Harapan di Ujung Jalan Pulang


Cerpen: Abi Nawari

Angin sore berhembus pelan ketika Lukman menurunkan tas besarnya dari atas bus. Debu jalanan masih menempel di sepatu dan ujung celananya. Hampir satu hari penuh ia menempuh perjalanan dari kota rantau menuju kampung halamannya—tempat yang selama lima tahun hanya hidup dalam ingatan dan doa.

Di benaknya, pulang kali ini bukan sekadar melepas rindu. Ia membawa harapan. Harapan untuk melihat perubahan. Harapan untuk menyaksikan hasil dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Harapan untuk membahagiakan keluarganya.

Ia menarik napas panjang, memandangi jalan kecil yang mengarah ke rumahnya. Tak banyak yang berubah di kampung itu—pohon-pohon masih berdiri, jalan tanah masih sama, suara anak-anak bermain masih terdengar riuh. Namun di dalam hatinya, ia yakin ada satu hal yang pasti berubah: rumahnya.

“At least rumah sudah bagus sekarang,” gumamnya pelan.

Lukman melangkah perlahan. Setiap langkah terasa berat, bukan karena lelah, tapi karena perasaan yang sulit dijelaskan—campuran antara rindu, gugup, dan bangga. Ia membayangkan wajah ibunya yang akan tersenyum haru. Ia membayangkan ayahnya yang mungkin akan menepuk bahunya dengan bangga. Ia juga membayangkan rumah itu—rumah yang seharusnya sudah direnovasi, berdinding tembok, berlantai keramik, dan memiliki kursi yang layak untuk diduduki.

Namun langkahnya terhenti.

Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Di hadapannya, berdiri rumah yang sama. Tak berubah sedikit pun.

Dindingnya masih anyaman bambu yang mulai lapuk. Lantainya masih tanah yang tak rata. Kursi tua di teras masih sama—miring dan tampak siap roboh kapan saja. Bahkan pintu kayu itu masih mengeluarkan bunyi berderit yang sama saat tertiup angin.

Lukman menatapnya lama, seakan berharap semua itu hanya ilusi.

“T-tidak mungkin…” bisiknya.

Tangannya gemetar. Ia melangkah mendekat, menyentuh dinding bambu itu. Kasar. Rapuh. Nyata.

Lima tahun.

Selama lima tahun, ia bekerja tanpa kenal lelah. Ia menahan lapar, menunda keinginan, bahkan jarang pulang demi satu tujuan: memperbaiki kehidupan keluarganya. Setiap bulan, tanpa pernah terlewat, ia mengirim uang kepada kakaknya, Herman.

“Buat renovasi rumah, Man. Biar kita hidup lebih layak,” kata Herman dulu.

Dan Lukman percaya.

Ia mengetuk pintu pelan.

“Assalamu’alaikum…”

Tak lama, pintu terbuka. Seorang perempuan tua dengan wajah yang sangat ia kenal berdiri di sana. Ibunya.

“Lukman…?” suara itu bergetar.

“Ibu…” jawab Lukman lirih.

Ibunya langsung memeluknya erat, seakan tak ingin melepaskannya lagi. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

“Kamu pulang, Nak… akhirnya kamu pulang…”

Pelukan itu hangat. Rindu itu nyata. Namun di balik itu semua, hati Lukman masih dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab.

“Ibu… rumah kita…” ucapnya pelan sambil melepaskan pelukan.

Ibunya terdiam. Wajahnya berubah. Ada sesuatu yang tak biasa di sana—seperti menyimpan sesuatu.

“Ayo masuk dulu, Nak,” katanya mengalihkan.

Lukman mengikuti, meski langkahnya terasa berat. Di dalam, semuanya sama. Tak ada perubahan. Bahkan tikar usang di sudut ruangan masih itu-itu saja.

“Ayah mana, Bu?” tanya Lukman.

“Di belakang… lagi istirahat.”

Tak lama, ayahnya muncul. Tubuhnya tampak lebih kurus, wajahnya lebih tua dari yang Lukman ingat.

“Lukman…” ucapnya pelan.

Lukman menyalami dan memeluk ayahnya. Ada rasa haru, tapi juga ada kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan lagi.

“Yah… ini kenapa rumah kita masih seperti ini?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Suasana langsung hening.

Ibunya menunduk. Ayahnya menarik napas panjang.

“Sebaiknya kamu bicara sama Herman,” kata ayahnya pelan.

“Herman mana?”

“Di kota… katanya kerja.”

Lukman mengepalkan tangannya.

“Kerja? Setiap bulan saya kirim uang ke dia, Yah. Untuk renovasi rumah ini. Tapi kenapa… tidak ada yang berubah?”

Tak ada jawaban.

Malam itu terasa panjang. Lukman tak banyak bicara. Ia duduk di kursi reot yang sama seperti lima tahun lalu, menatap langit-langit rumah yang hampir berlubang. Di dalam hatinya, ada sesuatu yang runtuh—bukan hanya harapan, tapi juga kepercayaan.

Keesokan harinya, Lukman memutuskan pergi ke kota mencari Herman.

Perjalanan itu terasa berbeda. Kali ini, bukan harapan yang ia bawa, melainkan amarah.

Ia menemukan Herman di sebuah rumah kontrakan kecil. Saat pintu dibuka, wajah kakaknya tampak terkejut.

“Lukman?! Kamu pulang?”

“Ya. Dan aku ingin jawaban.”

Herman terdiam.

“Uang yang aku kirim selama lima tahun… ke mana?”

Herman mengalihkan pandangan.

“Man… aku bisa jelasin—”

“Jelaskan sekarang!”

Suara Lukman meninggi.

Herman duduk, wajahnya terlihat lelah.

“Aku… pakai uang itu…”

“Untuk apa?!”

“Untuk hidup…”

“Untuk hidup?!” Lukman tertawa pahit. “Kita semua hidup, Man! Tapi aku kirim itu untuk rumah! Untuk Ibu! Untuk Ayah!”

Air mata mulai menggenang di mata Herman.

“Aku terjebak… utang, Man… awalnya sedikit. Terus bertambah. Aku nggak punya pilihan…”

“Kamu punya pilihan! Jujur!”

Herman menutup wajahnya.

“Aku takut… kalau aku bilang, kamu kecewa…”

“Dan sekarang aku tidak kecewa?” suara Lukman melemah.

Hening.

“Aku kerja lima tahun… lima tahun, Man… dan semuanya hilang begitu saja?”

Herman menangis.

“Aku salah… aku tahu… aku minta maaf…”

Lukman berdiri. Dadanya sesak.

“Maaf tidak bisa membangun rumah, Man,” katanya pelan.

Ia pergi tanpa menoleh lagi.

Hari-hari berikutnya terasa berat. Lukman kembali ke rumah dengan hati kosong. Ia tak lagi marah, tapi juga tak tahu harus bagaimana. Ia hanya diam, membantu ibunya, menemani ayahnya, menjalani hari tanpa banyak kata.

Suatu malam, ibunya duduk di sampingnya.

“Nak… kamu marah ya sama Herman?”

Lukman terdiam.

“Marah, Bu… tapi lebih dari itu… aku kecewa.”

Ibunya mengangguk pelan.

“Herman memang salah… tapi dia juga anak Ibu.”

Lukman menatap ibunya.

“Dan kamu juga anak Ibu… yang selama ini berkorban.”

Air mata ibunya jatuh.

“Rumah ini memang tidak berubah… tapi kamu sudah mengubah banyak hal, Nak.”

“Maksud Ibu?”

“Kamu membuat kami bertahan… kamu membuat kami merasa tidak sendirian… itu lebih dari sekadar rumah.”

Lukman terdiam.

Malam itu, ia merenung lama.

Ia menyadari sesuatu.

Selama ini, ia terlalu fokus pada rumah sebagai bangunan. Dinding. Lantai. Atap. Ia lupa bahwa rumah juga berarti orang-orang di dalamnya.

Ia menarik napas panjang.

Mungkin, rumah itu memang belum dibangun.

Tapi bukan berarti semuanya sia-sia.

Keesokan harinya, Lukman bangun lebih awal.

Ia melihat ayahnya yang sedang menyapu halaman. Ibunya menyiapkan sarapan sederhana.

Rumah itu memang rapuh.

Tapi kehangatan di dalamnya… masih utuh.

“Ibu,” panggil Lukman.

“Iya, Nak?”

“Kita bangun rumah ini… pelan-pelan… mulai dari sekarang.”

Ibunya tersenyum.

“Bersama-sama.”

Dan untuk pertama kalinya sejak ia pulang, Lukman tersenyum.

Bukan senyum karena harapan yang terpenuhi.

Tapi karena ia akhirnya mengerti—bahwa rumah sejati bukan tentang apa yang terlihat, melainkan tentang siapa yang tetap tinggal dan saling menjaga di dalamnya.

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 6006886145160338815

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 


Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close