Puisi-puisi Zafira Fitria Al-Faizah HT, Palembang


Zafira Fitria Al-Faizah HT, lahir dan tumbuh dalam kehangatan budaya Melayu Palembang, ia selalu menjaga erat identitas dan kesantunan adat leluhurnya. Langkah hidup kini membawanya merantau jauh ke seberang pulau untuk menuntut ilmu dan menempa jiwa di Universitas Al-Amien Prenduan, Madura.

Di tengah tertibnya kehidupan pesantren, Faizah tumbuh sebagai sosok pembelajar yang gemar merenung dan mengamati dunia. Ia memadukan keanggunan budaya asal dengan kedalaman ilmu agama, dengan satu harapan besar: pulang membawa manfaat dan mengabdi tanpa pernah kehilangan jati diri.

 *****

Kedai Kopi dan Waktu yang Lari

Secangkir hitam masih mengepul hangat, di meja sudut tempat kita menyemat ingat. Aroma pekatnya berkelindan dengan udara, memanggil kembali jutaan kata yang pernah kentara. Namun kursi di hadapanku kini telah kosong, menyisakan ruang mati dan tawa yang mulai lowong. Dulu, di sini, kita gemar menantang senja, membicarakan masa depan seolah kita rajanya. Gula yang larut dalam pahitnya seduhan, seperti rindu yang kini melebur jadi keluhan. Suaramu masih tertinggal di sudut dinding ini, berbisik lirih di antara denting sendok yang sepi. Waktu ternyata berlari tanpa pernah pamit, meninggalkan jejak rindu yang sedikit menjepit. Ia melesat, mencuri detak yang pernah kita punya, menggantinya dengan jarak yang tak tahu di mana ujungnya. Setiap sudut kota kini menjelma menjadi pengingat, tentang sebuah cerita yang pernah berjalan sangat hangat.

Kau sudah jauh melangkah, menembus kabut hari depan, menemukan jalan baru dan barangkali telah melupakan. Sedang aku, masih tertinggal di meja yang sama, menolak beranjak, masih betah merawat kenangan lama. Membiarkan kopi ini mendingin bersama sang waktu, menunggumu kembali, meski tahu itu tak lagi tentu.

Keheningan dan Rasa yang Tertinggal

Dia adalah teka-teki yang selesai kubaca, namun halamannya selalu menolak untuk melusuh. Seperti aroma tanah yang dilepas oleh cuaca, kehadirannya tertinggal, meski raga telah menjauh. Ada hari-hari di mana ia menjelma menjadi sunyi, menyelinap di antara tumpukan buku dan cangkir yang sepi. Aku tidak sedang mencarinya dalam riuh dunia, namun jemari waktu selalu menuntun ingatan ke arah sana. Dia bukan lagi tentang rindu yang mengemis temu, bukan pula tentang sesal yang menuntut waktu berputar. Ia telah menjadi bagian dari caraku mengeja sendu, menjadi ketukan tenang di saat dunia sedang bergetar.

Pada akhirnya, ia adalah puisi yang tak pernah selesai ditulis, yang bait-baitnya menetap di sudut paling rahasia. Tempat di mana aku menyimpannya dengan sangat rasis, sebagai bentuk keindahan yang pernah nyata dalam masa.

Hiruk-Pikuk dan Keasingan Diri

Dari lantai sekian, kota ini tampak seperti papan catur, di mana lampu-lampu jalanan menyala tanpa sempat diatur. Kendaraan merayap serupa semut yang memburu waktu, membawa manusia-manusia yang lelah dengan mimpi yang membatu. Semua orang tampak terburu-buru mengejar sesuatu yang fana, menukar peluh dan tawa demi angka-angka yang mempesona. Namun dari atas sini, riuh itu menjelma menjadi sunyi yang pekat, membuatku bertanya, di mana sebenarnya kita menaruh hakikat? Kita membangun gedung-gedung tinggi mencakar langit sepi, namun sering kali lupa meluaskan ruang di dalam hati. Mengejar dunia hingga lupa cara untuk sekadar berhenti, dan menikmati napas yang tersisa sebelum hari berganti. Kota ini tak pernah tidur, ia terus menuntut dan menari,memaksa kita ikut bergerak atau tertinggal sendiri.

Dan di sudut jendela ini, aku hanya sebutir debu yang memandang, mencari arti pulang di antara gemerlap yang perlahan lengang.

Sukacita dan Rasa Syukur

Matahari terbit dengan senyum paling cerah, mengusir sisa malam dan kantuk yang pasrah. Angin pagi bersiul di sela daun jendela, mengajak jiwa yang bangun untuk kembali menyala. Hari ini tidak ada ruang untuk gundah, sebab hidup terlalu berharga untuk dibuat lelah. Lihatlah ke luar, langit sedang melukis warna, menyambut langkah-langkah kita yang penuh rencana. Mari rayakan segelas teh hangat yang manis, dan tawa-tawa renyah yang menghapus tangis. Bahagia itu sederhana, tak perlu menunggu nanti, ia ada di sini, di dalam detak dada yang menari. Langkahkan kaki dengan ringan dan bebas, lepaskan semua beban yang kemarin terasa diperas.

Sebab hari ini adalah milik kita yang bersiap senandungkan lagu, menjemput dunia dengan hati yang tak lagi ragu.

Kehadiran dalam Ketiadaan

Bagaimana mungkin seseorang yang telah melangkah jauh, masih bisa membangun rumah di dalam kepalaku? Dia tak lagi di sini, tak lagi menyentuh, namun bayangnya menetap, menjelma menjadi cetak biru. Dia adalah sebaris kalimat yang gagal kuhapus, tanda koma yang menolak menjadi titik yang tulus. Ada dalam setiap lagu yang tak sengaja berputar, ada dalam setiap sudut jalan yang arusnya memencar. Aku mengingatnya bukan sebagai luka yang menganga, melainkan sebagai sepotong musim yang pernah berbunga. Cara matanya membaca dunia dengan tenang, dan bagaimana suaranya meredakan badai yang datang meremang. Kini, dia telah menjadi bagian dari sunyi yang bising, sosok yang asing namun sekaligus paling membingung. Ia tak ada di sisiku saat jemari ini dingin mencekam,

tapi dialah alasan mengapa ingatan ini menolak untuk padam.

Tulisan terkait

Utama 493491172119087091

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item