Toron: Ketika Orang Madura “Turun” untuk Pulang


Toron bukan sekadar tradisi mudik masyarakat Madura. Ia adalah perjalanan pulang yang sarat makna—tentang kerinduan pada tanah kelahiran, penghormatan kepada orang tua, serta penguatan kembali jalinan kekerabatan setelah setahun hidup di perantauan.

Syaf Anton Wr

Bagi masyarakat Madura, pulang kampung bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan batin. Tradisi itu dikenal dengan istilah toron, sebuah kebiasaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat Madura perantauan.

Toron merupakan tradisi pulang kampung yang dilakukan warga Madura yang merantau, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, maupun peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Meski demikian, momentum yang paling sering dipilih adalah Idul Fitri. Pada saat itulah kerinduan akan rumah, keluarga, dan tanah kelahiran menemukan jalannya untuk kembali dipeluk.

Secara harfiah, toron berarti “turun”. Maknanya bukan sekadar turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, melainkan turun untuk kembali ke haribaan kampung halaman setelah sekian lama hidup di tanah rantau. Bagi perantau Madura, toron adalah cara untuk menyentuh kembali akar kehidupan yang mereka tinggalkan.

Mengapa Idul Fitri menjadi momen paling banyak dipilih? Sebagaimana tradisi mudik yang juga dilakukan masyarakat Muslim di berbagai daerah, Lebaran merupakan waktu yang paling memungkinkan untuk berkumpul kembali. Setelah setahun menjalani kehidupan di perantauan, inilah saat yang paling tepat untuk menyatukan kembali keluarga besar, bertemu kerabat, serta menjalin silaturahmi dengan tetangga dan sahabat lama.

Namun bagi orang Madura, toron memiliki makna yang jauh lebih dalam. Hal ini tak lepas dari kenyataan bahwa masyarakat Madura dikenal sangat lekat dengan dunia perantauan. Sejak dahulu, orang Madura telah menyebar ke berbagai daerah di Nusantara, bahkan hingga mancanegara. Mereka hadir sebagai pedagang, pekerja jasa, pengusaha kecil, hingga pelaku usaha di berbagai sektor informal.

Etos kerja yang kuat menjadi ciri khas masyarakat Madura perantauan. Prinsip tekun bekerja dalam bidang apa pun membuat banyak di antara mereka mampu bertahan bahkan meraih kesuksesan. Di berbagai kota besar di Indonesia, jejak usaha orang Madura mudah ditemukan—dari warung kecil di pinggir jalan hingga usaha yang berkembang menjadi jaringan bisnis.

Di tengah kesibukan dan kerasnya kehidupan di tanah rantau itulah, toron menjadi momen penting. Ia bukan sekadar pulang, tetapi juga mengingatkan kembali siapa diri mereka dan dari mana asal mereka.

Menariknya, dalam bahasa Madura, kebalikan dari kata toron (turun) sebenarnya adalah ongghâ (naik). Namun istilah ongghâ tidak pernah digunakan untuk menyebut kegiatan merantau. Sebaliknya, orang Madura menyebut keberangkatan merantau dengan istilah alajar, yang berarti berlayar.

Istilah ini bukan tanpa alasan. Pada masa lalu, perjalanan keluar dari Pulau Madura hampir seluruhnya dilakukan melalui laut. Para perantau harus menempuh perjalanan panjang dengan perahu atau kapal, menyeberangi lautan selama berhari-hari untuk mencapai daerah tujuan.

Berlayar pada masa itu bukan sekadar perjalanan biasa. Ia adalah perjuangan yang penuh risiko. Ombak besar, angin kencang, dan ketidakpastian perjalanan menjadi bagian dari kehidupan para perantau. Dari pengalaman itulah lahir ungkapan khas Madura: “abhântal omba’, asapo’ angèn”—berbantal ombak, berselimut angin.

Ungkapan itu menggambarkan kerasnya perjuangan hidup yang harus dijalani di tengah lautan. Sebuah simbol keberanian sekaligus keteguhan hati orang Madura dalam menghadapi tantangan hidup.

Karena itulah, ketika mereka kembali melalui tradisi toron, perjalanan pulang itu seolah menjadi penutup dari satu siklus perjuangan. Setelah menantang lautan kehidupan di tanah rantau, mereka kembali ke pelabuhan asal—rumah.

Toron Bukan Sekadar Mudik

Toron sering kali disamakan dengan mudik. Padahal, keduanya memiliki makna yang tidak sepenuhnya sama. Mudik umumnya dipahami sebagai tradisi pulang kampung menjelang Idul Fitri. Sementara toron memiliki cakupan yang lebih luas.

Bagi masyarakat Madura, toron bisa dilakukan tidak hanya menjelang Lebaran Idul Fitri, tetapi juga pada Hari Raya Idul Adha—yang dalam istilah Madura sering disebut tellasan raje (hari raya besar)—serta pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, toron bukan sekadar tradisi tahunan menjelang Lebaran, melainkan bagian dari ritme budaya yang terus berulang dalam kehidupan masyarakat Madura.

Ada pula pandangan yang mengaitkan istilah toron dengan kisah dalam Babad Madura. Dalam salah satu penafsiran, nama Madura disebut berasal dari kata “lemah dhuro”, yang berarti tanah yang berada di antara ada dan tiada.

Istilah “dhuro” dipahami sebagai gambaran Pulau Madura yang, jika dilihat dari kejauhan, tampak seolah muncul dan tenggelam di permukaan laut. Hal itu berkaitan dengan kondisi geografis pulau yang relatif rendah dibandingkan permukaan laut. Ketika air laut surut, pulau tampak jelas; ketika pasang, seakan-akan ia menyatu dengan lautan.

Namun ada pula tafsir yang lebih filosofis. Menurut pandangan ini, hakikat toron adalah kembali pada yang paling rendah, yakni bersujud kepada orang tua.

Konon pada masa lalu, ketika para perantau Madura pulang setelah lama meninggalkan rumah, hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari kedua orang tua mereka. Setelah bertemu, mereka akan bersujud di hadapan ayah dan ibu sebagai tanda bakti dan kerendahan hati.

Tradisi ini erat kaitannya dengan ajaran yang menyebutkan bahwa surga berada di telapak kaki ibu. Maka toron bukan hanya perjalanan pulang secara fisik, tetapi juga bentuk penghormatan dan pengabdian kepada orang tua.

Dalam falsafah hidup masyarakat Madura dikenal ungkapan “bhuppa’, bhâbhu’, ghuru, rato”—bapak, ibu, guru, dan pemimpin. Keempat unsur ini menjadi tatanan utama dalam kehidupan sosial masyarakat Madura.

Orang tua menempati posisi pertama yang harus dihormati. Setelah itu guru atau kiai sebagai pembimbing spiritual, dan kemudian pemerintah atau pemimpin sebagai pengatur kehidupan masyarakat. Kepatuhan kepada orang tua dalam budaya Madura begitu kuat dan tidak dapat ditawar-tawar.

Durhaka kepada orang tua dianggap sebagai pelanggaran moral yang berat. Karena itulah toron sering kali menjadi kewajiban moral bagi para perantau—sebuah cara untuk kembali menyambung bakti kepada orang tua yang menunggu di kampung halaman.

Lebih dari itu, toron juga mengajarkan nilai kerendahan hati. Dengan kembali ke rumah—yang secara simbolik ditempatkan sebagai “tanah yang lebih rendah”—orang Madura diingatkan untuk tetap rendah hati tanpa harus merasa rendah diri.

Rumah menjadi representasi diri, tempat di mana seseorang kembali belajar menundukkan ego, menghargai orang lain, dan mengingat asal-usulnya.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, semangat toron tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, selalu ada tempat untuk pulang.

Terutama ketika Hari Raya Idul Fitri tiba—momen ketika manusia diajak untuk saling memaafkan, menundukkan ego, dan membersihkan hati.

Sebagaimana makna toron itu sendiri, mungkin yang paling penting bukanlah perjalanan pulangnya, melainkan kesediaan untuk “turun”—menurunkan kesombongan, merendahkan hati, dan membuka tangan untuk meminta sekaligus memberi maaf.

 

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 670085853874917886

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close