Empat Bulan Gelap: Saat Madura Kehilangan Cahaya pada 1999
Malam di Madura biasanya hidup. Di teras rumah, orang-orang duduk bercengkerama sambil menyeruput kopi. Anak-anak berlari di halaman. Warung-warung kecil tetap buka hingga larut, diterangi lampu neon sederhana yang menggantung di sudut atap. Dari kejauhan, suara radio dangdut bercampur dengan bunyi jangkrik dan angin laut.
Catatan Redaksi
Namun pada Februari 1999, semua berubah mendadak.
Pulau Madura seperti dipaksa kembali ke masa puluhan tahun sebelumnya. Lampu padam total. Mesin-mesin berhenti. Televisi mati. Kipas angin tak bergerak. Jalan-jalan gelap. Dan yang paling diingat banyak orang: malam terasa sangat panjang.
Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai “Zaman Kegelapan Madura”, sebuah masa ketika hampir seluruh pulau mengalami pemadaman listrik besar-besaran selama kurang lebih empat bulan.
Penyebabnya bukan perang, bukan bencana alam besar, melainkan putusnya kabel transmisi listrik bawah laut yang menyuplai daya dari Gresik ke Madura. Kabel itu rusak setelah tersangkut jangkar kapal MV Kota Indah. Seketika, pasokan listrik ke Madura lumpuh total.
Bagi generasi sekarang, pemadaman beberapa jam saja sudah cukup membuat keluhan di media sosial berhamburan. Tetapi pada 1999, masyarakat Madura menghadapi gelap berbulan-bulan, dalam situasi ekonomi nasional yang juga sedang goyah akibat krisis moneter pasca-Reformasi.
Madura seakan terisolasi dalam sunyi.
Di banyak kampung, malam berubah menjadi pekat. Hanya cahaya lampu minyak dan sentir yang menemani aktivitas warga. Sebagian keluarga kembali menggunakan petromaks yang sudah lama disimpan di gudang. Anak-anak belajar dengan penerangan seadanya, duduk dekat nyala api kecil yang membuat mata cepat perih.
Sebagian orang tua masih mengingat bagaimana asap lampu minyak memenuhi ruang tamu. Bau minyak tanah menjadi aroma khas malam-malam panjang itu. Di sudut dapur, ibu-ibu memasak sambil menghemat bahan bakar. Sementara para bapak duduk di luar rumah, membicarakan kapan listrik akan kembali menyala.
Radio menjadi sumber informasi utama. Televisi nyaris tak berguna kecuali bagi mereka yang memiliki genset. Itupun hanya dimiliki segelintir orang kaya, kantor pemerintah, atau pengusaha tertentu.
Di kota-kota seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep, denyut ekonomi ikut tersendat. Banyak usaha kecil terpukul. Tukang es kesulitan mempertahankan dagangan. Pengrajin yang bergantung pada mesin listrik harus menghentikan produksi. Tempat pencetakan foto dan percetakan kecil lumpuh.
Warung-warung memilih tutup lebih cepat karena gelap membuat pembeli enggan keluar malam.
Pada masa itu, keberadaan listrik belum semasif sekarang, tetapi ketergantungan masyarakat sudah mulai tinggi. Karena itulah pemadaman panjang tersebut terasa seperti kehilangan separuh kehidupan modern.
Yang paling berat mungkin dialami pelajar dan mahasiswa. Menjelang ujian sekolah, banyak siswa belajar dalam cahaya remang-remang. Sebagian harus pergi ke tempat tertentu yang memiliki genset hanya untuk mengetik tugas atau mencetak dokumen. Di beberapa daerah, warga bahkan patungan membeli genset kecil untuk dipakai bergiliran.
Meski demikian, di tengah keterbatasan itu, muncul juga sisi lain kehidupan masyarakat Madura yang jarang dibicarakan hari ini: solidaritas sosial.
Saat listrik padam, orang-orang justru lebih banyak berkumpul. Anak-anak bermain di luar rumah lebih lama. Tetangga saling bertamu karena televisi tidak lagi menyita perhatian. Banyak orang mengenang masa itu sebagai era ketika kampung menjadi lebih hidup secara sosial, meskipun secara ekonomi penuh kesulitan.
Malam-malam diisi dengan cerita, obrolan, dan suara manusia, bukan suara mesin elektronik.
Namun romantisme itu tentu tidak menghapus penderitaan yang ada. Empat bulan tanpa listrik tetaplah pukulan berat bagi masyarakat. Terlebih Madura saat itu belum memiliki infrastruktur cadangan yang memadai. Ketergantungan pada suplai listrik dari Jawa membuat pulau ini sangat rentan.
Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan betapa pentingnya infrastruktur energi bagi kehidupan masyarakat kepulauan. Satu kabel bawah laut putus, satu jangkar kapal tersangkut, maka jutaan orang bisa terdampak.
Di masa sekarang, kisah itu terdengar nyaris seperti legenda. Generasi muda Madura mungkin sulit membayangkan hidup tanpa listrik selama berbulan-bulan. Tanpa internet. Tanpa ponsel pintar. Tanpa pendingin ruangan. Bahkan tanpa hiburan televisi.
Tetapi bagi mereka yang mengalaminya, kenangan itu masih sangat nyata.
Sebagian masih mengingat malam yang sangat gelap di jalan-jalan kota. Sebagian lagi ingat suara genset meraung dari rumah pejabat atau toko besar. Ada yang mengingat panasnya tidur tanpa kipas angin. Ada pula yang masih terkenang bagaimana satu kampung berkumpul hanya untuk menonton televisi hitam-putih yang disambungkan ke aki.
Peristiwa itu menjadi penanda zaman: bahwa modernitas ternyata rapuh. Bahwa cahaya yang dianggap biasa setiap hari sesungguhnya adalah kemewahan yang baru terasa nilainya ketika hilang.
Kini Madura jauh lebih terang dibanding dua dekade lalu. Jembatan Suramadu berdiri megah, akses semakin terbuka, dan jaringan listrik semakin berkembang. Tetapi cerita tentang empat bulan gelap pada 1999 tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Ia bukan sekadar kisah pemadaman listrik.
Ia adalah cerita tentang sebuah pulau yang pernah dipaksa berjalan pelan di tengah gelap, tentang masyarakat yang bertahan dengan lampu minyak dan kebersamaan, serta tentang bagaimana satu kabel putus pernah membuat seluruh Madura berhenti bernapas sejenak.


