Dari Palembang ke Sumenep: Menemukan Rumah Kedua di Ujung Timur Madura

 

Masjid Agung Sumenep (atau Masjid Jamik) merupakan ikon budaya dan sejarah di Kabupaten Sumenep, Madura

Penulis:  Zafira Fitria Al-Faizah

Merantau bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga perjalanan batin untuk mengenal budaya, menghargai perbedaan, dan menemukan makna baru tentang rumah. Pengalaman seorang perantau dari Palembang di Sumenep membuktikan bahwa prasangka sering kali runtuh ketika digantikan oleh perjumpaan yang tulus.

Bagi seorang anak rantau dari Palembang, nama Madura sering kali hadir bersama berbagai stereotip yang telah lama beredar. Pulau ini kerap digambarkan sebagai wilayah yang keras, gersang, dan identik dengan karakter masyarakat yang tegas.

Gambaran semacam itu perlahan membentuk imajinasi banyak orang sebelum benar-benar mengenalnya. Namun, ketika langkah pertama membawa saya ke Kabupaten Sumenep, seluruh prasangka itu seakan luruh begitu saja. Di ujung timur Pulau Madura, saya justru menemukan sebuah daerah yang ramah, teduh, dan kaya akan kebijaksanaan budaya.

Sumenep menghadirkan kesan yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata. Kota ini tidak sekadar menyimpan jejak sejarah, tetapi juga merawatnya dengan penuh kehormatan. Sebagai orang Palembang yang tumbuh dengan kebanggaan terhadap warisan maritim Kedatuan Sriwijaya, saya merasakan getaran yang serupa ketika mengunjungi Keraton Sumenep atau menyusuri kawasan Kota Tua Kalianget.

Jika Sungai Musi menjadi saksi kejayaan masa lalu Palembang, maka Keraton Sumenep berdiri anggun sebagai pengingat perjalanan panjang peradaban Madura. Keduanya mengajarkan hal yang sama: sejarah bukan sekadar cerita, melainkan identitas yang terus hidup.

Keindahan Sumenep tidak pernah tampil berlebihan. Kota ini memilih berbicara melalui kesantunan. Tradisi dipelihara tanpa kehilangan relevansi, sementara modernitas diterima tanpa harus mengorbankan jati diri. Di setiap sudut kota terasa bahwa masyarakatnya memiliki kebanggaan terhadap budaya sendiri, tetapi tidak pernah menutup diri terhadap orang luar. Sebaliknya, setiap tamu diterima dengan keramahan yang tulus.

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi saya adalah ketika mulai mengenal bahasa Madura. Di Palembang, saya terbiasa dengan dialek yang lugas dan penuh semangat. Di Sumenep, saya diperkenalkan pada ondhâghâ bhâsa, tingkatan bahasa yang mengajarkan penghormatan kepada lawan bicara.

Mendengar masyarakat menggunakan bhâsa alos memberikan kesan yang begitu mendalam. Setiap kata terasa dipilih dengan hati-hati, seolah-olah bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cermin akhlak. Kehalusan tutur itu mengingatkan saya pada indahnya tenunan songket Palembang, yang dibentuk melalui ketelitian, kesabaran, dan rasa hormat terhadap nilai-nilai luhur.

Keramahan masyarakat Sumenep semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Sikap rendah hati bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan tumbuh alami sebagai bagian dari karakter masyarakat. Nilai religiusitas berjalan berdampingan dengan tradisi lokal tanpa saling meniadakan. Hal itu tampak dari kemegahan Masjid Jami' Sumenep yang memadukan unsur arsitektur Islam, Tiongkok, dan Eropa dalam satu harmoni yang indah. Begitu pula tradisi karapan sapi yang bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga simbol semangat, kerja keras, dan kebersamaan masyarakat Madura.

Sebagai seorang perantau, kerinduan terhadap kampung halaman sering kali muncul melalui cita rasa makanan. Meninggalkan pempek dengan kuah cuko yang khas menuju kuliner Sumenep seperti campor, kaldu kokot, atau sate yang kaya rempah menjadi pengalaman baru yang menarik.

Awalnya lidah membutuhkan waktu untuk beradaptasi, tetapi perlahan saya menyadari bahwa setiap daerah memiliki cerita yang tersimpan di balik masakannya. Kuliner menjadi bahasa budaya yang paling mudah dipahami. Kekayaan rempah dalam masakan Sumenep mengisyaratkan bahwa daerah ini pernah menjadi persinggahan penting jalur perdagangan Nusantara, sebagaimana Palembang pada masa kejayaan Sriwijaya.

Semakin lama tinggal di Sumenep, semakin saya memahami bahwa merantau bukanlah perjalanan untuk mencari mana yang lebih baik antara daerah asal dan daerah tujuan. Merantau adalah kesempatan untuk memperluas cara pandang, menghargai keberagaman, dan menemukan persaudaraan dalam perbedaan. Palembang mengajarkan saya tentang kebesaran sejarah maritim, sementara Sumenep mengajarkan kelembutan budaya yang berpadu dengan keteguhan iman. Keduanya memperkaya cara saya memandang Indonesia sebagai negeri yang dihuni oleh beragam peradaban yang saling melengkapi.

Kini, Sumenep bukan lagi sekadar kota tempat saya bekerja atau belajar. Kota ini telah menjadi rumah kedua yang memberi pelajaran berharga tentang arti menghormati sesama, menjaga tradisi, dan hidup berdampingan dalam keberagaman. Saya datang sebagai orang asing dengan berbagai prasangka, tetapi pulang dengan hati yang penuh rasa syukur.

Di Sumenep, saya belajar bahwa kehormatan, keramahan, dan budi pekerti adalah bahasa universal yang mampu menyatukan siapa pun, dari mana pun asalnya. Barangkali, inilah makna terdalam dari sebuah perjalanan: menemukan rumah baru tanpa harus kehilangan cinta kepada rumah yang pertama.

*****

Zafira Fitria Al-Faizah HT lahir dan besar dalam budaya Melayu Palembang yang membentuk karakter santun dan teguh memegang jati diri. Kini menempuh pendidikan di Universitas Al-Amien Prenduan, Madura, sambil memperdalam ilmu agama dan mengembangkan diri sebagai pembelajar yang gemar membaca, merenung, dan menulis. Bertekad kelak kembali mengabdi kepada masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhurnya.

Instagram: @zafirafitriaalfaizah
Email: Zafira Fitria Al-Faizah@gmail.com

Tulisan terkait

Utama 5657465213587852229

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item