Lima Jam Bersama Salon Kecil
Cerpen: Beryl Abadi
Senja turun perlahan di Terminal Arya Wiraraja, Sumenep. Cahaya jingga yang tersisa menempel pada badan-badan bus yang berjajar seperti kawanan hewan besar yang sedang menunggu waktu untuk bermigrasi. Di antara penumpang yang bergegas mencari kursi terbaik, Badri melangkah dengan satu harapan sederhana: tidur.
Tidak ada cita-cita besar untuk perjalanan malam itu. Tidak ada keinginan menikmati pemandangan. Tidak ada rencana membaca buku atau berbincang dengan sesama penumpang. Ia hanya ingin memejamkan mata sejak bus berangkat hingga tiba di Surabaya.
Ia memilih kursi dekat jendela. Tas kecil diletakkan di pangkuan. Kepala disandarkan pada kaca yang mulai dingin. Angin pendingin ruangan berembus pelan. Semua tampak menjanjikan.
Bus bergerak tepat pukul enam sore.
Badri menarik napas panjang.
Hari yang melelahkan akhirnya akan berakhir dengan tidur yang layak.
Namun takdir rupanya memiliki hobi buruk: bercanda pada orang yang sedang mengantuk.
Tiga menit setelah bus keluar dari terminal, sebuah dentuman kecil terdengar dari arah depan.
Dum.
Badri membuka satu mata.
Lalu dua detik kemudian.
Dum.
Dum.
Dum.
Suara itu berasal dari sebuah salon kecil yang dipasang dekat kursi awak bus. Ukurannya tidak besar. Bahkan mungkin lebih kecil daripada tas yang dibawa Badri.
Tetapi kekuatannya terasa seperti mampu mengguncang isi tengkorak manusia.
Musik mulai mengalun.
Badri mencoba berpikir positif.
Mungkin hanya sebentar.
Mungkin sopir sedang mencari semangat.
Mungkin setelah keluar kota volumenya akan dikecilkan.
Lima belas menit berlalu.
Volume tetap.
Tiga puluh menit berlalu.
Volume tetap.
Satu jam berlalu.
Volume justru terasa semakin percaya diri.
Badri mulai merasa salon kecil itu bukan benda elektronik biasa.
Ia tampak seperti makhluk hidup yang sedang tumbuh.
Semakin malam, semakin kuat.
Setiap kali Badri hampir tertidur, dentuman bass datang seperti seseorang yang sengaja mengetuk pintu mimpi.
Dum!
Matanya terbuka.
Ia kembali memejamkan mata.
Dum!
Terbuka lagi.
Dum!
Terbuka lagi.
Lama-kelamaan ia merasa tidak sedang berada di dalam bus.
Ia seperti sedang berada di dalam perut sebuah pengeras suara raksasa yang sedang melaju menuju Surabaya.
Di luar jendela, malam semakin gelap.
Lampu-lampu desa melintas seperti kunang-kunang yang kehilangan arah.
Penumpang lain tampak baik-baik saja.
Beberapa bahkan tidur pulas.
Salah seorang penumpang di depan mendengkur mengikuti irama musik.
Badri memandangnya dengan takjub.
Bagaimana mungkin manusia itu bisa tidur?
Apakah ia kebal terhadap suara?
Atau mungkin justru menjadi sumber energi bagi salon kecil tersebut?
Badri mulai mencurigai banyak hal.
Dalam kondisi setengah lelah dan setengah kesal, pikirannya menjelajah ke mana-mana.
Ia membayangkan salon kecil itu memiliki kehidupan rahasia.
Setiap kali manusia mengantuk, salon itu memperoleh tenaga.
Setiap keluhan penumpang menjadi makanan.
Setiap kejengkelan berubah menjadi baterai tambahan.
Karena itulah volumenya tidak pernah turun.
Ia hidup dari penderitaan.
Semakin Badri kesal, semakin bahagia salon itu.
Bus terus melaju.
Kernet sesekali berjalan menyusuri lorong.
Badri beberapa kali menyampaikan keberatan dengan bahasa yang sopan.
Kernet mengangguk.
Badri merasa ada harapan.
Namun setelah itu tidak ada yang berubah.
Musik tetap mengalun.
Bass tetap berdentum.
Kernet berjalan pergi seperti seorang utusan kerajaan yang telah menerima pesan rakyat tetapi lupa menyampaikannya kepada raja.
Badri kembali duduk.
Waktu bergerak lambat.
Sangat lambat.
Begitu lambat hingga ia mulai curiga bahwa jarum jam juga ikut mendengarkan musik dan menari di tempat.
Pukul tujuh malam.
Masih terdengar.
Pukul delapan malam.
Masih terdengar.
Pukul sembilan malam.
Masih terdengar.
Pukul sepuluh malam.
Masih terdengar.
Musik itu seolah tidak berasal dari file digital.
Ia seperti berasal dari zaman purba.
Seperti suara yang sudah ada sebelum manusia menemukan api.
Suara yang akan tetap ada bahkan setelah seluruh penumpang turun.
Badri memejamkan mata.
Dalam bayangannya, salon kecil itu berubah menjadi gunung hitam.
Di puncaknya berdiri ribuan nada yang berbaris seperti tentara.
Bass menjadi jenderalnya.
Melodi menjadi pasukan berkuda.
Dan dirinya adalah satu-satunya rakyat yang menolak dijajah.
Ia berusaha melawan.
Dengan menyandarkan kepala.
Dengan memutar posisi duduk.
Dengan menutup telinga memakai ujung jaket.
Dengan menghitung angka.
Dengan membaca doa.
Dengan memikirkan sawah.
Dengan memikirkan laut.
Dengan memikirkan awan.
Tetapi semuanya gagal.
Suara itu selalu menemukan jalan masuk.
Kadang melalui telinga.
Kadang melalui kursi.
Kadang melalui sandaran kepala.
Kadang langsung melalui pikiran.
Menjelang tengah malam, kelelahan dan kejengkelan bercampur menjadi sesuatu yang aneh.
Badri tidak lagi marah secara biasa.
Ia mulai marah secara filosofis.
Ia bertanya-tanya mengapa manusia menciptakan teknologi yang mampu memperdengarkan suara sangat keras kepada orang yang tidak memintanya.
Ia bertanya mengapa ketenangan sering kalah oleh kebisingan.
Ia bertanya mengapa sebuah benda kecil bisa menguasai suasana satu bus penuh.
Ia bahkan sempat bertanya apakah sebenarnya dunia ini hanyalah simulasi yang dijalankan oleh perusahaan pembuat speaker.
Bus melaju melewati jalan-jalan yang sepi.
Lampu kota mulai bermunculan.
Surabaya sudah semakin dekat.
Badri melihat jam.
Lima jam terasa seperti lima musim.
Lima jam terasa seperti satu mata kuliah yang tidak pernah selesai.
Lima jam terasa seperti menunggu hujan turun di gurun pasir.
Lima jam terasa lebih panjang daripada perjalanan itu sendiri.
Lalu sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Tiba-tiba musik berhenti.
Seketika.
Hening.
Benar-benar hening.
Badri mengangkat kepala.
Ia hampir tidak percaya.
Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada dentuman.
Tidak ada bass.
Tidak ada lagu.
Tidak ada suara.
Hanya dengung mesin bus yang lembut.
Hening itu terasa begitu indah.
Begitu mahal.
Begitu langka.
Badri merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
Ia bahkan hampir terharu.
Ternyata suara terbaik di dunia bukanlah musik.
Melainkan tidak adanya musik.
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Bus memasuki Terminal Purabaya.
Penumpang mulai berdiri.
Orang-orang mulai berbicara.
Mesin kendaraan lain terdengar dari berbagai arah.
Suara pedagang.
Suara klakson.
Suara pengumuman.
Suara langkah kaki.
Kota kembali mengambil alih dunia.
Badri tersenyum pahit.
Lima jam perjuangan akhirnya selesai.
Ia turun dari bus dengan tubuh lelah dan mata berat.
Ketika berjalan menjauh, ia sempat menoleh ke arah kendaraan yang baru ditinggalkannya.
Dari kejauhan, salon kecil itu masih terlihat.
Diam.
Tak bergerak.
Tak bersuara.
Seolah tidak pernah melakukan apa pun.
Seolah semua kejadian tadi hanya imajinasi seorang penumpang yang terlalu mengantuk.
Badri memandangnya beberapa saat.
Lalu melanjutkan langkah.
Di belakangnya, lampu bus perlahan padam.
Di dalam kegelapan, ia membayangkan salon kecil itu sedang tersenyum.
Bukan senyum jahat.
Bukan senyum ramah.
Melainkan senyum makhluk yang tahu satu rahasia besar tentang kehidupan:
Manusia sering mampu bertahan menghadapi masalah besar, tetapi bisa dibuat putus asa oleh hal-hal kecil yang terus-menerus berbunyi di dekat kepalanya selama lima jam tanpa jeda.
Dan malam itu, pemenangnya bukan Badri.
Bukan pula awak bus.
Melainkan sebuah salon kecil yang ukurannya bahkan tidak lebih besar dari seekor kucing tidur.


