Puisi Moh. Wadhif a: Dari Lingkaran Ucapan sampai Saat Waktu Mulai Lenguh


Moh. Wadhif a
, alumni SMPI Miftahul Jannah, juga salah satu siswa kelas akhir MATahfidh Annuqayah, sekaligus santri aktif PP Annuqayah Lubangsa Utara yang bermukim di komplek Buhairah Arabiyah PPA.

 

 Lingkaran Umpatan

Semasa sendiri sedang menyelimuti
Hati redup tatkala ada yang menyapa
Hanya sanya luka yang dilukis dari
Kenangan masa lampau
Menghapus pelantaran.

Dinginnya malam yang mencekam
Mendekap sepi dalam ramai
Dari saking sunyinya mulut bisu
Hingga menggigil pun tak apik pada rindu
Layu harapku

Mushalla ‘26

Sebelum Senja Tiba

Desiran angin yang bisu
Menenangkan jiwa
Yang saat ini rancu
Bagai puing-puing beling kaca

Cahaya mentari sore ini
Mengantar senja yang sebentar lagi
akan turun
Merangkul ketenangan hati

Tak ku sangka dunia sebegitu luas
Penuh bahasa, penuh makna,
Juga sejuk dimana angin berada
Bahagiakan mata nan rasa

Namun tiba-tiba mendung menyapa
Menutupi separuh cahaya
Menggelapkan semua yang dibawahnya
Meneteskan kebahagiaan dunia

Tenang sudah diriku
Yang sedari tadi mencari waktu
Tuk menulis puisi
Sore ini

Lubtara ‘26

 

 

Di Sampingmu

Ku rebahkan nyaman disampingmu
Menabur kisah benih-benih rindu
Meringkuk mengingat tawamu
dulu

Disampingmu ku berkata
“Telah lama ku tak melihatmu
dengan jarak sedekat ini”
Anganku bergeleparan dalam sunyi

Indahmu
Lebih kalut
Jika bukan aku
Disampingmu

Mushalla ‘26

Hanya Dalam Kata

Saat skala jarak berkata
Mulut kita
Terkatup bagai peti harta
Memeluk dari jauh pena menata

Hanya dalam kata
Ku berdialog
Dengannya

(Lubtara ‘26)

 

 

Prakata Pena

Penaku bergeming
Meminta puisi tuk terus dilinangkan
Meniduri separuh khayalan.
Entah itu pagi, siang, sore,
Bahkan dibawah panorama sunyi
Yang gelap tanpa sedikit cahaya
Dari surga malam

Maka tak pernah ku berhenti
Berkata dalam secarik kertas
Yang barangkali membawaku
Pada harapan hamparan keindahan

(Lubtara ‘26)

 

 

Pencapaian

Piagam dimana-mana
Penghargaan merajalela
Hanya tempat ini
Yang merangkul segala kegilaan
Menampung keunggulan

Tiap kali tatapan bertemu
Rasa iba seakan menganga
Barangkali masih ada
Penyangga bagi piagam permata dunia.

(MAT ‘26)

 

 

Disaat Waktu Mulai Lenguh

Detik jarum jam masih terus bergeleparan
Mengukur jalan sebuah pertapaan
Menyingkap tudung kegelisahan

Cerita sabda yang sebentar lagi tertata
Mengalunkan sebuah kalimat
Yang seakan bernyanyi
Lagu selamat malam

Dan beberapa mulai tertunduk
Menjejaki dunia ilusi
Dalam mimpi
Menghiraukan apa yang berarti

Aku pun haru
Memandang guru yang tetap tenang
Walau yang mendengar perlahan menghilang.

(MAT ‘26)


Pilihan

Tulisan terkait

Utama 1524588408581594757

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close