Pariwisata yang Ditinggalkan: Membaca Kemunduran dan Mencari Jalan Baru bagi Daerah
![]() |
| Pantai Salopeng Sumenep, yang kotor dan kumuh (foto: liputan7.id) |
Tulisan opini ini mengulas secara kritis stagnasi dan kemunduran sektor pariwisata daerah, dengan menyoroti kasus Sumenep sebagai refleksi problem yang lebih luas. Di balik alasan klasik keterbatasan anggaran, terdapat persoalan struktural, manajerial, dan visi pembangunan yang timpang. Tulisan ini juga menawarkan strategi solutif untuk menghidupkan kembali denyut pariwisata daerah secara berkelanjutan.
Rizka AB
Tidak sedikit destinasi wisata daerah yang dulunya hidup, ramai, dan menjadi kebanggaan lokal, kini berubah menjadi ruang sunyi yang nyaris tak bernyawa. Gerbang-gerbang masuk yang mulai berkarat, papan informasi yang pudar, fasilitas yang rusak tanpa perawatan, hingga warung-warung yang tutup karena kehilangan pembeli—semuanya menjadi potret nyata kemunduran pariwisata yang tak lagi terurus.
Fenomena ini bukan sekadar soal berkurangnya jumlah pengunjung, melainkan juga mencerminkan kegagalan tata kelola yang lebih dalam. Apa yang terjadi di Sumenep adalah contoh yang cukup representatif. Daerah yang kaya akan potensi wisata—mulai dari alam, budaya, hingga peninggalan sejarah—justru mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Pertanyaannya sederhana namun mendasar: mengapa ini terjadi?
Alasan Klasik yang Tidak Lagi Memadai
Keterbatasan anggaran hampir selalu menjadi jawaban pertama yang muncul. Dalih efisiensi anggaran negara seolah menjadi tameng yang sulit ditembus. Namun jika ditelaah lebih dalam, alasan ini terasa semakin rapuh.
Pariwisata daerah bukanlah proyek dadakan. Ia dibangun melalui proses panjang, bahkan lintas periode kepemimpinan. Infrastruktur dasar, branding awal, hingga pengenalan kepada publik sudah dilakukan jauh sebelum kebijakan efisiensi menjadi isu utama. Artinya, kemunduran yang terjadi hari ini tidak bisa semata-mata disandarkan pada kondisi anggaran saat ini.
Ada sesuatu yang lebih mendasar: kegagalan dalam menjaga keberlanjutan.
Masalah Utama: Bukan Sekadar Uang, Tapi Cara Berpikir
Kemunduran pariwisata daerah sejatinya lebih banyak dipengaruhi oleh cara berpikir pengelolaannya. Banyak pemerintah daerah masih memandang pariwisata sebagai proyek fisik, bukan ekosistem.
Akibatnya, fokus lebih banyak diarahkan pada pembangunan awal—membuka lokasi baru, membangun fasilitas, meresmikan proyek—tanpa memikirkan bagaimana mengelolanya dalam jangka panjang. Setelah peresmian, perhatian mulai berkurang, anggaran menurun, dan perlahan-lahan destinasi tersebut ditinggalkan.
Pariwisata bukan sekadar membangun, tetapi merawat, menghidupkan, dan mengembangkan.
Minimnya Inovasi dan Adaptasi
Di era digital saat ini, perilaku wisatawan telah berubah secara drastis. Wisata tidak lagi sekadar soal tempat, tetapi juga pengalaman. Orang datang bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk merasakan, mengabadikan, dan membagikan.
Sayangnya, banyak destinasi daerah gagal beradaptasi dengan perubahan ini. Promosi masih konvensional, tidak memanfaatkan media sosial secara maksimal, tidak ada storytelling yang kuat, dan minim kolaborasi dengan kreator konten.
Akibatnya, destinasi tersebut kalah bersaing dengan tempat lain yang lebih “hidup” secara digital, meskipun mungkin secara potensi tidak lebih unggul.
Tata Kelola yang Tidak Profesional
Masalah lain yang kerap terjadi adalah lemahnya manajemen. Banyak destinasi wisata dikelola tanpa standar profesional yang jelas. Tidak ada perencanaan jangka panjang, tidak ada evaluasi berkala, dan tidak ada indikator keberhasilan yang terukur.
Dalam beberapa kasus, pengelolaan bahkan cenderung bersifat administratif, bukan strategis. Fokusnya hanya pada laporan kegiatan, bukan pada dampak nyata di lapangan.
Lebih jauh lagi, rotasi pejabat dan pergantian kepemimpinan sering kali memutus kesinambungan program. Setiap pemimpin datang dengan visi baru, tanpa melanjutkan atau memperbaiki program sebelumnya. Akibatnya, pembangunan menjadi tidak konsisten.
Terputusnya Keterlibatan Masyarakat
Pariwisata yang sehat seharusnya melibatkan masyarakat lokal sebagai bagian utama dari ekosistemnya. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya: masyarakat hanya menjadi penonton.
Ketika masyarakat tidak merasa memiliki, maka kepedulian pun rendah. Lingkungan tidak dijaga, peluang ekonomi tidak dimanfaatkan secara optimal, dan pada akhirnya destinasi tersebut kehilangan daya hidupnya.
Padahal, keberhasilan banyak destinasi wisata di dunia justru bertumpu pada partisipasi aktif masyarakat.
Strategi Solutif: Menghidupkan Kembali Pariwisata Daerah
Menghadapi kondisi ini, dibutuhkan langkah-langkah strategis yang tidak hanya reaktif, tetapi juga transformatif.
1. Mengubah Paradigma: Dari Proyek ke Ekosistem
Pariwisata harus dipandang sebagai ekosistem yang melibatkan banyak pihak: pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan wisatawan. Fokus tidak lagi pada pembangunan fisik semata, tetapi pada bagaimana menciptakan pengalaman yang berkelanjutan.
2. Revitalisasi Berbasis Data
Pengelolaan harus berbasis data. Pemerintah daerah perlu memahami siapa target wisatawan, apa yang mereka cari, dan bagaimana perilaku mereka. Dengan data yang tepat, strategi yang dibuat akan lebih efektif.
3. Digitalisasi dan Branding yang Kuat
Setiap destinasi harus memiliki identitas yang jelas dan kuat. Promosi melalui media sosial, website, dan platform digital lainnya harus dilakukan secara konsisten dan kreatif. Kolaborasi dengan influencer lokal maupun nasional bisa menjadi langkah efektif.
4. Profesionalisasi Pengelolaan
Pengelolaan destinasi harus dilakukan secara profesional, bahkan jika perlu melibatkan pihak ketiga yang memiliki kompetensi di bidang pariwisata. Standar pelayanan, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan harus menjadi prioritas utama.
5. Pemberdayaan Masyarakat Lokal
Masyarakat harus dilibatkan secara aktif, baik sebagai pelaku usaha (UMKM, homestay, pemandu wisata) maupun sebagai penjaga lingkungan. Pelatihan dan pendampingan perlu dilakukan secara berkelanjutan.
6. Kolaborasi Multi-Pihak
Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan sektor swasta, komunitas, akademisi, dan bahkan diaspora daerah. Setiap pihak memiliki peran yang bisa saling melengkapi.
7. Fokus pada Pengalaman, Bukan Sekadar Tempat
Destinasi harus menawarkan sesuatu yang unik dan berkesan. Misalnya, wisata berbasis budaya dengan interaksi langsung, wisata edukasi, atau event-event tematik yang menarik.
Menghindari Mati Perlahan
Kemunduran pariwisata daerah bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari berbagai kegagalan kecil yang dibiarkan berlangsung terlalu lama.
Jika tidak segera diatasi, banyak destinasi akan mati perlahan—bukan karena tidak memiliki potensi, tetapi karena tidak dikelola dengan baik.
Kasus di Sumenep seharusnya menjadi refleksi, bukan sekadar penyesalan. Bahwa potensi sebesar apa pun tidak akan berarti tanpa visi, komitmen, dan strategi yang tepat.
Pariwisata bukan hanya soal kunjungan, tetapi tentang identitas, ekonomi, dan masa depan daerah. Jika dikelola dengan benar, ia bisa menjadi sumber kehidupan. Namun jika diabaikan, ia hanya akan menjadi cerita tentang kejayaan yang pernah ada.
Dan pertanyaan yang tersisa adalah: apakah kita akan terus membiarkannya, atau mulai bergerak untuk menghidupkannya kembali?



