Di Antara Luka dan Jalan Pulang
https://www.rumahliterasi.org/2026/04/di-antara-luka-dan-jalan-pulang.html
Cerpen: Beryl Abadi
Reza tidak pernah benar-benar menyukai pagi. Baginya, pagi adalah pengingat bahwa ia masih harus bangun, masih harus hidup, dan masih harus menghadapi dunia yang terasa seperti tidak pernah memberinya jeda. Sejak kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan dua tahun lalu, pagi berubah menjadi sesuatu yang dingin dan asing.
Di sudut kamar yang berantakan, dengan bau rokok yang tertinggal semalam, Reza membuka mata dengan malas. Jam di dinding menunjukkan pukul 07.10. Sekolah sudah dimulai sepuluh menit yang lalu.
“Bodo amat,” gumamnya sambil menutup wajah dengan bantal.
Suara pintu diketuk keras dari luar.
“Reza! Bangun! Kamu mau terus kayak gini?” suara Mbak Rika, kakaknya, terdengar tegas, tapi ada getaran lelah di dalamnya. Reza tidak menjawab.
Pintu dibuka tanpa menunggu izin. Rika berdiri di ambang, rambutnya masih basah sehabis mandi, mengenakan kemeja kerja sederhana.
“Ini sudah keterlaluan, Za,” katanya. “Kamu bolos lagi?”
Reza duduk malas, mengusap wajah. “Sekolah juga nggak ada gunanya.”
Rika menarik napas panjang. “Jangan bilang begitu. Kamu pikir hidup ini bakal jadi lebih mudah kalau kamu terus lari?”
Reza tertawa kecil, sinis. “Lebih mudah daripada pura-pura kuat kayak kamu.”
Kalimat itu seperti tamparan.
Rika terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan, “Aku nggak pura-pura. Aku cuma nggak punya pilihan.”
Reza menatapnya sekilas, lalu memalingkan wajah.
“Aku juga nggak punya,” katanya dingin.
Rika menahan sesuatu di dadanya. “Kamu punya. Kamu masih punya masa depan. Jangan hancurin itu.”
Reza berdiri, mengambil jaketnya. “Udah, aku mau keluar.”
“Kamu belum sarapan.”
“Nggak lapar.”
“Reza—”
Pintu dibanting sebelum Rika sempat menyelesaikan kalimatnya.
Di sekolah, Reza dikenal bukan karena prestasi. Ia dikenal karena masalah.
Terlambat, bolos, merokok di belakang gedung, bahkan beberapa kali terlibat perkelahian. Guru-guru mulai kehilangan kesabaran. Teman-temannya? Sebagian menjauh, sebagian lagi justru menikmati sisi liar yang ia tampilkan.
Di belakang lapangan, Reza duduk bersama dua temannya, Dimas dan Arga.
“Lu nggak masuk lagi?” tanya Dimas sambil menyulut rokok.
Reza mengangkat bahu. “Ngapain juga.”
Arga tertawa. “Gila sih lu. Tapi seru juga hidup lu, bebas.”
Reza tersenyum tipis. Bebas.
Kata itu terasa kosong.
“Lu nggak kangen rumah?” tanya Dimas tiba-tiba.
Reza terdiam.
Rumah.
Yang ada sekarang bukan rumah. Hanya bangunan dengan tembok yang sama, tapi tanpa suara ibu yang memanggilnya makan, tanpa ayah yang diam-diam memperhatikannya dari koran.
“Rumah udah nggak ada,” jawabnya pendek.
Dimas dan Arga saling pandang. Mereka tidak melanjutkan.
Hari-hari berlalu dengan pola yang sama. Reza semakin tenggelam dalam kekacauan kecil yang ia ciptakan sendiri. Nilainya anjlok, panggilan orang tua dari sekolah semakin sering—yang kini hanya dijawab oleh Rika dengan wajah lelah dan mata yang mulai kehilangan cahaya.
Suatu malam, pertengkaran besar terjadi.
Rika baru saja pulang kerja. Ia mendapati Reza tidak pulang sejak pagi.
Jam menunjukkan pukul 11 malam ketika pintu akhirnya terbuka.
“Kamu dari mana?” tanya Rika, berdiri di ruang tamu dengan wajah tegang.
Reza masuk tanpa menjawab, langsung menuju kamar.
“Reza!” suara Rika meninggi.
Reza berhenti, tapi tidak berbalik. “Apa lagi sih?”
“Apa lagi? Kamu tanya apa lagi? Kamu hilang seharian, sekolah nelpon lagi, kamu kira aku ini apa?”
Reza berbalik, matanya merah. “Aku nggak minta kamu jadi apa-apa.”
Rika tersentak.
“Tapi aku terpaksa jadi semuanya!” balasnya. “Sejak Mama sama Papa nggak ada, aku yang harus gantiin mereka. Aku yang harus kerja, ngurus rumah, ngurus kamu!”
“Aku nggak butuh itu!”
“Kamu pikir aku butuh?!” Rika hampir berteriak. “Kamu pikir aku nggak capek? Tapi aku tetap jalanin, karena ini satu-satunya cara kita bertahan!”
Reza terdiam, napasnya memburu.
“Kalau kamu terus begini,” lanjut Rika dengan suara bergetar, “aku nggak tahu sampai kapan aku bisa kuat.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Reza menatap kakaknya, untuk pertama kalinya bukan dengan marah, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang hampir ia lupakan: rasa bersalah.
Namun, ia menutupinya dengan cepat.
“Ya udah, kalau capek, tinggalin aja,” katanya dingin, lalu masuk kamar dan mengunci pintu.
Di balik pintu, Reza bersandar, menutup wajah dengan kedua tangan.
Suara tangis Rika terdengar samar dari luar.
Dan entah kenapa, itu lebih menyakitkan daripada semua kemarahan sebelumnya.
Perubahan tidak datang tiba-tiba. Ia datang pelan, seringkali melalui hal kecil yang hampir tidak disadari.
Seperti hari ketika Reza dihukum berdiri di depan kelas oleh Pak Hadi, guru yang terkenal tegas tapi jarang bicara panjang.
Setelah kelas selesai, Pak Hadi memanggilnya.
“Kamu pintar, Reza,” katanya singkat.
Reza tertawa kecil. “Nggak kelihatan.”
“Kelihatan. Tapi kamu pilih untuk tidak peduli.”
Reza tidak menjawab.
“Kamu marah?” tanya Pak Hadi.
Reza mengangkat bahu. “Biasa aja.”
“Biasa aja itu bentuk lain dari marah yang dipendam.”
Kalimat itu menusuk.
Reza menatap lantai.
“Kehilangan orang tua itu berat,” lanjut Pak Hadi pelan. “Saya juga pernah.”
Reza menoleh cepat.
“Tapi menghancurkan diri sendiri bukan cara untuk menyelesaikan rasa kehilangan.”
Reza menelan ludah. “Terus harus gimana?”
“Hadapi. Pelan-pelan. Nggak harus langsung kuat.”
Untuk pertama kalinya, seseorang tidak menuntutnya berubah secara instan.
Dan itu terasa... melegakan.
Hari itu, Reza pulang lebih awal.
Rika terkejut melihatnya.
“Kamu… pulang cepat?” tanyanya hati-hati.
Reza mengangguk. “Iya.”
Hening beberapa detik.
“Ada makanan?” tanya Reza pelan.
Rika hampir tidak percaya.
“Ada… ada di dapur.”
Mereka makan dalam diam. Tapi diam itu berbeda. Tidak lagi penuh amarah, melainkan canggung—seperti dua orang yang sedang belajar kembali menjadi keluarga.
“Maaf,” kata Reza tiba-tiba.
Sendok di tangan Rika berhenti.
“Apa?”
Reza menunduk. “Aku… banyak nyusahin.”
Rika tidak langsung menjawab. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Kita sama-sama lagi belajar,” katanya akhirnya.
Reza mengangguk pelan.
Perjalanan Reza tidak lurus. Ia masih sesekali jatuh, masih terpancing emosi, masih merasa dunia tidak adil.
Tapi ada sesuatu yang berubah.
Ia mulai masuk kelas lebih sering. Ia mulai menjauh dari kebiasaan lama. Dimas dan Arga masih mengajaknya “bersenang-senang”, tapi Reza mulai bisa berkata tidak.
“Lu berubah, Za,” kata Dimas suatu sore.
“Mungkin,” jawab Reza.
“Bosen ya jadi anak nakal?”
Reza tersenyum tipis. “Capek.”
Arga mengangguk. “Masuk akal.”
Suatu malam, Reza duduk di teras bersama Rika.
Angin malam berhembus pelan.
“Dulu aku pikir hidup kita selesai,” kata Reza.
Rika menatapnya. “Aku juga.”
“Tapi ternyata… belum.”
Rika tersenyum kecil. “Belum.”
Reza menatap langit. “Aku masih kangen mereka.”
“Aku juga.”
“Mungkin… kita nggak akan pernah benar-benar sembuh.”
Rika mengangguk. “Tapi kita bisa belajar hidup dengan luka itu.”
Reza menarik napas panjang.
“Dan tetap jalan,” tambahnya.
Rika menepuk bahunya pelan. “Dan tetap jalan.”
Pagi berikutnya, Reza bangun lebih awal.
Ia merapikan tempat tidur, sesuatu yang dulu tidak pernah ia lakukan. Ia mengenakan seragam dengan rapi, lalu keluar kamar.
Rika sudah di dapur.
“Pagi,” kata Reza.
Rika menoleh, tersenyum. “Pagi.”
“Berangkat bareng?” tanya Reza.
Rika mengangguk.
Mereka berjalan keluar rumah bersama.
Pagi masih sama—matahari terbit, udara segar, suara kendaraan mulai ramai.
Tapi bagi Reza, pagi itu berbeda.
Tidak lagi terasa seperti beban.
Melainkan seperti kesempatan.
Kesempatan untuk memperbaiki, untuk mencoba lagi, untuk menjadi seseorang yang dulu hampir hilang.
Di antara luka yang belum sepenuhnya sembuh, Reza akhirnya menemukan satu hal yang selama ini ia cari:
Jalan pulang.



