Era Guru Pragmatis: Antara Kesejahteraan dan Hilangnya Ruh Pendidikan
Sebuah refleksi kritis tentang pergeseran peran dan cara pandang guru di era modern—antara tuntutan kesejahteraan yang wajar dan ancaman hilangnya idealisme dalam dunia pendidikan.
******
Oleh: Supri HS
Semboyan Guru Pragmatis:
“Mengajar adalah tugas, tapi gaji adalah napas.”
Dahulu, guru dikenal sebagai simbol pengabdian yang sunyi—bekerja dalam ketulusan, mengabdi tanpa banyak tuntutan, dan menempatkan pendidikan sebagai panggilan jiwa. Namun hari ini, potret itu perlahan berubah. Jika kita memasuki ruang majelis guru atau sekadar mengintip percakapan dalam grup WhatsApp mereka, jangan heran jika diskusi tentang inovasi pembelajaran sering kali kalah oleh topik seputar validasi data GTK, kenaikan gaji, atau jadwal pencairan tunjangan profesi.
Kita tampaknya telah memasuki sebuah fase baru: Era Guru Pragmatis.
Sebuah masa ketika idealisme mulai bergeser menjadi perhitungan rasional, dan pengabdian tidak lagi berdiri sendiri tanpa tuntutan imbalan yang layak.
*****
Perubahan ini terlihat jelas dalam pola perilaku. Konten di media sosial yang membahas gaji dan tunjangan guru mampu menarik jutaan penonton. Sebaliknya, konten tentang metode pembelajaran kreatif atau inovasi pendidikan sering kali sepi peminat. Fenomena ini bukan tanpa sebab. Bagi sebagian guru masa kini, pedagogi tetaplah kewajiban, tetapi penghasilan adalah kebutuhan utama untuk bertahan hidup.
Guru hari ini lebih realistis. Mereka tidak lagi ingin terjebak dalam romantisme “pahlawan tanpa tanda jasa”. Mereka menyadari bahwa kebutuhan hidup tidak dapat dipenuhi dengan penghargaan simbolik semata. Di tengah tekanan ekonomi yang semakin meningkat, uang menjadi sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan. Tidak ada kasir yang menerima pembayaran dalam bentuk “pahala” atau “dedikasi”.
*****
Namun, pragmatisme ini tidak sepenuhnya negatif. Di satu sisi, ia merupakan bentuk kesadaran baru—bahkan bisa disebut sebagai perlawanan terhadap praktik eksploitasi yang selama ini kerap dialami guru. Kini, guru mulai menuntut haknya secara lebih tegas. Mereka menolak beban kerja tambahan tanpa kompensasi yang jelas. Mereka memposisikan diri sebagai tenaga profesional yang setara dengan profesi lain yang lebih dihargai secara ekonomi.
Dalam konteks ini, pragmatisme justru menjadi langkah menuju profesionalisme yang lebih sehat. Sebab, kesejahteraan guru adalah fondasi penting bagi terciptanya sistem pendidikan yang stabil dan berkualitas.
*****
Meski demikian, di balik tuntutan yang wajar itu, tersimpan potensi ancaman yang tidak bisa diabaikan: hilangnya ruh pendidikan itu sendiri. Ketika orientasi utama bergeser pada angka di rekening, muncul kecenderungan untuk bekerja sebatas “sesuai bayaran”. Inovasi dilakukan hanya jika berkaitan dengan angka kredit. Dedikasi berubah menjadi transaksi.
Hubungan emosional antara guru dan siswa pun berisiko merenggang. Kedekatan yang dulu menjadi kekuatan pendidikan perlahan dianggap sebagai beban tambahan di luar jam kerja—sesuatu yang, jika tidak dibayar, tidak perlu dilakukan. Ruang guru yang semestinya menjadi tempat bertumbuhnya ide dan kreativitas, perlahan berubah menjadi ruang administratif yang kaku dan birokratis.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ketika seorang guru tidak lagi gelisah memikirkan kualitas pembelajaran, tetapi hanya resah saat tunjangan terlambat, maka sekolah berpotensi berubah menjadi sekadar “pabrik manusia”—tempat proses berlangsung tanpa jiwa, tanpa sentuhan rasa.
*****
Era Guru Pragmatis adalah kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Kita tidak bisa menyalahkan guru yang ingin hidup layak di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Namun, kita juga tidak boleh membiarkan pragmatisme ini menggerus idealisme hingga habis.
Pemerintah memang telah melakukan berbagai langkah perbaikan, seperti penyederhanaan administrasi dan percepatan program pendidikan profesi guru (PPG). Namun, itu baru langkah awal. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, energi dan perhatian guru kembali pada esensi utama pendidikan: mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kesejahteraan seharusnya tidak berhenti pada peningkatan pendapatan, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas diri. Bukan justru beralih pada gaya hidup konsumtif atau sekadar pencitraan di media sosial.
*****
Hari ini, kita sedang berada di persimpangan jalan.
Guru pragmatis bisa menjadi motor penggerak kemajuan, jika kesejahteraan berjalan seiring dengan tanggung jawab moral dan komitmen profesional. Namun, ia juga bisa menjadi pertanda kemunduran, jika uang menjadi satu-satunya alasan seseorang berdiri di depan kelas.
Harapannya, perubahan ini tidak menghilangkan jati diri guru sebagai pendidik sejati. Sebab, pendidikan bukan sekadar pekerjaan, melainkan proses membentuk manusia.
Semoga kita tidak sampai pada titik di mana pengabdian benar-benar kehilangan maknanya.
Selamat datang di era baru—
era ketika pengabdian tidak lagi gratis, dan setiap detik pembelajaran mulai memiliki harga.
(sumber tulisan akun FB Supri HS)



