Tentang Kita, yang Gagal Jadi Selamanya
Cerpen: M. Lailul Mubarok*
Di waktu pagi yang begitu sangat dewasa, angin mendorong fajar yang sudah jauh, dan burung telah memainkan suling di ranting yang hampir rapuh. Seorang penyair bersimpuh di bawah keheningan langit sambil meratapi segala kegembiraan yang sedang terpenjara di dalam keramaian tawa. Ia termenung sambil meratapi kata yang sudah rapuh oleh keadaan, yang pernah ia rangkai bersama kekasihnya.
#
Tiga hari kemudian, seorang penyair itu masih termenung dengan keadaan yang sama. Pada pikiran yang tak pernah hinggap selain orang yang ia cintai sedalam samudra, tanpa ia sadari ada sebuah notif yang muncul dalam handphone-nya.
“Assalamu ‘alaikum.”
Dan ternyata kekasihnya telah pulang dari penjara suci.
Seorang penyair itu terdiam sambil menatap kata salam yang dilontarkan oleh kekasihnya. Pikiran yang senantiasa terdiam kini telah menerobos segala senyuman yang pernah ia simpan dalam hatinya. Hati yang senantiasa berdegup kini memukul dada dengan keadaan pelan.
“Wa ‘alaikum salam,” si penyair menjawab sambil meneteskan air matanya. Tangannya gemetar dan tubuhnya terasa sangat layu karena rindu yang ditanam dari dahulu kini telah tersampaikan pada yang ia tuju.
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik-baik aja kok, kalo kamu gimana?”
“Alhamdulillah baik juga.”
Si penyair terus-menerus menukar kata dengan kekasihnya, saling mencari tawa dan saling menggenggam cinta. Tak ada perasaan yang ingin bubar serta tak ada seseorang yang ingin membakar hubungannya. Teleponan adalah makanan ia setiap waktu sambil menyimpan senyumannya yang pernah hilang oleh keadaan si penyair.
#
Di suatu hari yang penuh akan gembira, angin terus-menerus mengirimkan rindu pada hati tanpa henti. Meski ia sudah setiap hari teleponan serta iringan VC, akan tetapi hatinya ingin menatap senyuman kekasihnya dengan mata di depan mata sambil menukar kata di tengah keramaian tawa, sambil bermesra, saling menukar kisah dan saling mengeratkan cinta yang sudah lama runtuh bersama keheningan malam.
Namun, kekasihnya adalah seseorang yang dijaga ketat di dalam rumahnya, sehingga ketika ia ingin berjalan bersama teman-temannya saja, ia harus pamit dengan alasan yang sangat masuk akal.
Dalam waktu yang tenang, si penyair telah mengajak kekasihnya untuk menatap mata di depan mata, meski kekasihnya adalah seseorang yang dijaga ketat dalam rumahnya. Akan tetapi, rindu yang ada dalam si penyair telah mengembara sekuat mungkin, sehingga menatap wajahnya dalam layar kini terasa sudah tak berarti.
“Dut, kamu tau gak?” ucap si penyair dengan santainya.
“Enggak, emangnya apa?”
“Rindu yang sedang ngembara dalam hati ini, kini aku sudah tak kuat memanggulnya. Bisakah kita menatap mata di depan mata, meski hanya sekejap?” si penyair melontarkan kata dengan keraguan yang begitu besar.
“Hmmm gimana yaa, tapi... tapi kan aku tidak diperbolehkan untuk keluar dari sekitar rumah.”
Si penyair langsung terdiam sambil menatap balasan kata yang dilontarkan oleh kekasihnya. Hati yang senantiasa menerima rindu, kini si penyair sudah belajar untuk menolaknya.
“Gyufefhjuygffhj,” si penyair menjawab dengan tanpa arah karena kecewa yang sedang dimiliki telah melahap segala keinginan.
“Jangan gitulah, Rut,” kekasihnya menjawab dengan keraguan karena ia tidak ingin kehilangan seseorang yang sedang ia cintai sedalam lautan.
Kini keduanya termenung sambil mencari cara untuk menatap mata di depan mata.
Namun, si penyair kini telah menyerah untuk tidak menatap mata di depan mata karena ia masih kasihan jika kekasihnya dimarahi oleh kedua orang tuanya hanya karena ulah dirinya.
“Ya sudah, gpp,” ucap si penyair dengan keadaan terpaksa.
“Hmm maaf yaa, Rut,” kekasihnya menjawab dengan kesedihan yang sedang menimpa dalam tubuhnya.
Si penyair langsung tertidur sambil menerima lontaran kata yang tidak diinginkan.
“Rut, aku punya kabar sesuatu.”
“Emangnya apaan?” ucap si penyair membalas dengan santainya, meski kata yang dilontarkan seharusnya mengkhawatirkan.
“Aku sebentar lagi mau berangkat ke Surabaya.”
“Emangnya mau ngapain?” jawaban si penyair dengan keadaan yang mulai berbeda dari sebelumnya.
“Aku sama orang tuaku disuruh ikut les belajar tambahan.”
“Hah, beneran? Nanti kalo kamu berangkat aku sama siapa?” Kini si penyair langsung berubah total karena ia tidak ingin kehilangan cintanya meski hanya beberapa saat.
“Cuma sebentar aja kok, palingan cuma 20 hari,” kekasihnya menjawab dengan santainya.
“Hah, kamu kira 20 hari itu cuma sebentar? Kan kita cuma punya waktu beberapa saat untuk berkomunikasi, setelah itu kembali pada asal mengembala rindu dalam keheningan malam yang penuh akan bisu,” si penyair langsung membalas dengan tegasnya.
“Ya mau gimana lagi?”
Si penyair langsung mematikan handphone dengan amarah yang sudah membakar pada seluruh dirinya. Dan kini ia mencari cara untuk memadamkan amarah yang sedang mengembara.
#
Kini telah tiba pada bepergian kekasihnya, yang di mana si penyair dipenuhi dengan kata sedih karena si penyair telah linglung untuk meneduhkan manjanya dan kepada siapa.
“Aku mau berangkat ya, Jhurut.”
“Iya, jaga hatimu untukku. Jangan sampai mencari pengganti hanya karena ingin nyaman. Tetaplah lahap segala diri ini hingga kamu mengetahui segala lengkuk kekuranganku,” si penyair dengan santainya melontarkan majasnya.
“Iya, Jhurut. Aku akan tetap ada di sisimu.”
“Assalamu ‘alaikum.”
Si penyair langsung dalam keadaan hening sambil menatap kata salam yang akan lama muncul. Ia termenung sambil mengeja kata dalam ingatannya. Satu per satu kata itu terkumpul dalam sunyi hingga terkumpul membingkai puisi yang hendak abadi untuk ia haturkan kepada kekasihnya yang sedang mencari ilmu dengan keadaan senyap.
Setiap hari si penyair tak luput dari kehidupan sunyi. Ia berusaha menyapa tawa dan mencari keadaan ramai serta ingin mengetahui kehidupan yang penuh akan gembira yang tak pernah memanggil dalam keadaan dirinya. Ia hanya bisa menanti dan merindu tanpa menukar kisah dan mengucap kata di dalam layar akan cahaya.
#
Kini hari sudah mendewasakan tanggal. Si penyair termenung sambil mengkhawatirkan kekasihnya karena dirinya tak ingin si ndut mempunyai pasangan lain. Tetapi, dengan kepercayaannya, dirinya tetap percaya pada kata yang sudah dilontarkan oleh kekasihnya. Si penyair hanya bisa merindu tanpa harus bertemu.
Tanggal yang sudah ditentukan kini telah tiba. Namun, kekasihnya tak kunjung memberi sebuah kabar. Si penyair terdiam mulai mengkhawatirkan keadaan si ndut karena si penyair sudah bosan di dalam rumahnya terus, jadi ia jalan-jalan untuk pergi ke rumah temannya yang gak jauh dari arah tempat ia lahir. Sesampainya, ia langsung melontarkan kata salam.
“Assalamu ‘alaikum, Mid Hamid,” ucap si penyair memanggil temannya.
Lama-kelamaan si penyair tebengung sambil menunggu temannya keluar dari rumahnya. Ia melontarkan salam berkali-kali. Tiba-tiba Hamid membuka pintunya dengan keadaan pelan.
“Wa ‘alaikum salam. Lah kok kamu? Ayok masuk-masuk, mumpung banyak teman-teman di dalam rumah lagi main handphone.”
Lalu si penyair masuk ke dalam rumahnya dan langsung salaman pada teman-teman sahabatnya. Si penyair duduk dengan membuka cerita, mencari tawa yang sudah lama tidak menyapa agar sedih yang mulai dulu tertimpa kini cepat hilang bersama kata. Lama-kelamaan salah satu temannya melontarkan kata.
“Rut, kamu masih jadian sama si ndut itu?” tanya temannya dengan keadaan halus.
“Emangnya kenapa kok kamu memberikan pertanyaan seperti itu?” si penyair membalas dengan keadaan khawatir.
“Enggak, karena aku kemarin lihat ndut kamu lagi berjalan-jalan sama laki-laki lain.”
Si penyair langsung terdiam. Hati yang senantiasa percaya kini sudah hancur sehancur-hancurnya. Mata yang selalu senang kini telah melontarkan gerimis air hujan. Ia menutup matanya dengan keadaan pelan pada ingatannya yang mengingat segala janji yang sudah dilontarkan oleh kekasihnya. Senyumannya yang mulai dulu melontarkan senang kini sudah membingkai hampa.
“Lah kok bengung sih?” ucap temannya.
“A..a..anuh,” si penyair membalas dengan keadaan tubuhnya gemetar.
“A..a..anuh gimana?”
“Enggak, aku pulang duluan ya.”
Si penyair langsung pergi menuju rumah tempat si penyair lahir. Temannya yang senantiasa tertawa kini sudah terbengung sambil memikirkan keadaan si penyair.
Sesampai rumahnya, si penyair langsung menangis dengan bantal yang ditekan kepada mulutnya agar orang-orang yang ada di dalam rumahnya tidak terdengar.
Beberapa menit kemudian, si penyair terdiam dengan mata yang sudah merah dan bengkak. Ia langsung mengambil handphone-nya dan membuka WA sambil melihat nomor kekasihnya yang sudah tidak ada foto wajah si penyair. Kini si penyair langsung menyadari bahwa nomornya telah diblokir sama kekasihnya.
Di suatu hari kemudian, si penyair masih teringat pada wajah kekasihnya, senyumannya, manjanya, rayuannya, janjinya, dan gombalannya. Si penyair kini sudah tak tahan dan ingin menghapus segala kenangan yang sudah melekat pada ingatannya. Si penyair langsung melontarkan kata melalui chat pada temannya, yang di mana temannya adalah pemabuk handal.
“Kek, punya minuman arak gak?” si penyair melontarkan dengan hatinya yang sudah berantakan.
“Ada nih banyak, emangnya kenapa?”
“Ya udah buat aku satu yaa, Kek. Aku ingin menghilangkan senyuman ia dalam ingatanku.”
“Ya udah, langsung ke rumah.”
Sesampainya di rumahnya, si penyair langsung duduk dan meminta minuman tersebut. Ia langsung minum berkali-kali hingga beberapa menit kemudian minuman itu sudah terhabiskan. Kini si penyair langsung tertidur pulas dengan ingatannya yang sudah terasa tenang. Namun, hidup yang ia miliki kini sudah tak mempunyai arah.
#
Satu tahun kemudian, si penyair menyesali segala apa yang sudah diperkenalkan kepada kekasihnya dulu. Dan kini ia sudah trauma dengan perkataan cinta. Ia sudah tak mempunyai kata percaya kepada cinta, dan hidup yang senantiasa mengaji, belajar, mengambil ilmu, kini segalanya telah lenyap bersama cinta. Dan kini si penyair, dengan berusahanya, mengingat kata yang pernah tersirat dalam puisinya, dan ia tulis dengan judul “Cinta yang Merusak Segalanya.”
Hilyatul Marzuqoh, 2026
*) Penulis asal PPA Lubangsa Utara dan kini telah menjadi ketua komplek kamar sastra Lubtara.



