Pentigraf Alam Berbisik, Prioritas Tempe Mendoan


Pentigrafis: Aprita Nenny Poetry

 

Alam Berbisik

Langit yang awalnya cerah mulai menghitam. Tidak terdengar lagi suara pekerja yang saling bersahutan. Saatnya pulang karena alam sudah mulai tidak bersahabat.

Seperti berjalan di lorong gelap, dingin, hampa, padahal tadinya tubuh bercucuran keringat. Tiba-tiba laju sepeda motor berhenti mendadak. Gegas sang istri yang duduk di belakang mencengkram bahu suaminya. Lirih dari mulutnya keluar do'a-do'a keselamatan. Suaminya menatap sambil menggeleng, berharap semua baik- baik saja. Langit makin menghitam, aroma dedaunan semakin menusuk hidung. Suara jangkrik mulai bersahutan ditimpali suara katak memanggil hujan. Menyesal kenapa tadi terlalu terlena dengan suasana alam yang seperti bersahabat.

Kembali suaminya berusaha menghidupkan mesin motor tua itu. Berhasil, motor tua itu meraung kuat. Gegas mereka menaiki motor dan memacu kearah perkampungan. Sekilas jilbab sang istri tertarik ke belakang, terdengar bisikan halus, " makanya kalau ke kebun jangan sore-sore, gitu aja udah takut ".

 

 

Prioritas

Pertanyaan yang sama selalu terlontar padanya. Kenapa dia memilih berhenti di saat karirnya sedang naik. Di saat semua orang menginginkan berada diposisinya.

Dia tahu ini sulit tapi dia harus memilih. Walaupun dia sendiri mengakui bahwa untuk mencapai apa yang sudah didapatnya ini butuh perjuangan dan pengorbanan. Banyak hal yang sudah dia korbankan, waktu, tenaga dan pikiran terkuras untuk memaksimalkan pencapaiannya. Tapi di saat berada diposisi puncak tiba-tiba tanpa alasan dia melepaskan semuanya. Baginya cukup dengan selembar surat pengunduran diri saja semuanya selesai. Dia tidak perduli ada banyak tanya dari rekan dan koleganya. Keputusannya sudah tidak bisa dirubah

Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari kamar anaknya. Gegas dia melangkah dan tersenyum manis pada putri kecilnya yang di diagnosa terkena penyakit langka. Seluruh ototnya nyaris tidak berfungsi, bahkan terkadang sekedar mereguk air putihpun putrinya kesulitan. Inilah alasan kenapa dia melepaskan semua impiannya, demi kesembuhan putri tercinta yang menjadi prioritasnya saat ini.

 

 

Tempe Mendoan

Tergesa ibu tua itu berlari, seperti ada yang mengejar. Berhenti sejenak meredakan nafasnya yang mulai memburu. Lalu kembali berlari sekuat yang ia mampu, menuju arah yang hanya dia sendiri yang tahu.

Setengah jam yang lalu ibu tua itu berada ditengah pasar tradisional. Duduk diantara pedagang dengan setandan pisang 🍌tua. Raut mukanya sedikit tegang, kegelisahan mendera terlihat dari keringat yang menetes ditubuhnya. Sampai akhirnya setandan pisang dihadapannya dibeli oleh seorang pelanggan. Bergegas ibu tua tersebut berdiri, lalu menuju pedagang tempe untuk membeli sepotong tempe seharga 5 ribu rupiah.

Ibu tua itu membuka pintu gubuknya, terlihat 3 orang anak kecil tertidur lelap, sementara disampingnya terlihat sepiring nasi yang mulai dingin. Ibu tua itu tersenyum karena hari ini ia bisa memberi cucunya tempe mendoan sebagai lauk. Sementara itu tak jauh dari gubuk tersebut seorang petani pisang kehilangan setandan pisangnya.

*****

Aprita Nenny Poetry bermukim di Pekanbaru, aktivitas Sosiology Teacher di Disdik Prov Riau, dan pernah bekerja sebagai Comunity organizer di LSM Riau Mandiri

Tulisan terkait

Utama 8332259909856173487

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


Contoh Gambar Contoh Gambar Contoh Gambar Contoh Gambar Contoh Gambar

Jadwal Sholat

item