Dakseno: Warisan dari Pusaran Dam Galisan
Cerpen Lilik Rosida Irmawati
Madra’i mengeratkan sarung yang berkibar-kibar tertiup angin kencang. Gemuruh ombak menyatu dengan angin yang menderu-deru seperti geraman marah yang bersahutan di awang-awang.
Dalam remang cahaya Madra’i melihat batang kelapa meliuk-liuk mengikuti arah angin bertiup. Sementara itu kilatan putih menyambar-nyambar menerangi gulita malam di luasnya lautan yang menghitam. Menggidikkan.
"Aneh, tanda apakah ini," gumam Madra’i seraya mengeratkan kembali sarungnya karena aura dingin menyusup pori-pori tulang.
Madra’i kemudian duduk bersila di hamparan pasir. Rambutnya tergerai berkibar, pun dengan sarung yang telah dililitkan erat. Mulutnya tak berhenti berdzikir memohon perlindungan dari Sang Maha Perkasa..
Mata Madra’i terkatup rapat dan tenggelam dalam kesahduan zikrurllah. Laa ila anta subhanaka inni kuntu minaddholimim
Di tengah kesyahduan yang melingkupnya, mimpi itu datang lagi. Seperti mimpi- mimpi sebelumnya datang demikian nyata. Suara pertempuran demikian dahsyat, teriakan kemarahan, ketakutan, rintihan, anyir darah dan aroma kematian. Bukan hanya kaum laki-lagi yang berlaga, teriakan perempuan-perempuan saling bersahutan mengobarkan semangat perlawanan. Dan kemudian senyap.
Madra’i mengusap peluh yang mengucur di sekujur tubuh. Setiap kali mimpi datang peluh ditubuhnya akan menganak sungai karena mimpi itu dari hari ke hari semakin nyata. Yang semula hanya sosok bayang seorang laki-laki berperawakan tinggi besar dan berpakaian ala raja dan berbisik di gendang telinga, "Dakseno... Dakseno."
Kilatan putih menyambar-nyambar di sekelilingnya. Madra’i merasakan sekujur tubuhnya membeku oleh asap putih yang datang entah dari mana.
Nama Dakseno seperti buih-buih gelombang menerjang gendang telinga dan perlahan menelusup ke hati menimbulkan getaran. Nama Dakseno yang demikian asing, dari hari ke hari semakin familiar. Nama itu semakin melekat, dan Madra’i merasakan ada sesuatu yang hilang ketika tiba-tiba mimpi terjeda. Namun ketika mimpi itu datang lagi Madra’i mesti mengingat rangkaian peristiwa yang terkadang tidak runtut dan nyambung.
Malam ini Madra’i menemukan titik temu dari misteri mimpi-mimpi panjangnya.
Mimpi itu benar nyata adanya dan rasa penasaran pun terjawab. Mata Madra’i tak berkedip menatap gubuk dari alang-alang di pinggiran dam galisan. Sepanjang mata memandang hanya hamparan pohon randu dan jati mengering. Daun-daunnya kecoklatan luruh menumpuk di area tertentu.
Mata Madra’i tertuju pada sosok laki-laki berkulit pucat memikul tembhe dari arah dam galisan. Langkah kakinya terseok-seok menapaki tanjakan. Madra’i kembali terkesiap, wajah pucat itu benar-benar ada.
"Assalamualaikum kiai," Madra’i meraih tangan laki-laki yang dipanggilnya kiai lalu menciuminya dengan takdim.
“Waalaikum salam, ayo Dakseno."
Madra’i terpaku namun kemudian mengikuti langkah laki-laki berperawakan kecil menuju gubuk di pinggiran dam galisan. Ketika telah duduk berhadapan sorot mata tua itu terus menatap lekat, menguliti setiap inci tubuh didepannya. Kesunyian menyergap.
"Siapakah Dakseno?" Madra’i tak mampu lagi menahan ledakan dalam dada ketika sosok didepannya masih membisu, dari mulutnya mengepulkan asap serta jemarinya sibuk memilin kalobut.
Laki-laki itu menatap Madra’i lekat dan kemudian tangan kanannya ditempelkan ke kening Madra’i. Sejurus kemudian Madra’i merasakan tubuhnya dialiri hawa panas di sekujur tubuh. Ketika peluh mulai bercucuran tangan laki-laki itu menyapu ke seluruh permukaan kulit dan menimbulkan sensasi sejuk.
"Tidak usah takut Dakseno," ujar Bonorogo menenangkan. Nama itu tiba-tiba saja muncul di benak Madra’i ketika aliran hawa panas dan dingin silih berganti mengaliri aliran darah.
Setelah itu Bonorogo membalikkan telapak tangan Madra’i, jemarinya lincah menelusuri garis tangan dan menekan tanda hitam diantara jempol dan telunjuk tangan kiri. Madra’i terlonjak kaget karena tanda hitam sebesar ibu jari itu berubah kemerahan dan kemudisn memancarkan cahaya.
"Hem...," senyum lebar terukir di bibir Bonorogo. "Kau benar-benar Dakseno."
Sejurus kemudian Bonorogo melepaskan tangan Madra’i setelah mengusap berkali-kali menggunakan air liurnya. Semerbak bunga melati menguar dari jemari keriput Bonorogo, aromanya menenangkan dan melelapkan.
Ketika terjaga kerlip bayangan bulan yang memantul di permukaan dam gilasan menyadarkan Madra’i bahwa sudah cukup lama terlelap dalam tidur panjang. Sesaat kemudian benaknya dipenuhi tanda tanya besar, bukankah waktu di perjalanan ia menyaksikan bulan sabit melengkung di langit barat?
Saat kesadarannya benar-benar utuh gema dzikir terdengar di sekelilingnya, Madra’i menajamkan pendengarannya karena suara dzikir itu bukan saja berasal dari bibir kiai Bonorogo. Suara dzikir itu bersahutan, menggema memasuki ruang-ruang kosong.. Angin mati.
Madra’i bersila kemudian melafadzkan dzikir mengikuti kiai Bonorogo. Alunan dzikir semakin menggema diiringi gemeririk air dam galisan yang semakin lama semakin bergelombang. Dalam kesyahduan dzikrullah Madra’i berusaha mencari jawab siapakah gerangan yang mmengikuti dzikir kiai Bonorogo? Dzikir yang menggetarkan semesta.
"Pikiran dan hatimu belum bisa fokus, “ujar kiai Bonorogo sembari terkekeh bakda shalat Subuh, “sepertinya hati dan pikiranmu perlu di olah lagi. Jeda sepeninggal Asral dengan kedatanganmu kesini terlalu lama.”
“Mad Durakah?” Madra’i menyimak penuturan kiai Bonorogo dan berusaha mencari benang merah nama Asral. Laki-laki dengan wajah penuh codet serta kilatan mata merah.. sosok yang menakutkan bagi yang melihatnya namun sangat penyayang.
“Mad Dura?” kiai Bonorogo terkekeh memperlihatkan giginya yang ompong. “dan anak asuhnya Madra’i. Bunglon yang sempurna.”
Madra’i tertunduk. Amanah Mad Dura sebelum menghembuskan nafas terakhir tidak langsung dijalankan karena kebimbangan. Satu tahun pertama sejak kematian Mad Dura hidup Madra’i seperti tanaman mati enggan hiduppun tak mau. Hari-hari panjangnya dihabiskan berjalan menelusuri pantai sampai jauh dan letih, kemudian kembali lagi ke tempatnya di tepi hutan pesisir Air Tawar.
Untuk mempertahankan hidupnya seringkali Madra’i mencuri makanan sisa nyalase yang biasa dikirimkan oleh warga sekitar ke kuburan setiap Kamis malam. Biasanya berbagai makanan, jajannan pasar dan uang di taruk dalam sebuah ancak yang di buat dari pelepah pisang. Malam hari barulah Madra’i berani keluar mengais sisa makanan, karena pada sore menjelang petang biasanya anak-anak bandel secara diam-diam mencuri isi ancak yang dikirimkan pada arwah dan jasad yang telah terkubur di makam Seng.
Sebagaimana Asral, sebisa mungkin Madra’i menghindar berkomunikasi dengan warga sekitar. Kisah angker hutan yang ditempati serta dilindungi karang menjulang menjadi hunian nyaman, tak terusik. Malam-malam kesendiriannya dihabiskan memperdalam kanuragan dengan meniru gerakan-gerakan tupai, ular dan binatang lainnya dan mengkombinasikan gerakan dasar yang diajarkan Mad Dura.. diambang petang kemudia berendam di air tawar. Ketika laut surut, kekuatan tangannya menggali pasir menjadi sumur kecil, berendam semalaman hingga buih-buih putih dan gelombang menerjang dan tak mampu seincipun menggeser raga Madra’i.
Berada di gubuk Bonorogo tubuh Madra’i semakin kokoh dan mata batinnya terbuka. Banyak sekali keanehan yang dijumpai Madra’i namun takut untuk menanyakannya. Termasuk saat menyiram tanaman yang berbalik arah jarum jam. Semua tanaman disiram ketika matahari tepat di atas ubun-ubun, dan untuk jenis bunga-bungaan disiram tepat tengah malam. Semua jenis tanaman berada dalam sebuah lingkaran, bambu kuning dan pohon Bukkol;.
Di dalam lingkaran bambu kuning tumbuh bunga mawar merah besar dan merah kecil, empon-empon, kumis kucing, sereh hijau dan putih. Di pojok bedengan tumbuh pohon zaitun dan pinisilin. Secara telaten Bonorogo mengajarkan khasiat semua tumbuhan di sekitar dam gilasan. Dari akar, daun, batang dan bunga yang berkhasiat bagi tubuh manusia, dan juga beberapa tanaman untuk menyembuhkan penyakit akibat sihir.
Ketika pertama kali Madra’i meremas dan menyicip getah di beragam daun rasa kebas, kelu dan sakit menjalar di bagian wajah dan menimbulkan kram di perut. Satu minggu kemudian rasa itu hilang dengan sendirinya. Dan ketika menanyakan keanehan cara bercocok tanam yang diluar kelaziman kiai Bonorogo terkekeh, sejurus kemudian matanya menatap tajam Madra’i
"Tajamkan mata batinmu, Dakseno. Diperutmu itu hanya berisi sampah dan itu yang menyebabkan mata batinmu tersumbat."
Madra’i terdiam serta berusaha mencerna kalimat sarkas yang dilontarkan Bonorogo. Namun nalarnya tak mampu memaknai Kebingungan kembali melanda batinnya.
"Mimpi itu? Dan siapakah saya?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibirnya. "Tolonglah saya,"
"Dakseno," tiba-tiba ada dengung suara lirih dan perlahan menggema di seluruh area pebukitan. Mata Madra’i terbelalak ketika air dam gilasan tiba-tiba bergelombang diiringi gemuruh angin menerbangkan semua benda yang ada di sekitar. Tiupan angin semakin kencang kemudian membentuk lingkaran di pemukaan air dan berubah menjadi pusaran, mengaduk-aduk air dam gilasan.
Madra’i menatap takjub ketika air dam gilasan berubah menjadi kehitaman dan dari pusaran air yang pekat itu muncul bayangan manusia tinggi besar. Bayangan itu semakin lama semakin mengecil lalu menampakkan wajah yang tak asing lagi. Wajah yang selalu muncul dalam mimpi-mimpinya.
"Dakseno.,," panggilan suara itu berasal dari arah dam gilasan. Madra’i terpaku dan tubuhnya bergetar hebat ketika sosok tubuh itu melayang mendekatinya. Madra’i ambruk.
Ketika tersadar kiai Bonorogo duduk bersila seraya mengusap-usah seluruh permukaan badan Madra’i.
"Siapakah dia?" Madra’i mengerling ke arah dam gilasan.
Bonorogo tertawa melihat raut pias di wajah Madra’i. "Eyangmu, panembahan Ronggosukowati."
Satu purnama telah berlalu, sejak pertemuan fisik dengan panembahan Ronggosukowati gemblengan pada Dakseno kian bertambah berat. Setiap bakda Dhuhur sampai menjelang magrib rutinitas yang dilakukan Dakseno mengelilingi dam galisan sembari memikul tembha di kedua bahunya. Tanpa beristirahat kegiatan dilanjutkan berjamaah sholat Maghrib, berdzikir, sholat Isya dan berendam di dam galisan.
Di tengah kekhusukan berdzikir Dakseno melihat cahaya api yang berpendar di kejauhan. Genduru, Lamat-lamat terdengar kegaduhan, pekikan dan teriakan ketakutan serta tubuh bergelimpangan dimana-mana. Taon. Dakseno bergidik ngeri, dan mata batinnya melihat ribuan burung Dangdang beterbangan rendah sangat berisik, kaok-kaok bersahutan. Anak-anak di gendongan sang ibu berteriak ketakutan berbaur dengan suara burung Dangdang.
Ketika membuka mata sosok panembahan Ronggosukowati tersenyum. Sejurus kemudian tanganya dijulurkan dan memindai telapak tangan Dakseno. Hawa panas mengalir ke seluruh nadi.
“Pergi dan bantulah saudara-saudaramu,” titah panembahan Ronggosukowati
Malam itu juga Dakseno melakukan perjalanan ke arah timur daya. Langkah kakinya sangat cepat memasuki area yang belum pernah dijamahnya. Sepanjang perjalanan aroma busuk bangkai menguar dimana-mana.
Dakseno berhenti di sebuah pemukiman yang cukup padat, desa ini belum terjamah Taon. Namun demikian sang pemimpin desa, pak Kalebun tidak serta-merta menerima Dakseno tetapi dengan sombongnya menantang Dakseno dengan mengerahkan para balaternya. Dalam hitungan menit para balater tumbang hanya dengan jentikan jari yang memancarkan sinar kebiruan dari telapak tangan Dakseno.
“Tidak ada waktu lagi kalebun,” perintah Dakseno mengangkat tubuh kalebun yang bersujut, akibat kekalahannya. “Kumpulkan semua warga dan panggil kiai Hasbullah.”
Melalui batinnya Dakseno berinteraksi dengan kiai Hasbullah yang tinggal di paseser. Untuk bersiap di jemput pasukan berkuda. Tak berapa lama seluruh warga datang berduyun-duyun ketika mendengan bunyi kentongan yang bersahutan dengan nada panggil berkumpul di teggel dekat rumah panggung Kalebun.
Dengan takzim Dakseno mencium tangan kiai Hasbullah ketika kiai sepuh itu turun dari kuda. Dakseno terkesiap karena wajah kiai Hasbullah serupa dengan kiai Bonorogo. Persisi sama, hanya warna kulit yang sedikit membedakannya. Apakah mereka saudara kembar?
“Dakseno, mari,” ajak kiai Hasbullah beranjak menuju teggel. Begitu rombingan Kalebn tiba suasana menjadi hening.
“Assalamualaikum, taretan sadajah,” gemuruh jawaban salam terdengar di malam yang hening. Para warga yang berkumpul kemudian mengikuti alunan shalawat dan dzikir yang dipimpin kiai Hasbullah. Di tengah kesahduan alunan shalawat dan dzikir terdengar suara kaok-kaok Dangdang memecah angkasa. Entah darimana tiva-tiba saja ribuan burung hitam itu terbang rendah memutari para warga yang khusyuk berdzikir kemudian dilanjutkan dengan membaca burdah.
Untuk menghindari kekhawatiran dan ketakutan akan datangnya taon, Dakseno meminta para kepala dusun berkumpul dan bermusyawarah meminimalkan korban yang berjatuhan. Dalam mustawarah itu Dakseno memerintahkan warga mmengumpulkan tempah-rempah dan dedaunan yang mengandung obat penurun panas dan .sesak nafas seperti daun sirih tanah, buah ara, jahe, kopi, teh hitam dan daun kayu putih.
Di bawah bimbingan Dakseno para ibu mengolah bahan, menjemur, menumbuk dan sebagian lagi menyangrai. Dakseno mengajarkan jumlah takaran yang sesuai dan membacai doa sebelum jamo itu dibungkus daun jagung kering.
Jamu-jamu itu kemudian dikirimkan ke beberapa desa dan berhasil menyelamatkan nyawa ratusan warga. Warga yang terkena gejala awal demam tinggi, sesak nafas dan kulitnya kehitaman akan tertolong, namun bagi yang berusia lanjut jamu-jamu itu tidah berpengaruh.
Desa dimana Dakseno tinggal sementara mulai mencekam karena taon sebagian warga yang keluar masuk ikut serta membawa bakteri. Sang kalebun akhirnya mengisolasi area desanya, sedangkan yang telah tertular ditempatkan di tepi hutan di bawah pengawasan Dakseno.
Ketika wabah sampar mulai reda tiba-tiba saja sosok Dakseno menghilang bak di telan bumi. Pak Kalebun akhirnya menemui kiai Hasbullah untuk mempertanyakan keberadaan Dakseno namun tidak menemukan jawaban yang pasti karena kiai sendiri tidak tahu keberadaan Dakseno. Sang kalebun ternganga ketika mendengar kiai Hasbullah menyampaikan kalau Dakseno adalah titisan raja lima ratus tahun silam, dan akan datang kembali untuk membenahi kebobrokan akhlaq.
Cerita ini terinspirasi dari latar pendiri kerajaan pertama di Pamekasan
Arti kata:
dam galisan; dam kecil
tembhe; timba terbuat dari daun siwalan
kalobut; rokok (tembakau dibungkus daun jagung kering)
nyalase; mengirim makanan langsung ke kuburan
bukkol; pohon bidara
genduru; cahaya yang muncul di langit pertanda ada musibah/wabah
taon; wabah
kalebun; kepala desa
balater; jawara
paseser; pesisir
teggel; tegalan
taretan; saudara
dangdang; burung gagak
jamo; jamu



