Puisi-puisi : Delvin n.
Delvin n. kini sedang belajar dan beraktifitas di dunia literasi di Pondok Pesantren Annuqayah (PPA). Lubangsa Utara, Guluk-guluk Sumenep...
Delvin n. kini sedang belajar dan beraktifitas di dunia literasi di Pondok Pesantren Annuqayah (PPA). Lubangsa Utara, Guluk-guluk Sumenep. Sekarang sedang duduku di bangkus kelas akhir MTs 1 Annuqayah.
*****
Surat Narasi Untuk Keluarga
Waktu menjelma keriput layu
Asa masih menggebu dalam jiwa mereka
Meski tubuh tak mendukung
Tapi harapan tatap diusung
Sesungguhnya, mereka tak mampu menopang hidup
Dengan kerangka digerogoti bagai penyakit
Kaki diayunkan dengan gemetar, nyeri, dan
semacamnya
Sadar dan sabarlah yang dijadikan
Pemantik hidup oleh mereka
Senantiasa memberikan petuah kuno
Agar keturunan tak begitu sesat
Kini, tatkala aku bersua dengan mereka
Seketika kalbu mengecap pilu
Sejarah yang telah membabi buta
Menghantamkan raga dan mungkin juga sukma mereka
Dengan kepalan tangan, terjangan kaki, dan
sabda menggugurkan benih rasa
Kini, diriku tak kuasa menahan riam
Empangku memanas, bengkak nan sembab
Sungai yang berada di mataku
Bergulir cepat sampai ke mulut
Terasa begitu asin
Sama seperti halnya mereka merasakannya juga
Rasa itu yang kini menyadarkanku
Dibucu jalan dunia karatan
Terakhir dariku
Terimakasih telah menancapkan bagai ilmu
Nan juga nasehat atas segala kecerobohanku
Semuanya beku takkan tersulam debu
Dan diriku minta maaf atas semua
titah yang terus membelenggu
Kupu-kupu bukan lagi ulat dulu
Tersenyumlah wahai keluargaku.
Mushalla 26’
Dalam Hening Malamku
Fatamorgana kiamat menyapaku
Dikala keheningan malam mencekam
Tak terasa air mata mengalir
Menghadirkan suara nyeri
Kupanjatkan doa dalam-dalam
Kepada empunya alam
Dirimu
Serasa dekat tak bisa ditangkap
Serasa alat tak bisa dilihat
Kutatap lamat-lamat atap
Berlalu keukiran tangan
Banyak mendengar tentang rapalan yang kubuat
Menembus udara beku
Sampai puncak cakrawala
Menggema di angkasa
Membangunkan para penjaga
“Ayo kabulkan seruhnya”
Perintah sang maha kuasa
Aku, berakhir, Amin Amin Amin.
Lubtara 25’
Bulan Tenggelam di Wajahmu
Hati ini kosong
Menatap candra ditelan awan hitam
Melenyapkan cahaya laksminya
Yang mensoroti dunia kenangan
Terlihat gemuruh petir menggelegar
Menyusuri luasnya lagit
Meratapi terkuburnya pemutar sejarah
Aku sangat rindu padamu
Mengapa malam ini mengundang sosok bisu
Sedang bermain-main dalam ingatanku
Hehh...
Beta sadar apa yang ingin bulan sampaikan
Ia mirip sekali dengan kisah penyair nelangsa ini
LBQK 25’
Aku Seorang Anak Petani
Aku seorang anak petani
Yang lahir dari benih desa
Bejuang bagi mereka yang punya mimpi
Tanah produktif disebut merdeka
Aku seorang anak petani
Sehari-hari dipenuhi cangkul, biji-bijian, dan
segelas kopi
besama mentari menggelapkan lapisan tubuh
hingga peluh berteman kain lusuh
aku seorang anak petani
bermata setangkai padi
hutan kecil sedang kuhuni
tak pernah terpijak sang narapati
15/12/2025
Rerumputan
Keluh kesah antah berantah rimba muntah
Ilalang balita terpijak menahan sakit
Membahagiakan para nara sedang bergelora
Atau rela lenyap agar yang lain tidak tamat
Ketimbang hidup tak ada guna
Diam saja ditempat hanya menyaksikan, menunggu, dan
dimandikan kasih awan
Mengaca pada suatu cerita upin dan ipin
Yang alih-alih punah di televisi
Mereka menangis, mengumpat, dan tak terima
Atas keberlangsungan takdirnya
Hidup serupa
Tapi tak sama
Tunggu alam kekal
Tinggal hanya sejengkal
Mushalla 26’
Pada Cinta Yang Terpenjara
Melukiskan dirimu dalam sajak
Yang akan abadi meski maut bergerak
Begitu sulit untuk mulut berucap
Tentang kenangan atau sekadar gurauan
Laksana seroja yang memikat hati para nara
Disekitar kawasan
Mengapa engkau terdampar disini?
Di desa rapat akan petani
Bukankah begitu apik jikalau berada dikota
Mungkin ini semua telah diatur
Kesan, rasa, gembira, kecewa, dan bagai
misteri yang telah diukur
Mushalla 26’
Kota Kenangan
Disini terlahir banyak sejarah
Terekam jelas dibenakku
Mulai dari ihwal yang bahagia, pilu, dan
Dosa begitu laknat
Kini, semuanya seakan telah punah
Tak jarang keheningan menghampiri
Gelak tawa, perbingcangan, dan
hiburan telah tersulam racauan angin
Nan jangkrik besama kodok yang berdoa ditengah malam
Begitu nestapa kehidupan para orang tua
Hanya menanti padi mengering dibawah terik matahari,
Menanti anak dan cucu singgah meski sejemang
Dengan usia yang telah layu, bertahan semasih sukma membeku
Diriku begitu rindu
Satu tahun lamanya
Mataku buta akan kota kenangan
Oh tuhan
Lestarikanlah kehidupan kota kenangan
Sejarahterakanlah para penduduknya
Meski keriput telah banyak menggarap
Tua Bangka
Semoga semua selamat hingga akhir hayat
Amiin.
Rumah Kayu 26’
Pilihan





