Menyusuri Lorong Senja dan Kesunyian Jiwa

Membaca Kumpulan Puisi Serpihan Puisi, Sampai Ambang Senja Karya Lilik Rosida Irmawati


Kumpulan puisi Serpihan Puisi, Sampai Ambang Senja karya Lilik Rosida Irmawati merupakan catatan batin yang merekam perjalanan panjang seorang perempuan dalam menghadapi cinta, kehilangan, pergulatan spiritual, dan kesadaran akan kefanaan hidup. Melalui bahasa yang liris dan reflektif, penyair menghadirkan puisi-puisi yang mengajak pembaca menelusuri ruang-ruang sunyi tempat manusia berdialog dengan dirinya sendiri, sesama, dan Tuhannya.

Di tengah arus sastra kontemporer yang semakin beragam, puisi masih menjadi medium paling intim untuk merekam denyut kehidupan manusia. Puisi memungkinkan pengalaman-pengalaman yang sulit diucapkan secara langsung menemukan bentuknya melalui metafora, simbol, dan bahasa yang padat makna. Dalam konteks itulah kumpulan puisi Serpihan Puisi, Sampai Ambang Senja karya Lilik Rosida Irmawati menemukan relevansinya.

Buku yang diterbitkan Rumah Literasi Sumenep pada Juli 2024 ini tidak sekadar menghimpun sejumlah puisi, melainkan menghadirkan semacam catatan perjalanan batin seorang perempuan yang sedang menapaki fase kematangan hidup. Pembaca akan menemukan pengalaman-pengalaman personal yang berkelindan dengan refleksi spiritual, pergulatan cinta, kritik sosial, hingga kesadaran mendalam tentang usia dan kematian.

Judul buku ini sendiri sesungguhnya telah memberikan petunjuk penting mengenai keseluruhan isi. Kata “serpihan” mengisyaratkan fragmen-fragmen pengalaman yang tersebar dalam rentang waktu panjang. Sementara frasa “sampai ambang senja” menunjukkan titik kesadaran ketika seseorang mulai memandang hidup dari perspektif yang lebih luas. Senja dalam tradisi sastra sering dipahami sebagai simbol usia, perenungan, dan perjalanan menuju akhir kehidupan. Karena itu, sejak halaman pertama pembaca sesungguhnya telah diajak memasuki ruang kontemplasi yang dalam.

Yang menarik, puisi-puisi dalam buku ini tidak berdiri sendiri-sendiri. Jika dibaca secara berurutan, tampak adanya benang merah yang menyatukan keseluruhan karya. Buku ini terasa seperti sebuah narasi panjang tentang pencarian makna hidup. Penyair bergerak dari pengalaman personal menuju kesadaran spiritual yang semakin matang. Perjalanan itu berlangsung perlahan, sebagaimana matahari yang bergerak menuju ufuk senja.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada tema spiritualitas yang menonjol hampir di seluruh bagian. Namun spiritualitas yang dihadirkan bukanlah spiritualitas yang dogmatis. Ia tumbuh dari pengalaman hidup yang konkret. Penyair tidak berbicara dari menara gading keagamaan, melainkan dari ruang batin yang penuh luka, keraguan, kegelisahan, dan harapan.

Hal tersebut tampak dalam sejumlah puisi seperti “Ku Ketuk Pintu Hati”, “Jejak-Jejak Waktu”, “Apa yang Engkau Tunggu”, hingga “Pagi yang Basah”. Dalam puisi-puisi tersebut, Tuhan hadir bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai tujuan akhir dari seluruh perjalanan manusia. Kesadaran religius muncul setelah melalui pergulatan panjang dengan diri sendiri.

Di banyak bagian, penyair menggunakan istilah-istilah religius seperti Rabb, nurani, qada-qadar, takdir, hingga berbagai referensi tokoh dalam sejarah Islam. Penggunaan simbol-simbol tersebut memperlihatkan bahwa puisi-puisi ini tumbuh dari tradisi spiritual yang kuat. Akan tetapi, simbol itu tidak tampil sebagai ornamen belaka. Ia menjadi bagian dari pergulatan eksistensial yang dialami aku lirik.

Selain spiritualitas, tema cinta juga menjadi poros penting dalam buku ini. Namun cinta yang dihadirkan Lilik Rosida Irmawati jauh dari gambaran romantisme sederhana. Cinta dalam buku ini adalah ruang perjumpaan antara kebahagiaan dan penderitaan.

Rangkaian puisi “Lelakiku” merupakan contoh yang paling menonjol. Dalam seri puisi tersebut, penyair menghadirkan sosok lelaki sebagai pusat gravitasi emosional. Sosok itu dicintai, dirindukan, dikagumi, tetapi sekaligus menjadi sumber luka dan pergulatan batin. Hubungan yang dibangun tidak hitam-putih. Ia bergerak dalam wilayah yang kompleks, penuh kontradiksi, dan sering kali menyakitkan.

Yang menarik, penyair tidak menempatkan perempuan sebagai sosok pasif. Meskipun menghadapi berbagai tekanan emosional, aku lirik tetap tampil sebagai subjek yang sadar. Ia mampu merefleksikan penderitaannya, mempertanyakan relasi yang dijalani, bahkan melakukan perlawanan batin terhadap ketidakadilan yang dialaminya.

Perspektif perempuan ini juga tampak dalam puisi “Tentang Engkau dan Aku”, “Di Pojok Cafe”, dan “Perempuan Dajjal”. Di sana pembaca menemukan suara perempuan yang berusaha memahami luka-luka emosionalnya sendiri. Hubungan cinta tidak dipandang semata sebagai ruang kebahagiaan, tetapi juga sebagai arena konflik psikologis yang meninggalkan bekas mendalam.

Tema lain yang cukup kuat adalah refleksi tentang usia dan perjalanan waktu. Dalam buku ini, waktu tidak hadir sebagai hitungan kalender semata. Waktu dipahami sebagai proses spiritual yang terus membentuk manusia.

Puisi-puisi seperti “Peralihan Waktu”, “Saat Senja”, “Menatap Langitmu”, dan “Untukmu, Kekasih” menunjukkan kesadaran penyair terhadap proses penuaan yang tidak terhindarkan. Namun usia tidak dipandang sebagai kemunduran. Sebaliknya, ia dipahami sebagai kesempatan untuk menemukan makna yang lebih dalam tentang kehidupan.

Kesadaran mengenai senja dalam buku ini bukanlah kesedihan yang putus asa. Senja justru menjadi titik ketika manusia mulai memahami apa yang sungguh penting dalam hidup. Ketika ambisi, ego, dan berbagai kesibukan dunia mulai kehilangan daya tariknya, manusia kembali berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang tujuan hidup dan kematian.

Dari sisi estetik, Lilik Rosida Irmawati memperlihatkan kecenderungan kuat pada gaya puisi liris. Ia sangat mengandalkan kekuatan citraan dan metafora. Langit, hujan, laut, ombak, senja, cahaya, awan, dan bunga muncul berulang kali dalam berbagai puisi.

Pengulangan simbol-simbol alam tersebut menciptakan dunia puitik yang khas. Alam tidak sekadar menjadi latar, tetapi menjadi bahasa untuk mengungkapkan kondisi batin manusia. Hujan menjadi perlambang air mata, laut menjadi metafora kedalaman jiwa, sedangkan senja menjadi simbol perjalanan menuju keabadian.

Pilihan diksinya juga menunjukkan kedekatan dengan tradisi puisi sufistik dan reflektif. Banyak larik dibangun melalui repetisi yang sengaja dipertahankan untuk menciptakan efek musikal dan meditatif. Pembaca dapat merasakan ritme doa dalam sejumlah puisi yang menggunakan pengulangan kata-kata tertentu. Teknik ini membuat puisi-puisi Lilik lebih dekat pada tradisi zikir atau mantra kontemplatif dibandingkan puisi naratif biasa.
Namun di balik kekuatan tersebut, terdapat beberapa catatan kritis. Pada sejumlah puisi, penyair tampak terlalu larut dalam limpahan emosi sehingga metafora yang digunakan menjadi sangat padat. Akibatnya, sebagian pembaca mungkin mengalami kesulitan menangkap inti gagasan yang hendak disampaikan.

Ada pula kecenderungan penggunaan simbol yang berulang-ulang, seperti langit, senja, tangis, dan hati. Meski berhasil menciptakan identitas estetik, pengulangan yang terlalu sering dapat membuat beberapa puisi terasa memiliki atmosfer yang serupa.

Kendati demikian, hal itu tidak mengurangi kualitas keseluruhan buku. Justru pengulangan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari strategi penyair membangun dunia simboliknya sendiri.

Satu hal yang patut diapresiasi adalah keberanian penyair mengangkat tema-tema yang jarang disentuh secara terbuka. Dalam seri “Asap Sepuntung Rokok” dan beberapa puisi lain, Lilik berbicara mengenai syahwat, kekuasaan, eksploitasi perempuan, kemunafikan sosial, dan kehancuran moral. Tema-tema tersebut disampaikan melalui simbol-simbol yang kadang terasa keras, tetapi berhasil memperluas cakupan pembacaan buku ini.

Karena itu, Serpihan Puisi, Sampai Ambang Senja sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang cinta atau religiusitas. Buku ini juga berbicara tentang manusia dengan segala kelemahannya. Tentang pertarungan antara cahaya dan gelap dalam diri. Tentang bagaimana manusia berkali-kali jatuh, tetapi terus berusaha menemukan jalan pulang.

Pandangan tersebut sejalan dengan testimoni sejumlah sastrawan yang dimuat dalam buku ini. Mereka melihat puisi-puisi Lilik sebagai refleksi perjalanan hidup yang matang, penuh kesadaran religius, dan mampu menghubungkan manusia dengan alam serta Tuhan melalui bahasa yang puitis.
Pada akhirnya, membaca Serpihan Puisi, Sampai Ambang Senja serupa menyusuri jalan panjang menuju senja.

Ada kerinduan, kegelisahan, penyesalan, cinta, luka, dan doa yang saling bertumpuk di sepanjang perjalanan. Namun di ujung semuanya, pembaca menemukan satu kesadaran penting: bahwa hidup bukanlah tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa dalam kita memahami makna dari setiap langkah yang telah ditempuh.

Buku ini layak dibaca oleh mereka yang menyukai puisi-puisi reflektif, spiritual, dan sarat perenungan. Di tengah dunia yang semakin bising, puisi-puisi Lilik Rosida Irmawati menawarkan ruang hening untuk berhenti sejenak, mendengarkan suara hati, dan menatap kembali perjalanan hidup hingga sampai di ambang senja.

(Beryl Abadi)

Tulisan terkait

Utama 1219661707767819347

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item