnya untuk membahas hal penting, tentu sudah paham soal ajakan temannya itu. Di warung kopi seperti yang penulis maksud semuanya serba sederhana. Tidak ada wifi gratis karena mainan pelanggan masih manual. Tidak ada pula jatah buat post insta story karena HP pelanggan masih sangat kentang.

Anak muda hari ini harus bayar mahal untuk menemukan posisi enak dan postingan bagus. Ada juga tempat yang harus bayar pajak. Orang tua kita yang masih ngopi di warung dengan pengeluaran yang sangat minim sudah banyak sekali yang mereka dapat. Obrolan tentang bisnis, keadaan pasar, juga tentang inflasi harga barang semuanya dibahas disini. Sebagian standart bahagianya anak muda kadang harus ke cafe dengan budget yang tidak sesuai dengan isi dompet. Padahal jika kita tahu cara berbahagia ala orang tua pelanggan kopi warung tentu sangat berbanding terbalik dan ini bukan soal era.

Kelakuan paling tidak enak dipandang adalah ketika salah satu teman berbicara dan pendengar malah sibuk balas chat si doi, pembaca tentu paham bagaimana perasaan si pembicara itu, tentu tidak enak, kan?. Salah satu alasan bahagianya pelanggan kopi warung sangat total karena mereka menikmati betul kesempatan terbaiknya itu. Mungkin hanya di tempat inilah media sosial tidak begitu dibutuhkan. Berbeda dengan tampat-tempat lainnya yang sepertinya dirasa ada yang kurang jika hanya berkumpul saja tanpa mengekspresikan moment.

Ada salah satu Kiai di daerah penulis yang kesukaannya adalah mengunjungi warung-warung kopi semacam ini, alasan yang beliau paparkan kira-kira begini ; “Sudah cukup banyak ditemui masyarakat kita ini yang awamnya kriminal. Sebuah perkumpulan membahas tentang proyek yang kadang kebaikannya tidak jauh lebih besar daripada keburukannya, ada perkumpulan yang semuanya asik dengan gamenya dan sampai lupa dengan kebermanfaatan lainnya. Saya menemukan awam sungguhan yang kami yakini Tuhanpun bahagia ketika mereka berada di tempat ini (Warung kopi) dan melakukan aktivitas seperti biasanya.

Sikap jujur dan apa adanya benar-benar tertanam dalam diri pelanggan disini. Terciptanya iklim sehat dengan sikap permisif yang diusung bersama demi kenyamanan dan tanpa drama. Betapa tidak baiknya jika bangsa ini harus dipenuhi dengan sifat kebohongan dengan berbagai motiv apapun, termasuk memangkas hak rakyat atas nama kebohongan atau menyimpan yang seharusnya disampaikan juga atas nama kebohongan, atau kebohongan yang skalanya kecil seperti yang sedang ramai di group WA. Misal bilang OTW tapi masih di  kamar mandi. OTW singkatan dari On The Way yang artinya sedang dalam perjalan, belakangan ini lebih sering digunakan hanya untuk menenangkan hati si penunggu atau tidak benar-benar berangkat atau sedang dalam perjalanan. Dalam perkumpulan ini tidak ada kebohongan apapun, termasuk mereka bukan jama’ah yang suka bilang OTW tapi masih nyantai-nyantai dan belum mandi.

Tidak ada admin disini, yang harus inten mengabari jam berapa akan berkumpul dan di lokasi baru atau lokasi biasa. Mereka paham betul soal jam kumpul. Sifat terbuka dan saling memahami tidak perlu diragukan. Sebab mereka tidak akan terlambat datang kecuali ada hal krusial yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu. begitupun dengan jam pulang, si penjual harus tangguh dalam begadang karena si pelanggan tidak akan berkenan pulang sampai subuh hampir tiba.

“Apakah mereka terlambat bangun pagi karena semalam begadang?” Oh, tentu tidak.

Para pelanggan miliki profesi masing-masing dan ngopi dengan teman-temannya bukan alasan untuk bangun siang. Mereka juga memiki beban tanggung jawab yang harus mereka penuhi. Ada penjual pentol yang harus berangkat pagi menuju sekolah-sekolah, ada yang penjual ayam yang besoknya sudah ditunggu pembeli di pasar, ada penjual sapi yang sudah janjian dengan pak sopir untuk bertemu di lokasi mana, ada yang nelayan demi menunggu waktu keberangakatan dan mayoritas adalah petani yang besok pagi harus nyangkul di sawah.

Jangan kira setelah mereka beraktivitas sehari penuh mereka sangat lelah dan absen buat ke warung. Ketika kita hendak bepergian dan ada barang yang lupa dibawa tentu ada perasaan tidak enak seperti ada yang kurang. Kita bisa memebayangkan bagaimana tidak lengkapnya kegiatan harian mereka jika meninggalkan kebiasaan serunya itu. Di tempat ngopi tidak mereka jadikan sebagai peristirahatan kemudian berpikir besok mau berangkat lagi, ternyata tidak seperti itu. Di tempat ngopi ini mereka menjadikan sebuah forum berbagi informasi tentang hal apapun yang mereka dapati di sepanjang hari.

Hampir semua pembahasan tampak tidak serius layaknya bergurau, bagi anggota baru di perkumpulan itu atau peneliti dari kebiasaan ini mungkin menganggapnya demikian. Tetapi, iklim yang mereka ciptakan memang seperti itu adanya dan dalam rangka untuk membangun keharmonisan bersama. yang humoris ia gunakan cara ngelawaknya, begitupula jika ada yang kalau gaya bicaranya asal nyebut saja dan kemana-mana, menjadi kewajiban untuk dibuat serusuh mungkin tanpa harus berpikir omongannya nyakiti atau tidak.

Pertanyaan menarik bermunculan dari masyarakat untuk dua peran yang berbeda, untuk si pelanggan dan juga si penjual. Seperti: “kalau misalkan buka warungnya setelah isya’ dan tutupnya dini hari, bagaiamana nasib si istri di rumah?”, ”apakah penjualnya tidak punya keluarga?”dan “apakah mereka tidak punya kewajiban di rumah?” dan masih banyak pertanyaan lumrah lainnya yang kalau orang belum paham soal ngopi di warung rata-rata pertanyaannya seperti itu semua.

Penulis juga berpikir kalau waktu tidur mereka dari subuh sampai pagi apakah cukup dan bisa optimal dalam mencari nafkah keluarga, hal tidak bisa ditebak dan kurang logis benar-benar penulis saksikan sendiri bagaimana mereka tetap semangat seperti biasanya dalam menjalani tugas sebagai kepala rumah tangga. Mencari nafkah untuk keluarga yang menjadi kewajiban tidak lantas mereka abaikan begitu saja. Sangat berbanding terbalik dengan beberapa aktivis yang mungin kita sering temui mereka punya agenda bincang-bincang sampai larut dan pagi titip absen karena ngantuk.

Bagi kaum pemuda, ngopi mungkin sebatas hobi atau skala prioritas yang cukup minimalis sekali. Kalaupun ada obrolan-obrolan hangat seputar keilmuan, makin kesini mulai makin salah penafsiran. Berbeda dengan ngopi di warung ala orang tua kita, mereka kadang tidak paham perihal hobi dan menjadikan ngopi di warung sebagai keharusan yang tidak bisa dihilangkan. Bagaimana tidak, mereka menuangkan segala hal keresahan yang di batas wajar dan bukan privasi keluarga. Mereka saling memberi solusi dari pelbagai pengalaman yang benar-benar mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada rasa iri dan pamrih disini. Dari kalangan yang sama dengan tujuan yang sama pula.

Jika tradisi formal perlu dijaga karena dirasa baik, bagaimana dengan tradisi ngopi di warung  juga tak kalah baik. dimana kita menemukan tawa paling tulus dari kepala keluarga setelah seharian menjalani tugas mulia. Anak muda yang masih minta uang saku kepada orang tua tentu harus mulai belajar cara-cara terbaik dan sederhana dengan esensi yang serupa. Pemuda tidak perlu merasa malu jika tempat ngopinya tidak bisa membuatmu percaya diri untuk diposting di media, toh di warung kopi semuanya ternilai istimewa dengan canda tawa juga cerita yang penuh makna.

Sepintas bagi yang melihatnya biasa-biasa saja tentu tidak ada yang menarik. Penulis juga sering berpikir bagaimana jika mereka tidak ada, apakah ada yang berkenan melanjukan kebiasaan asyik ini?, ngobrol semaunya dan selepas mungkin kini hanya ditemui di perkumpulan seperti ini. betapa harga kopi Rp. 2000 sangatlah murah sekali untuk momen seberharga itu. Orang-orangpun tentu sangat paham bahwa hal ini tidak hanya tentang kopinya melainkan perkumpulan, silaturrahim, obrolan menarik dan game seru yang semuanya tidak bisa lepas begitu saja dalam kearifan lokal dalam masyarakat kita.

Orang sudah mulai susah untuk menciptakan standart bahagianya sendiri, harus memilki fasilitas selengkap mungkin baru bisa bahagia atau nunggu punya banyak uang dulu baru bisa tenang. Padahal jika kita mau belajar pada warung kopi, bahagia itu bisa kita dapat sepenuhnya dengan keadaan yang biasa-biasa saja.

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 3562276836177238844

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close