M. Tabrani: Dari Tanah Madura Menuju Api Pergerakan Bangsa
![]() |
| M. Tabrani (kanan). Sejak muda, ia memperlihatkan kecintaan pada ilmu pengetahuan. |
Kisah awal kehidupan Mohammad Tabrani Soerjowitjirto, pemuda Madura yang tumbuh dari lingkungan sederhana dengan semangat belajar yang kuat. Dari tanah kelahirannya, ia menapaki dunia jurnalistik dan pergerakan nasional hingga menjadi salah satu tokoh penting dalam perjuangan identitas bangsa Indonesia.
Di sebuah masa ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda, lahirlah seorang anak yang kelak ikut menentukan arah perjalanan bangsa. Namanya Mohammad Tabrani Soerjowitjirto, atau yang kemudian lebih dikenal sebagai M. Tabrani S. Ia lahir pada 10 Oktober 1904, di tengah suasana negeri yang masih terjajah dan masyarakat yang hidup dalam sekat-sekat feodal serta kedaerahan.
Tabrani berasal dari keluarga besar. Ia adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara, pasangan R. Panji Soeradi Soerowitjitro dan R. Ayu Siti Aminah. Dari keluarganya, ia mewarisi kedisiplinan, keteguhan watak, sekaligus keberanian untuk berpikir melampaui zamannya. Madura, tanah yang dikenal keras dan teguh memegang harga diri, membentuk karakter Tabrani menjadi pribadi yang tidak mudah tunduk pada tekanan.
Sejak muda, ia memperlihatkan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Pendidikan yang ditempuhnya bukan pendidikan biasa untuk ukuran pribumi masa kolonial. Setelah menyelesaikan MULO, ia melanjutkan ke OSVIA di Bandung, sekolah calon pegawai pemerintahan bumiputra yang cukup bergengsi pada masa itu. Di kota itulah cakrawala pikirannya mulai terbuka lebih luas.
Bandung pada awal abad ke-20 bukan sekadar kota pendidikan. Di sana tumbuh diskusi-diskusi tentang kebangsaan, kemerdekaan, dan masa depan bumiputra. Para pelajar mulai mempertanyakan mengapa bangsanya harus terus hidup di bawah penjajahan. Di tengah atmosfer intelektual itulah minat Tabrani terhadap jurnalistik tumbuh kuat.
Ia mulai memahami bahwa pena bisa menjadi alat perjuangan yang sama tajamnya dengan senjata. Surat kabar bukan hanya media berita, tetapi ruang perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial. Maka ketika banyak pemuda memilih jalur birokrasi, Tabrani justru tertarik menekuni dunia pers.
Keputusan itu bukan pilihan yang mudah. Menjadi wartawan pada masa kolonial berarti berhadapan langsung dengan pengawasan pemerintah Belanda. Namun Tabrani tampaknya sadar bahwa perubahan tidak lahir dari kenyamanan. Ia ingin ikut membangunkan kesadaran rakyat melalui tulisan.
Bakatnya berkembang cepat. Pada tahun 1925, di usia yang masih sangat muda, ia sudah dipercaya memimpin harian Hindia Baroe. Kemampuan menulis, kecakapan berpikir, serta keberaniannya dalam menyampaikan gagasan membuat namanya mulai diperhitungkan di kalangan pergerakan nasional.
Kehausannya terhadap ilmu jurnalistik bahkan membawanya ke Eropa. Saat banyak pemuda Indonesia belum memiliki kesempatan belajar ke luar negeri, Tabrani justru melanjutkan studi di Universitas Köln, Jerman. Di sana ia tidak sekadar belajar teori jurnalistik, tetapi juga menyaksikan bagaimana pers modern bekerja sebagai kekuatan politik dan sosial.
Selama berada di Eropa pada periode 1926 hingga 1930, ia tetap aktif membantu beberapa surat kabar di Indonesia. Dari kejauhan, pikirannya tetap tertambat pada tanah air yang sedang mencari bentuk kebangsaannya. Ia menjadi bagian dari generasi muda Indonesia yang mulai melihat bahwa perjuangan melawan penjajahan membutuhkan identitas bersama.
Pengalaman hidup di luar negeri memperkuat pandangannya tentang pentingnya persatuan nasional. Ia melihat bangsa-bangsa besar berdiri karena memiliki bahasa, identitas, dan cita-cita bersama. Sementara di Hindia Belanda, masyarakat masih terpecah dalam identitas kesukuan dan daerah.
Sekembalinya ke Indonesia, Tabrani tidak lagi hanya menjadi wartawan biasa. Ia menjelma menjadi pemikir pergerakan. Dunia jurnalistik menjadi jalur perjuangannya untuk membentuk kesadaran nasional.
Ia aktif di Jong Java dan terlibat dalam Kongres Pemuda I pada 1926 sebagai ketua kongres. Di forum itulah untuk pertama kalinya gagasan besar tentang bangsa Indonesia mulai dirumuskan secara lebih jelas. Di tengah perdebatan para tokoh muda, Tabrani memperlihatkan keberanian berpikir yang melampaui zamannya.
Ia memahami bahwa perjuangan kemerdekaan tidak cukup hanya dengan semangat melawan penjajah. Bangsa ini harus memiliki nama, identitas, dan bahasa yang mempersatukan seluruh suku di Nusantara.
Pemikiran itulah yang kemudian menjadikan Tabrani bukan sekadar wartawan atau aktivis pemuda. Ia sedang meletakkan pondasi bagi lahirnya Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Perjalanan panjangnya baru saja dimulai. Namun sejak masa muda itu, terlihat jelas bahwa Tabrani bukan tipe tokoh yang mencari kemasyhuran pribadi. Ia lebih memilih bekerja melalui tulisan, gagasan, dan pendidikan kesadaran bangsa.
Dari tanah Madura yang sederhana, lahirlah seorang pemuda yang kelak ikut menentukan bahasa dan identitas Indonesia. Sebuah perjuangan yang tidak selalu tercatat besar dalam buku sejarah, tetapi jejaknya tetap hidup dalam setiap kata “Bahasa Indonesia” yang diucapkan bangsa ini hingga hari ini.
(Redaksi)



