Puisi-Puisi Febby UNIA Prenduan
Febby Putri akrab dipanggil Febby, adalah gadis desa yang berasal dari Madura. Saat ini ia sedang mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Al-Amien Prenduan Sumenep Madura dan menjadi mahasiswi jurusan Ekonomi Syariah. Menulis adalah bagian terpenting dalam hidupnya, selain menaruh nama dalam sejarah, menulis juga menjadi cara baginya untuk memberi motivasi kepada seseorang melalui karya-karyanya. Kini, ia menekuni dunia kepenulisan sastra seperti puisi dan sajak.
*****
Belajar Melepaskanmu
Aku tidak pernah benar-benar siap
untuk kehilanganmu.
Semua terjadi begitu saja,
seperti hujan yang turun tanpa aba-aba,
membasahi hati yang tidak sempat mencari teduh.
Dulu aku pikir,
kita adalah jawaban dari banyak doa.
Caramu tertawa, caramu peduli,
cara sederhana kamu menyebut namaku
semuanya terasa seperti rumah.
Tempat aku pulang setelah lelah
menghadapi dunia yang kadang terlalu keras.
Tapi waktu berjalan,
dan kita pelan-pelan berubah arah.
Bukan karena tidak cinta,
mungkin justru karena terlalu cinta
hingga lupa bahwa dua hati
tidak selalu punya tujuan yang sama.
Aku sempat menggenggam terlalu erat.
Takut kehilangan.
Takut sendiri.
Takut semua kenangan hanya jadi cerita
yang tak lagi bisa diulang.
Namun semakin kuat aku bertahan,
semakin sakit rasanya.
Akhirnya aku belajar satu hal sederhana:
tidak semua yang indah harus dimiliki selamanya.
Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan arti sabar,
arti ikhlas,
dan arti menerima kenyataan tanpa banyak tanya.
Sekarang, aku memilih melepaskanmu
bukan karena sudah tidak peduli,
tetapi karena aku ingin kita sama-sama tenang.
Aku berhenti memaksa takdir,
berhenti menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Namamu masih ada di sudut hatiku,
tapi tidak lagi sebagai harapan.
Ia tinggal sebagai kenangan
lembut, hangat, dan perlahan memudar.
Terima kasih pernah berjalan bersamaku.
Terima kasih pernah membuatku percaya
bahwa aku pantas dicintai.
Dan hari ini, dengan hati yang lebih kuat,
aku merelakanmu pergi.
Bukan dengan air mata yang sama seperti dulu,
melainkan dengan doa yang lebih tulus:
semoga kamu bahagia,
meski bukan lagi denganku.
Cahaya Tak Pernah Padam
Di pagi buta engkau terjaga,
Menyiapkan hari dengan penuh cinta.
Lelahmu sering tak pernah terbaca,
Namun kasihmu selalu terasa.
Engkau menahan letih dan lapar,
Hanya demi anakmu tetap segar.
Langkahmu sederhana, penuh sabar,
Mengajarku arti hidup yang benar.
Tak terhitung doa kau panjatkan,
Untuk masa depan yang kucita-citakan.
Pengorbananmu bagai cahaya terang,
Menerangi jalan hingga ku jadi kuat.
Ibu, engkau pelita dalam hidupku,
Takkan hilang jasamu di hatiku.
Semoga Tuhan membalas semua jerihmu,
Dengan surga yang indah untukmu.
Rasa yang Diam
Di dalam diri, ada banyak rasa.
Datangnya tidak pernah minta izin.
Kadang cuma lewat sebentar,
kadang tinggal lama tanpa pamit.
Ada rindu yang tiba-tiba muncul
saat malam terasa lebih sepi.
Ada kecewa yang pelan-pelan tumbuh
karena harapan tidak sesuai.
Cinta datang tanpa aba-aba,
membuat hati hangat sekaligus takut.
Benci juga pernah singgah,
walau akhirnya kalah oleh waktu.
Marah sempat membakar pikiran,
lalu reda setelah kita belajar sabar.
Bahagia hadir sederhana saja,
cukup dengan hal kecil yang berarti.
Semua rasa itu seperti resonansi,
getaran halus di dalam hati.
Ia nyata, walau sering tidak terlihat.
Tapi tidak semua rasa berani jadi kata.
Ada yang hanya tinggal sebagai diam,
sebagai bisik yang terlalu dalam
untuk dijelaskan dengan kalimat panjang.
Dan mungkin, tidak apa-apa.
Karena rasa tetap hidup,
meski tidak selalu kita ucapkan.
Rumus Hidup Seorang Perempuan
Dulu aku cuma perempuan biasa,
Langkahku pelan, tapi semangatku tak pernah reda.
Dari kamar kecil dan mimpi sederhana,
Aku mulai menulis arah hidupku dengan pena seadanya.
Banyak yang meremehkan, tapi aku tak goyah,
Aku percaya setiap proses punya rumus yang nyata.
Gagal itu bukan akhir penelitian,
Hanya data baru untuk memperbaiki perhitungan.
Aku benar-benar mulai dari nol,
Tanpa harta, hanya niat dan tekad yang solid
Setiap hari aku observasi diri,
Menguji teori sabar dan praktik berani.
Kadang aku lelah, kadang grafik semangatku menurun,
Tapi hipotesisku tetap teguh hasil takkan mengkhianati perjuangan.
Aku revisi mimpi-mimpiku dengan kesadaran,
Biar hasil akhirnya punya validasi pengalaman.
Kini aku paham, mimpi tak lahir dari keberuntungan,
Tapi dari analisis, usaha, dan keyakinan.
Cita-citaku bukan sekadar ingin dikenal,
Tapi ingin berguna, walau dari tempat yang paling sederhana dan kecil.
Dari nol aku bangkit, dari bawah aku menapak,
Karena perempuan sejati bukan dilihat dari start, tapi dari langkah.
Dan aku percaya, ilmu, tekad, dan doa,
Adalah formula pasti menuju cita-cita.



