Pelabuhan Terakhir Sang Elang Jalanan

 


Cerpen: 
Zafira Fitria Al-Faizah HT

Hujan turun deras seolah langit malam turut meratapi, bahkan mengutuk, dinding-dinding rumah tua yang telah lama menjadi penjara bagi penghuninya. Di dalam kamar yang remang, Alena meringkuk di sudut lantai, memeluk lututnya yang gemetar hebat. Bau alkohol yang menyengat menyeruak masuk melalui celah pintu, disusul suara langkah kaki yang berat, tidak stabil, dan penuh amarah.

Brak!

Pintu kamarnya ditendang hingga terbuka lebar. Di ambang pintu berdiri Suryo, dengan tatapan mata merah dan kosong, nyaris tak mengenali lagi siapa dirinya. Pria yang seharusnya menjadi pelindung dan sandaran itu, sejak ditinggal pergi oleh istrinya tujuh tahun silam, kini berubah menjadi monster yang paling mengerikan bagi Alena.

"Anak tak berguna! Sama persis ibumu, selalu saja mendatangkan sial dalam hidupku!" bentak Suryo, suaranya menggelegar hingga mampu mengalahkan suara petir yang membelah langit di luar.

Belum sempat Alena membuka mulut untuk membela diri, seutas sabuk kulit tebal sudah melayang di udara dan mendarat telak di lengan atasnya. Rasa panas dan perih menjalar seketika ke seluruh tubuh. Alena tidak menangis bersuara; air matanya mengalir dalam diam, tertahan di kerongkongan. Ini bukanlah siksaan yang pertama kali ia rasakan. Sudut bibirnya yang masih bengkak sisa perlakuan dua hari lalu menjadi bukti nyata penderitaannya yang tak berkesudahan.

Namun malam itu, saat Suryo berbalik badan untuk mengambil botol minumannya yang terjatuh, secercah keberanian yang nekat tiba-tiba bangkit dari lubuk hati Alena. Cukup. Jika aku tetap bertahan di sini, aku pasti akan mati.

Memanfaatkan kelengahan ayahnya, Alena bangkit secepat kilat. Ia berlari menerobos tubuh kekar Suryo yang mulai limbung, mengabaikan teriakan murka sang ayah yang menggema memenuhi seisi rumah. Tanpa sempat mengenakan alas kaki, ia membuka pintu depan dan langsung menghambur ke luar, menerobos derasnya hujan yang membasahi segalanya.

Alena terus berlari sekuat tenaga. Kakinya yang telanjang menghantam kerikil tajam dan genangan air kotor di gang-gang sempit, namun rasa sakit fisik itu jauh kalah dibandingkan rasa takut jika sampai dikejar dan ditangkap kembali oleh ayahnya. Setelah hampir dua puluh menit berlari tanpa arah, langkah kakinya mulai melambat saat ia tiba di tepi jalan raya lingkar kota yang sepi, terasing, dan dikelilingi pepohonan rimbun yang gelap.

Tubuhnya menggigil hebat. Kepalanya terasa pening dan berat akibat hawa dingin yang menggigit hingga ke tulang, sementara pandangannya mulai berkunang-kunang. Di tengah keputusasaan dan kelelahan yang melumpuhkan, terdengar samar raungan mesin motor yang memekakkan telinga dari kejauhan.

Brmmm! Brmmm!

Sorot lampu LED putih yang sangat terang membelah kegelapan malam, langsung mengarah tepat ke wajah Alena. Gadis itu refleks mengangkat tangan kanannya yang gemetar untuk melindungi mata yang silau.

Tiga motor berkapasitas mesin besar berhenti mendadak di hadapannya, menciptakan cipratan air jalanan yang tinggi. Para pengendara turun dari kendaraan mereka. Alena mundur beberapa langkah dengan cemas. Mereka semua berpakaian serba hitam—jaket kulit tebal berlogo tengkorak di punggung, celana jins robek di bagian lutut, dan sepatu bot kokoh. Penampilan khas anak geng motor yang kerap dicap sebagai penguasa jalanan malam yang kejam dan tak kenal ampun.

"Hei, lihatlah. Ada anak kucing basah yang terdampar di pinggir jalan," seloroh salah satu dari mereka yang bertubuh jangkung, bernama Rio. Ia tertawa sinis sambil memutar-mutar kunci motornya dengan santai.

Alena memeluk lengannya yang terluka, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan setengah mati. Apakah pelariannya malam ini justru membawanya jatuh ke lubang yang jauh lebih dalam dan berbahaya?

"Diam kau, Rio. Jangan membuatnya takut."

Sebuah suara berat, dalam, namun terdengar dingin dan berwibawa memotong perkataan Rio dari arah motor paling depan. Sang pemimpin turun dengan gerakan tenang dan penuh percaya diri. Ia membuka helm full-face hitamnya, membiarkan rambutnya yang sedikit basah berantakan tersapu angin malam. Pemuda itu melangkah mendekati Alena dengan ritme yang tenang namun mengintimidasi.

Saat ia berdiri tepat di bawah temaram lampu jalan berwarna kuning, Alena memberanikan diri mendongak. Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar sepenuhnya.

Pemuda berpakaian serba hitam itu adalah Andra.

Garis rahangnya tegas, tatapannya tajam dan menusuk, namun ada sesuatu pada wajah itu yang membuat dada Alena berdesir aneh. Bukan sekadar rasa takut, melainkan getaran batin yang sangat kuat dan asing baginya. Wajah pemuda di depannya ini... terasa sangat familier. Seolah Alena sedang menatap bayangan dirinya sendiri, namun dalam versi yang lebih maskulin, kokoh, dan telah ditempa oleh kerasnya kehidupan jalanan.

Di sisi lain, Andra pun terpaku di tempatnya berdiri. Kakinya berhenti melangkah tepat satu meter di depan Alena. Matanya yang sedingin es mendadak melebar, menatap lekat-lekat setiap inci wajah gadis yang basah kuyup di hadapannya. Bentuk mata yang bulat, lengkungan hidung, bahkan tahi lalat kecil yang terletak tepat di bawah alis kirinya... semuanya terlalu identik, seolah diciptakan dari cetakan yang sama.

Memori masa kecil yang telah terkubur dalam selama tujuh tahun—saat ia dipisahkan paksa dari saudara kembarnya akibat keputusan egois orang tua mereka—tiba-tiba berputar hebat di kepalanya seperti gulungan film yang rusak namun jelas teringat kembali.

"Kau... siapa?" tanya Andra. Suaranya mendadak serak, hilang sudah seluruh keangkuhan jalanan yang biasa ia tunjukkan di depan anak buahnya.

Alena membuka mulutnya, berusaha mengeluarkan suara, "To-tolong aku..." Hanya kata itu yang mampu terucap. Rasa sakit di sekujur tubuh, trauma emosional yang menumpuk bertahun-tahun, dan hawa dingin yang ekstrem akhirnya merenggut sisa-sisa kekuatannya. Pandangannya langsung menggelap, dan tubuh ringkihnya limbung jatuh ke depan.

Dengan insting yang luar biasa cepat, Andra maju selangkah dan menangkap tubuh Alena sebelum sempat menyentuh kasarnya aspal jalanan.

Saat mendekap tubuh rapuh itu, jaket kulit Andra yang tebal tersingkap menyentuh lengan baju Alena yang basah, membuat kain itu bergeser. Di balik lapisan tipis itu, terpampang jelas bilur-bilur kemerahan dan memar biru yang masih sangat segar, tanda kekerasan yang baru saja terjadi.

Napas Andra tercekat. Amarahnya langsung membubung tinggi hingga ke ubun-ubun, membuat rahangnya mengeras menahan geram yang meluap. Namun di saat yang sama, rasa ingin melindungi dan kepedulian yang luar biasa besar mendadak mengalir deras di dadanya—perasaan yang belum pernah ia rasakan kepada siapa pun selama ia hidup dan bertahan di jalanan.

"Sialan, siapa yang tega memukuli gadis sampai seburuk ini? Ini benar-benar keterlaluan!" umpat Rio yang ikut mendekat, ekspresi sinisnya berubah seketika menjadi ngeri melihat kondisi tubuh Alena.

Andra tidak mempedulikan ucapan Rio. Ia menatap wajah pingsan gadis itu dengan tatapan yang perlahan melunak, penuh rasa bersalah sekaligus kelegaan yang tak terukur. Ikatan batin yang tak kasat mata di antara saudara kembar tidak bisa dibohongi. Hatinya berbisik dengan sangat yakin bahwa gadis yang kini berada dalam pelukannya adalah bagian dari dirinya sendiri. Adik kecilnya yang selama ini ia cari di setiap sudut kota.

"Rio, batalkan rencana nongkrong malam ini. Kita kembali ke markas sekarang juga. Siapkan kotak obat dan baju kering," perintah Andra dengan nada mutlak dan tak terbantahkan. Ia mengangkat tubuh Alena ke dalam gendongannya dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah barang rapuh yang bisa hancur kapan saja jika tidak dijaga baik-baik.

Malam itu, di atas motor besarnya, Andra memacu kendaraannya membelah badai hujan. Satu tangan kirinya mendekap erat tubuh Alena yang bersandar di dadanya, melindunginya dari terpaan angin dingin dengan jaket kulit hitamnya sendiri. Di bawah guyuran hujan kota yang dingin, sang elang jalanan akhirnya menemukan kembali belahan jiwanya yang hilang. Dan dalam hati, Andra bersumpah: siapa pun yang telah menorehkan luka di tubuh adiknya—termasuk ayah kandung mereka sendiri—harus bersiap menghadapi murkanya yang paling dahsyat.

Ikatan yang Tak Terputus

Suasana di dalam markas anak motor malam itu terasa sangat kontras dengan badai yang masih berkecamuk di luar. Ruangan itu hangat, berbau minyak kayu putih dan kopi yang diseduh lama. Alena perlahan membuka matanya. Rasa pening langsung menyerang kepalanya, membuatnya mengernyitkan dahi. Saat mencoba bergerak, rasa perih di sekujur tubuhnya kembali mengingatkan pada kejadian mengerikan beberapa jam lalu.

Alena panik. Ia menyadari dirinya tidak lagi berada di pinggir jalan raya, melainkan terbaring di atas sebuah sofa panjang berbahan kulit. Di atas tubuhnya tersampir sebuah jaket kulit hitam yang besar dan tebal—jaket milik pemuda yang menolongnya tadi.

"Jangan banyak bergerak dulu. Badanmu masih demam tinggi."

Sebuah suara berat membuat Alena menoleh cepat. Di dekat meja kayu, pemuda berpakaian hitam itu sedang sibuk memeras kain kompresan di dalam mangkuk berisi air hangat. Ia mendekat, lalu duduk di kursi plastik tepat di samping sofa tempat Alena berbaring.

Alena refleks menarik jaket hitam itu hingga ke dagunya, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam. "Ka-kau siapa? Di mana aku ini?" tanyanya dengan suara parau dan lemah.

Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kain kompresan itu di dahi Alena dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, sangat kontras dengan penampilannya yang sangar dan menakutkan. "Aku Andra. Ini markas aku dan teman-teman. Kau aman di sini, tidak ada siapa pun yang berani menyakitimu lagi," ucapnya tenang dan meyakinkan.

Saat Andra berbicara, Alena terpaku. Jarak mereka kini sangat dekat. Di bawah cahaya lampu neon yang terang, Alena bisa melihat dengan jelas setiap lekuk wajah pemuda di depannya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang secara aneh. Tatapan matanya, bentuk hidung yang mancung, bahkan cara ia berbicara... entah mengapa terasa sangat familiar dan tertanam dalam ingatannya yang samar.

Pandangan Alena kemudian turun ke arah leher Andra yang terbuka. Di sana, melingkar sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk potongan koin kuno yang patah di satu sisi.

Napas Alena seketika tercekat. Matanya melebar sempurna. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meraba lehernya sendiri. Di balik baju kaos yang masih sedikit lembap, ia menarik keluar sebuah kalung yang persis sama. Kalung perak dengan potongan koin kuno yang patah di sisi sebelahnya.

Jika kedua potongan koin itu disatukan, mereka akan membentuk satu koin utuh yang sempurna, tidak ada yang kurang.

"Ka-kalung itu..." suara Alena tercekat di tenggorokan. Air mata yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga, kini merebak dan jatuh membasahi pipinya.

Andra mengikuti arah pandangan Alena. Ketika melihat benda yang dipegang gadis itu, tangan Andra yang sedang memegang mangkuk air hangat mendadak kaku. Pemuda tangguh yang biasanya tak pernah gentar menghadapi bahaya di jalanan itu kini tampak bergetar, terguncang hingga ke dasar jiwanya.

"Alena...?" bisik Andra, suaranya mendadak parau dan rapuh.

Mendengar nama kecilnya disebut oleh pemuda asing itu, runtuh sudah seluruh pertahanan diri yang dibangun Alena. Memori tujuh tahun lalu berputar hebat di kepalanya. Hari di mana ibunya pergi membawa kakak kembar laki-lakinya sambil menangis tersedu, meninggalkan dirinya sendirian bersama sang ayah yang berubah menjadi kasar. Sebelum berpisah, sang ibu memberikan mereka masing-masing patahan koin itu sebagai janji suci bahwa suatu hari nanti mereka akan kembali bertemu.

"Kak... Kak Andra?" tangis Alena akhirnya pecah tak terbendung.

Tanpa memedulikan rasa sakit yang masih menjalar di tubuhnya, Alena langsung bangkit dan menghambur ke dalam pelukan Andra. Ia menangis sejadi-jadinya di dada bidang kakaknya, menumpahkan seluruh rasa sakit, ketakutan, dan penderitaan yang ia pendam sendirian selama bertahun-tahun di rumah tua itu.

Andra tertegun sejenak, sebelum akhirnya memeluk erat tubuh ringkih adik kembarnya. Ia membenamkan wajahnya di rambut Alena yang masih agak basah, melindunginya dengan seluruh dekapan yang ia miliki. Setetes air mata lolos dari sudut mata Andra yang biasanya selalu menatap dunia dengan dingin dan keras.

"Maafkan aku, Alena... Maaf aku terlambat menemukannya," bisik Andra penuh penyesalan, mempererat pelukannya seolah bersumpah pada takdir bahwa ia tidak akan pernah melepaskan adiknya lagi. Di ruangan yang remang itu, dua hati yang telah lama patah dan terpisah, akhirnya kembali utuh menjadi satu.

Pelabuhan Terakhir

Tiga bulan telah berlalu sejak malam yang dingin dan penuh badai itu. Di sebuah rumah sederhana bernuansa asri, terletak jauh dari jangkauan masa lalu mereka yang kelam, suasana hangat begitu terasa menyelimuti seisi ruangan. Rumah itu adalah tempat tinggal baru Andra dan Alena, bersama ibu mereka yang akhirnya berhasil mereka temukan kembali setelah sekian lama terpisah jarak dan waktu.

Sore itu, cahaya matahari terbenam yang berwarna keemasan menerobos masuk melalui jendela ruang tamu. Alena duduk di sofa empuk sambil membolak-balik halaman sebuah buku. Wajahnya tidak lagi pucat dan penuh ketakutan seperti dulu. Pipinya kini tampak lebih berisi dan merona sehat. Luka memar di tubuhnya telah lama hilang, digantikan oleh senyuman manis yang dulu sempat terkubur dalam tumpukan trauma.

Dari arah dapur, aroma masakan sup ayam yang gurih menyeruak ke seluruh ruangan, memicu rasa lapar yang menyenangkan. Sang ibu berjalan keluar sambil membawa semangkuk buah segar, menatap Alena dengan pandangan penuh kasih sayang yang begitu tulus dan mendalam.

Brmmm...

Suara deru mesin motor yang sangat familier terdengar berhenti di halaman depan. Alena langsung meletakkan bukunya. Matanya berbinar riang saat pintu rumah terbuka, menampilkan sosok Andra. Kakak kembarnya itu masih mengenakan jaket kulit hitam kebanggaannya, namun kali ini tidak ada lagi kesan dingin atau mengintimidasi di wajahnya. Yang terlihat hanyalah ketenangan dan kelembutan.

"Aku pulang," kata Andra sambil meletakkan helmnya di meja dekat pintu masuk.

"Kak Andra!" Alena langsung bangkit berdiri dan menyambut kakaknya dengan pelukan hangat yang penuh rindu.

Andra terkekeh pelan, mengacak rambut adik kembarnya dengan penuh kasih sayang. Sejak pertemuan malam itu, Andra mengerahkan seluruh kemampuan dan koneksinya untuk memastikan Alena benar-benar aman dan terlindungi. Melalui proses hukum yang panjang dan dibantu oleh perlindungan teman-teman geng motornya yang ternyata memiliki jiwa solidaritas tinggi, Suryo akhirnya harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di balik jeruji besi atas kasus kekerasan dalam rumah tangga. Alena kini benar-benar bebas dari rasa takut.

"Bagaimana sekolah barumu hari ini? Seru tidak?" tanya Andra sambil berjalan menuju meja makan, diikuti langkah kecil Alena yang ceria. Setelah keluar dari lingkungan lamanya yang buruk, Alena akhirnya bisa kembali melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda lama.

"Seru banget, Kak! Teman-teman di kelas baru semuanya baik. Aku juga dapat nilai penuh di tugas menulis hari ini," cerita Alena dengan menggebu-gebu, matanya memancarkan kebahagiaan yang murni dan tulus.

Andra tersenyum bangga. Ia memandang wajah ceria adik kembarnya, lalu beralih menatap ibunya yang sedang tersenyum haru di dekat dapur. Bagi Andra, yang menghabiskan masa remajanya dengan keras di jalanan hanya untuk mencari jati diri dan keluarga, melihat keluarganya kembali utuh, aman, dan bahagia adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya. Jaket hitam yang ia kenakan bukan lagi simbol pemberontakan atau kekerasan, melainkan lambang perlindungan bagi orang-orang yang ia cintai.

Saat malam mulai menjemput dan langit berubah gelap, mereka bertiga duduk bersama di meja makan, menikmati hidangan sederhana namun nikmat, diiringi tawa dan cerita-cerita kecil tentang hari yang mereka lalui. 

Dua keping koin yang dulu terpisah jauh oleh badai perceraian, kini telah kembali bersatu dalam sebuah ikatan takdir yang kuat dan tak akan pernah terpisahkan lagi. Alena tahu, seseram apa pun malam yang pernah ia lalui, ia kini telah menemukan pelabuhan terakhirnya—tempat di mana ia menemukan kedamaian, rasa aman, dan kebahagiaan sejati.

Tulisan terkait

Utama 2213952545703569964

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item