Pendidikan Berbasis Kebudayaan untuk Masa Depan Madura


Pendidikan tidak hanya berfungsi mencetak generasi terampil, tetapi juga membentuk manusia yang mengenal akar budayanya. Tulisan ini mengulas tantangan pendidikan di Madura, pengaruh sistem pendidikan nasional terhadap budaya lokal, serta pentingnya menghadirkan pendidikan berbasis kebudayaan untuk membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan tidak tercerabut dari lingkungan sosialnya.

Persoalan pendidikan selalu menarik untuk diperbincangkan dan senantiasa menjadi sorotan publik yang aktual. Terlebih lagi, sistem pendidikan di Indonesia acap kali mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Namun, pada kenyataannya, perubahan tersebut belum sepenuhnya mampu membawa pendidikan kita menuju cita-cita yang diharapkan. Dalam perjalanannya, pendidikan nasional masih tampak terseok-seok layaknya negeri yang baru memulai pembangunan.

Yang lebih memprihatinkan, berbagai hasil kajian menunjukkan bahwa kualitas pendidikan masyarakat, khususnya di kepulauan Madura, masih berada pada level yang relatif rendah dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Indonesia. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan besar yang membutuhkan perhatian bersama.

Melemahnya kualitas pendidikan masyarakat Madura tidak dapat dilepaskan dari pengaruh sistem pendidikan nasional yang selama ini dikembangkan. Sistem pendidikan tersebut sering kali terasa jauh dari akar budaya dan lingkungan sosial peserta didik. Akibatnya, generasi muda yang diharapkan menjadi teladan di daerahnya justru tumbuh asing terhadap masyarakat dan budayanya sendiri.

Pendidikan yang tidak berlandaskan kebudayaan berpotensi melahirkan generasi yang tercerabut dari kehidupan sosialnya. Anak didik mungkin mampu bersaing di luar daerah atau bahkan di luar negeri, tetapi tidak memahami lingkungan dan budaya tempat kelahirannya sendiri.

Realitas tersebut merupakan implikasi dari sistem pendidikan yang terlalu bertumpu pada silabus dan kurikulum formal tanpa mempertimbangkan kekayaan budaya lokal. Pendidikan akhirnya lebih diarahkan pada pembentukan manusia yang mekanistis, seperti mesin kerja, dengan orientasi utama pada dunia pekerjaan semata, bukan pada pengembangan pengetahuan dan kemanusiaan secara utuh.

Kesan yang muncul kemudian adalah bahwa keberhasilan pendidikan hanya ditentukan oleh satu instrumen teknis-operasional, yakni kurikulum. Lembaga pendidikan yang tidak sepenuhnya mengikuti ketentuan pusat dianggap gagal menjalankan proses pendidikan. Dalam situasi seperti itu, masyarakat Madura yang dikenal religius, beragam, dan menjunjung tinggi nilai budaya perlahan dipaksa melupakan akar budayanya sendiri.

Tidak jarang ditemukan generasi muda Madura yang tidak mampu berbahasa Madura. Bahkan, sebagian dari mereka tidak memahami tradisi dan kebudayaan daerahnya sendiri. Lebih ironis lagi, ada yang merasa asing dengan tanah kelahirannya.

Selain melahirkan generasi yang melupakan budaya, sistem pendidikan yang terlalu menekankan aspek individual juga cenderung membentuk peserta didik yang individualistis. Nilai-nilai kebersamaan yang sejatinya menjadi ruh pendidikan perlahan memudar. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa secara menyeluruh, melainkan sekadar jalan untuk memperoleh pekerjaan.

Akibatnya, sekolah dan perguruan tinggi hanya dipandang sebagai alat untuk meraih pekerjaan, bukan sebagai ruang pembentukan manusia yang matang secara intelektual, emosional, dan spiritual.

Karena itu, sistem pendidikan yang hanya bergantung pada satu instrumen formal tidak akan mampu sepenuhnya mengangkat derajat masyarakat Madura maupun bangsa secara luas. Salah satu penyebab utamanya adalah konsep pendidikan yang selama ini lebih banyak mengadopsi pola pikir Barat tanpa terlebih dahulu melakukan pengamatan dan penelitian mendalam terhadap karakter budaya lokal, terutama di Madura.

Berdasarkan berbagai pengamatan dan kajian tersebut, sudah semestinya lahir terobosan-terobosan strategis dalam dunia pendidikan yang lebih mengedepankan nilai-nilai kebudayaan. Model pendidikan yang dikembangkan memang tetap dapat mengacu pada sistem pendidikan nasional, tetapi pelaksanaannya harus mampu mengoptimalkan nilai kebersamaan yang hidup di tengah masyarakat.

Salah satu bentuknya adalah memperkuat budaya belajar kelompok sehingga kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik dapat tumbuh secara bersama-sama. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepekaan sosial dan semangat kolektif.

Dengan kata lain, meskipun mengacu pada sistem pendidikan nasional, implementasinya harus dilakukan secara kreatif sesuai dengan karakter masyarakat setempat. Eksplorasi pembelajaran dapat diarahkan pada pola belajar bersama dan saling menjadi guru di antara sesama peserta didik. Dari proses tersebut akan tumbuh rasa saling memiliki, saling membantu, dan saling melengkapi.

Model pembelajaran seperti ini juga dapat mengurangi kecenderungan putus asa atau frustrasi yang kerap dialami peserta didik, terutama mereka yang masih berada pada tahap perkembangan usia muda.

Sistem tersebut tentu tidak mengharuskan perubahan total terhadap kurikulum nasional yang telah ada. Persoalan utamanya bukan terletak pada kurikulum itu sendiri, melainkan pada hilangnya akar kebudayaan dalam proses pendidikan, terutama nilai-nilai kebersamaan yang secara alami hidup dalam masyarakat.

Oleh sebab itu, sudah saatnya budaya-budaya lokal dihargai, ditata kembali, dan dirajut ulang dalam sistem pendidikan kita. Hanya melalui mekanisme dan terobosan semacam itulah peserta didik dapat didorong menuju perilaku kolektif yang sejalan dengan cita-cita substansial pendidikan nasional. Pada akhirnya, proses tersebut akan membantu peserta didik membangun kualitas diri dan meningkatkan sumber daya manusianya.

Tanpa pendidikan yang berbasis kebudayaan, generasi muda akan semakin kehilangan rasa sosial dan semakin jauh dari masyarakatnya sendiri. Karena itu, penataan ulang sistem pendidikan yang lebih berorientasi pada budaya lokal membutuhkan sumbangan pemikiran dari seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan.

Oleh: Busri Toha

Tulisan terkait

Utama 7211122580933602144

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 

Jadwal Sholat

item