Putri Agung dan Daun Sirih Penawar Wabah, Pengorbanan Seorang Putri

Bagian II 


Patih Pranggulang menerima keranjang daun sirih itu dengan penuh hormat. Hatinya dipenuhi rasa syukur karena penantian panjang akhirnya membuahkan hasil. Ia yakin petunjuk yang diterima Putri Agung bukanlah mimpi biasa, melainkan anugerah dari Tuhan bagi rakyat Medangkamulan.

Sementara itu, Putri Agung memandang keranjang daun sirih dengan mata berkaca-kaca. Beban yang selama ini menghimpit dadanya seakan sedikit terangkat. Ia percaya bahwa harapan bagi rakyatnya mulai menemukan jalan.

"Patih," ucapnya pelan, "segeralah kembali ke Medangkamulan. Berikan daun sirih ini kepada para tabib kerajaan. Mintalah mereka meramunya sebaik mungkin agar dapat segera diberikan kepada seluruh rakyat yang menderita."

Patih Pranggulang menundukkan kepala.

"Hamba akan melaksanakan titah Tuan Putri. Semoga obat ini benar-benar menjadi penawar bagi wabah yang telah merenggut begitu banyak nyawa."

Putri Agung mengangguk perlahan.

"Aku belum dapat kembali. Masih ada perjalanan yang harus kutempuh. Aku ingin terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, memohon agar kerajaan kita selalu dilindungi dari segala bencana."

Patih memahami bahwa tekad Putri Agung tidak mungkin digoyahkan. Selama mengenalnya, ia tahu sang putri selalu menempatkan kepentingan rakyat di atas kebahagiaan pribadinya.

Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di tepi lautan yang luas.

Hamparan air membentang tanpa batas. Ombak bergulung perlahan menuju pantai, sementara angin laut bertiup membawa aroma asin yang khas. Di hadapan mereka tidak tampak jalan lain selain lautan yang membiru.

Patih Pranggulang segera mengumpulkan batang-batang kayu yang hanyut di pesisir. Dengan keahliannya, ia menyusun kayu-kayu itu menjadi sebuah rakit yang kokoh. Rotan hutan dijadikan tali pengikat, sedangkan batang bambu dipasang sebagai penyeimbang.

Menjelang senja, rakit itu akhirnya selesai.

Putri Agung memandang hasil kerja Patih dengan rasa haru.

"Terima kasih, Patih. Tanpa bantuanmu, aku tidak mungkin sampai sejauh ini."

Patih tersenyum tulus.

"Justru hambalah yang berterima kasih karena telah diizinkan mendampingi Tuan Putri."

Sesaat kemudian suasana berubah hening.

Patih menyadari bahwa inilah saat perpisahan.

"Hamba harus segera kembali ke Medangkamulan membawa daun sirih ini. Setiap saat sangat berharga bagi rakyat yang sedang menunggu kesembuhan."

Putri Agung mengangguk.

"Aku mengerti."

Patih kemudian berlutut di hadapan sang putri.

"Mulai hari ini, izinkan hamba mengundurkan diri dari jabatan patih kerajaan. Setelah menyerahkan daun sirih kepada para tabib, hamba tidak akan kembali ke istana."

Putri Agung tampak terkejut.

"Mengapa demikian?"

"Hamba ingin menjalani hidup sebagai rakyat biasa. Selama ini hamba telah mengabdi kepada kerajaan. Kini hamba ingin mengabdikan sisa hidup untuk membantu masyarakat dengan cara yang berbeda."

Putri Agung menghormati keputusan itu.

"Semoga jalan hidupmu selalu diberkahi."

Sebelum berpisah, Patih memberikan satu pesan yang akan selalu dikenang.

"Apabila suatu hari Tuan Putri berada dalam kesulitan, panggillah nama hamba sebanyak tiga kali. Selama Tuhan masih mengizinkan, hamba akan datang membantu."

Putri Agung mengangguk sambil menahan air mata.

Sejak saat itulah Patih Pranggulang dikenal masyarakat dengan nama Ki Poleng, atau Empu Kelleng. Ia memilih hidup sederhana sebagai pandai besi yang mengabdikan keahliannya untuk rakyat. Banyak senjata, alat pertanian, dan perkakas yang dibuatnya menjadi penolong kehidupan masyarakat. Namanya pun dikenang sebagai sosok bijaksana yang tidak lagi mengejar kedudukan, melainkan kemanfaatan.

Sementara itu, Putri Agung menaiki rakit yang telah disiapkan.

Dengan perlahan rakit mulai menjauh dari pantai.

Angin mendorong layar sederhana yang terbuat dari anyaman daun, sementara ombak membawa rakit menuju cakrawala.

Hari berganti hari.

Malam berganti malam.

Putri Agung hidup di tengah lautan yang seolah tidak bertepi. Ia hanya ditemani suara ombak, burung-burung laut, dan langit penuh bintang.

Sesekali hujan turun membasahi tubuhnya.

Kadang matahari bersinar begitu terik hingga kulitnya menghitam.

Namun sedikit pun ia tidak mengeluh.

Setiap pagi ia berdoa memohon keselamatan bagi kedua orang tuanya, bagi Pangeran Adi Poday yang sedang mempertahankan kerajaannya, dan terutama bagi seluruh rakyat Medangkamulan.

Di kejauhan, pikirannya selalu tertuju pada tanah kelahirannya.

Ia membayangkan para tabib sedang meramu daun sirih menjadi obat. Ia membayangkan anak-anak yang mulai tersenyum karena demam mereka turun. Ia membayangkan para ibu yang kembali memeluk anak-anak mereka tanpa rasa takut.

Doa-doa itu menjadi kekuatan yang menjaga semangatnya.

Suatu pagi, ketika kabut masih menyelimuti permukaan laut, Putri Agung melihat sesuatu di kejauhan.

Mula-mula ia mengira hanya bayangan awan.

Namun ketika matahari mulai meninggi, tampak sebuah bukit kecil berdiri di tengah hamparan laut.

Di sampingnya menjulang sebatang pohon nyiur yang melambai ditiup angin.

Harapan kembali tumbuh.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Putri Agung mengarahkan rakit menuju daratan itu.

Menjelang sore, ombak perlahan mendorong rakit hingga menyentuh pasir pantai.

Rakit itu akhirnya berhenti.

Putri Agung turun dengan langkah yang lemah. Lututnya hampir tidak mampu menopang tubuhnya, tetapi bibirnya mengembangkan senyum penuh syukur.

"Alhamdulillah... Engkau masih melindungiku," bisiknya.

Ia lalu bersujud di atas pasir sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan.

Di pulau kecil itu udara terasa sejuk. Pepohonan tumbuh rimbun, burung-burung bernyanyi riang, sementara mata air jernih mengalir dari sela bebatuan.

Putri Agung meminum air itu dan membasuh wajahnya.

Tubuhnya yang letih perlahan memperoleh kembali tenaga.

Sambil memandang hamparan laut yang baru saja dilaluinya, ia merenungkan seluruh perjalanan hidupnya.

Ia telah meninggalkan kemewahan istana.

Ia berpisah dengan kedua orang tuanya.

Ia harus merelakan suami tercinta pergi demi menyelamatkan rakyatnya.

Ia juga berpisah dengan sahabat setianya, Patih Pranggulang.

Namun semua pengorbanan itu tidak pernah disesalinya.

Baginya, seorang pemimpin sejati bukanlah mereka yang duduk di singgasana, melainkan mereka yang berani menderita demi keselamatan orang banyak.

Beberapa waktu kemudian, kabar dari Medangkamulan akhirnya sampai kepadanya melalui para pelaut yang singgah di pulau itu.

Daun sirih yang dibawa Patih Pranggulang berhasil diolah oleh para tabib kerajaan. Ramuan itu diberikan kepada rakyat yang terjangkit wabah.

Sedikit demi sedikit penderita mulai sembuh.

Bentol-bentol di tubuh mereka mengering.

Demam mereka turun.

Anak-anak kembali bermain di halaman rumah.

Tangis berganti tawa.

Kerajaan Medangkamulan perlahan bangkit dari musibah yang hampir memusnahkan seluruh negeri.

Sang Raja dan Permaisuri tidak pernah berhenti mengucapkan syukur. Mereka mengetahui bahwa keselamatan rakyat merupakan buah dari ketulusan hati putri tercinta.

Sejak saat itu, daun sirih dihormati sebagai tanaman yang membawa manfaat bagi kehidupan. Masyarakat memanfaatkannya sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit dan meyakini bahwa alam selalu menyediakan penawar bagi setiap musibah, selama manusia mau berusaha dan memohon petunjuk kepada Tuhan.

Adapun nama Putri Agung terus hidup dalam ingatan masyarakat Medangkamulan. Ia dikenang bukan semata karena kecantikannya, melainkan karena kasih sayang, keberanian, dan pengorbanannya yang melampaui kepentingan dirinya sendiri.

Legenda ini mengajarkan bahwa kekuasaan tidak berarti tanpa kepedulian, kecantikan tidak bernilai tanpa ketulusan, dan doa yang disertai ikhtiar akan selalu membuka jalan menuju harapan.

Sebab, sepanjang sejarah manusia, mereka yang dikenang bukanlah orang-orang yang hidup untuk dirinya sendiri, melainkan mereka yang rela berkorban demi kehidupan sesamanya.(*)

***

Tulisan bersambung:

  1.  Putri Agung dan Daun Sirih Penawar Wabah: Perjalanan Mencari Petunjuk Ilahi
  2.  Putri Agung dan Daun Sirih Penawar Wabah: Pengorbanan Seorang Putri

Tulisan terkait

Utama 626830480945708986

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Pilihan

Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item