Puisi-Puisi Ainun Nafis
https://www.rumahliterasi.org/2026/05/puisi-puisi-ainun-nafis.html
Ainun Nafis, Alumnus Al-Azhar, beberapa puisinya di antologikan di dalam (Dalam Hening Kami Bicara) saat ini sedang berteduh di ruang sastra, PPA Lubangsa Utara (Reguler).
Antara Santri dan Puisi
Aku anak sulung
Yang membabi jalang dengan nafsu
Menata masa depan
Bersama doa-doa tanpa geming.
Lubtara mengajakku untuk berteduh
Bertirakat pada masa lalu kelam
Melawan arus takdir
Melalui takbir dan zikir
Dalam hening aku berkarya
Menyenandungkan perasaan melalui tinta
Pada kerikil batu nan bahari.
Lima ratus kali bulan berpatroli
Kupanjat pohon angan
Dan kini aku jatuh
Di ruang sastra yang hampa akan dunia.
Rasa gamang terus bercumbu
Menyuruhku untuk diam
Tapi
Gemilang menungguku di koridor jalan
Hingga aku di Sandra oleh dua pilihan.
Kupinang kasim yang labil
Dengan kalimat “bismillah”.
Jarum jam kehidupan terus berputar
Pagi melarangku untuk tidur
Lalu bekata
Jadilah santri yang diam
Tapi nyaris bicara.
Lubtara, 2026
Januari Bulan Nyamuk
Asap putih melingkar
Terhambur dari sajak malam.
Pagi masing bermimpi nyenyak
Pelepuk mataku terasa panas
Karna kau selalu
Menyenandungkan nyanyian.
Jarum jam menatap angka Satu
Apa kau masih belum sadar?
Kematian mengintaimu
Di setiap sel itu masuk
Perlahan menjadi urat-urat kecil
Yang kau hirup
Tanpa menyadari
lima jari telah di atas kepalamu.
Lubtara, 2026
Perjuangan
Kevin...
Kau meliahat seoang penyair
Dalam kegelapan
Cahaya datang demi siang
Penyair lalu hidup pagi.
Sekian aku datang
Bayangan itu muncul
Pergi, pergi, pergi.
Tidak kau bukan aku
Aku tidak seperti kau.
Aku hidup
Aku bergerak
Aku bernafas
Penyair hidup lagi.
Reguler,2025
Penghianat
Pada bening matamu
Terdapat butiran-butiran mutiara
Yang jatuh bergiliran
Menuju bumi sang ilahi.
Seklipun kau tanam biji jagung itu
Tak akan ada hasil yang membuatmu tersenyum
Ketika kau tau kenyataannya
Akan putuslah tali persaudaraan
“wallahu a’lamu bissawab”
Reguler,2025
Sampai Liang Lahat
Bu...
Apakah kau ingat anakmu ini
Membelah lautan dengan satu lidi.
Bu...
Kusebut namamu disetiap sujudku
Pelebur dari setiap doa
Menindih puluhan luka
Membekasi setiap jalan
Yang kutempuh demi ribuan harapan.
Bu...
Tak peduli petir menyambar
Kudayung perahu kecil
Menuju lorong kehidupan
Akan kupendam sampai tuhan mengizinkan.
Bu...
Bombing aku
Menuntut ilmu
Sampai di titik orang lain impikan
Telapak kakimu
Ibu...
Lubtara,2025
Sajak Tentangnya
Malam yang sunyi
Kubanyangkan redup wajahmu
Seperti bintang-bintang kecil
Mengitari lautan empedu.
Jarak demi jarak
Saling menyapa
Meskipun sejauh angkasa
Kini masih terhalang
Membeku saling mencerna.
Kuukir batang pohon
Menyerupai titisan salju
Membekukan sudut pandang
Dari setiap sesuatu yang hinggap di kalbuku.
Lubtara,2025



