Soesalit Djojoadhiningrat: Putra Kartini yang Memilih Berjuang Tanpa Menjual Nama Besar
![]() |
| Putra Tunggal Kartini, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat. (Wikipedia) |
Berbeda dengan ibunya yang dikenang melalui pemikiran dan surat-suratnya, Soesalit memilih jalan sunyi. Ia menjalani kehidupan tanpa memanfaatkan nama besar keluarganya. Di tengah berbagai kesempatan untuk memperoleh kedudukan, kemudahan, dan penghormatan karena status keturunannya, Soesalit justru memilih membangun jalan hidupnya sendiri. Sikap itulah yang menjadikannya sosok yang layak dikenang dalam sejarah Indonesia.
Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat lahir di Rembang pada 13 September 1904. Ia merupakan putra tunggal R.A. Kartini dan Raden Mas Adipati Ario Djojoadhiningrat, Bupati Rembang pada masa Hindia Belanda. Namun, kebahagiaan masa kecilnya tidak berlangsung lama. Empat hari setelah melahirkannya, Kartini wafat pada usia yang masih sangat muda, yakni 25 tahun.
Sejak kecil, Soesalit tumbuh dalam lingkungan keluarga bangsawan Jawa yang terpandang. Sebagai putra seorang bupati, ia memiliki berbagai peluang yang tidak dimiliki kebanyakan orang pada zamannya. Jalur birokrasi pemerintahan terbuka lebar di hadapannya. Bahkan, menurut berbagai catatan sejarah, ia memiliki kesempatan besar untuk melanjutkan kedudukan ayahnya sebagai bupati.
Namun, Soesalit memiliki pandangan berbeda. Ia tidak ingin hidup dalam bayang-bayang kebesaran keluarganya. Dalam buku Kartini karya Wardiman Djojonegoro, disebutkan bahwa banyak kerabat yang mendorongnya untuk mengambil posisi terhormat sebagai bupati. Akan tetapi, Soesalit menolak. Baginya, jabatan tidak boleh diperoleh semata karena garis keturunan.
Keputusan itu menjadi titik penting yang menunjukkan karakter dirinya. Ketika banyak orang memandang status keluarga sebagai jalan menuju kemudahan, Soesalit justru memilih jalan yang lebih berat.
Pada tahun 1943, ketika Jepang menduduki Indonesia, Soesalit memilih masuk dunia militer. Ia mengikuti pendidikan militer yang diselenggarakan pemerintah Jepang dan kemudian bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA). Pilihan ini menandai awal pengabdiannya kepada bangsa melalui jalur kemiliteran.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Soesalit bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Di sinilah kemampuannya mulai terlihat. Ia aktif dalam berbagai operasi dan pertempuran mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.
Menurut Sitisoemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi, Soesalit dikenal sebagai perwira yang disiplin, berani, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Berkat dedikasi dan pengalamannya di medan perjuangan, karier militernya berkembang pesat.
Puncak kariernya terjadi pada tahun 1946 ketika ia dipercaya menjadi Panglima Divisi II Diponegoro. Jabatan tersebut bukan posisi sembarangan. Pada masa itu, Divisi Diponegoro memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan Yogyakarta yang menjadi ibu kota Republik Indonesia. Tugas tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan yang besar dari pemerintah dan pimpinan militer terhadap dirinya.
Selain berkiprah di dunia militer, Soesalit juga pernah dipercaya mengemban tugas sipil. Salah satunya ketika menjabat sebagai penasihat Menteri Pertahanan pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo pada tahun 1953. Peran tersebut memperlihatkan bahwa kemampuannya tidak hanya diakui dalam bidang kemiliteran, tetapi juga dalam urusan pemerintahan.
Menariknya, sepanjang kariernya, sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa dirinya adalah putra tunggal R.A. Kartini. Soesalit tidak pernah menjadikan nama ibunya sebagai alat untuk mendapatkan simpati atau keuntungan pribadi.
Padahal, pada masa itu nama Kartini telah menjadi simbol nasional. Surat-suratnya telah diterbitkan dan dikenal luas. Lagu “Ibu Kita Kartini” karya W.R. Supratman juga terus dinyanyikan di berbagai sekolah dan acara peringatan. Nama Kartini telah menjadi kebanggaan bangsa.
Namun, Soesalit tetap memilih diam.
Sikap rendah hati itu bahkan disaksikan langsung oleh Jenderal Abdul Haris Nasution. Dalam berbagai catatan, Nasution mengungkapkan kekagumannya kepada Soesalit yang tidak pernah memanfaatkan identitasnya sebagai anak Kartini. Ketika masa pengabdiannya berakhir dan kehidupannya mengalami kesulitan ekonomi, ia tetap tidak pernah meminta perlakuan khusus.
Nasution menilai bahwa Soesalit sebenarnya dapat memperoleh kehidupan yang lebih layak jika ia mau memperkenalkan dirinya sebagai satu-satunya putra Kartini. Banyak pihak tentu akan memberikan perhatian dan bantuan. Akan tetapi, jalan itu tidak pernah dipilihnya.
Bagi Soesalit, kehormatan tidak terletak pada nama besar yang diwariskan, melainkan pada usaha dan pengabdian yang dilakukan sendiri. Prinsip itu dipegangnya dengan teguh hingga akhir hayat.
Pada 17 Maret 1962, Soesalit Djojoadhiningrat meninggal dunia dalam kondisi yang jauh dari kemewahan. Ia tidak meninggalkan harta berlimpah ataupun kedudukan tinggi. Namun, ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: teladan tentang integritas, kerendahan hati, dan pengabdian tanpa pamrih.
Jika Kartini dikenang karena perjuangannya melalui gagasan dan pena, maka Soesalit dikenang melalui keteguhan sikap dan pengabdiannya di medan perjuangan. Ia membuktikan bahwa kebesaran seseorang tidak selalu lahir dari nama yang diwariskan, melainkan dari pilihan hidup yang dijalani dengan penuh kehormatan.
Dalam sejarah Indonesia, Soesalit mungkin tidak setenar ibunya. Namun, justru dalam kesederhanaan dan ketulusannya itulah terpancar warisan nilai yang sama mulianya dengan yang pernah diperjuangkan Kartini: hidup dengan martabat, bekerja dengan jujur, dan mengabdi kepada bangsa tanpa mengharapkan pujian. (rulis)


