Foufo: Ketika UFO Jatuh di Madura dan Sinema Indonesia Menemukan Napas Baru

Tangkapan layar salah satu adegan film Foufo
Di tengah dominasi film horor yang membanjiri layar bioskop Indonesia, Foufo hadir sebagai kejutan yang menyegarkan. Melalui perpaduan komedi, fiksi ilmiah, dan kearifan lokal Madura, film garapan Bayu Skak ini membuktikan bahwa sinema Indonesia tidak harus terus berjalan di jalur yang sama. Dengan satir yang cerdas, humor yang membumi, dan kisah keluarga yang menghangatkan hati, Foufo menawarkan pengalaman menonton yang berbeda sekaligus membuka harapan bagi keberagaman genre perfilman nasional (red)
Oleh: Bagus Widya Prasetya
Hari-hari ini, melangkah ke bioskop lokal sering kali terasa seperti terjebak dalam lingkaran setan yang tak berujung. Ke mana pun mata memandang, dari bioskop kota besar hingga layar daerah, poster-poster film kita didominasi oleh wajah-wajah pucat, darah, jeritan religius, dan visual mistis yang mencekam. Industri sinema kita tampaknya sedang mengalami obesitas genre horor yang akut, seolah-olah penonton tidak diberi pilihan lain untuk menikmati hiburan akhir pekan.
Formatnya pun mulai terbaca dan berulang, membuat kita rindu akan sesuatu yang benar-benar berbeda. Di tengah kejenuhan massal itulah, hadir sebuah film berjudul Foufo membawa angin segar yang teramat langka: sebuah fiksi ilmiah (sci-fi) lokal yang berani menabrak arus utama dan menawarkan alternatif tontonan yang jauh lebih waras.
Stereotip yang melekat pada orang Madura memang sering kali berkutat di ranah negatif; mulai dari label temperamental, kriminal, hingga yang paling populer tentu saja perkara "maling besi". Menariknya, film Foufo tidak mencoba defensif atau menghindar dari stigma tersebut. Bayu Skak sebagai sutradara justru menabraknya secara frontal. Kalau di film-film Hollywood kejatuhan UFO bakal memicu kepanikan massal hingga turun tangan Pentagon, di film ini situasinya justru berbalik 180 derajat karena piring terbang itu jatuh di Madura.
Alih-alih digambarkan sebagai makhluk menyeramkan yang siap menginvasi bumi, UFO dan teknologi alien di sini justru dipandang pragmatis: sebagai gunungan besi premium yang bisa dikiloin dan dijadiin cuan. Komedi yang dibawakan tidak receh dan pasaran; absurditas itulah yang justru memicu tawa terbahak-bahak. Di tangan sang sutradara, stigma buruk yang biasanya memicu ketegangan di media sosial sukses diolah menjadi satir yang segar.
Namun, Foufo bukan sekadar pamer humor absurd belaka. Di balik tawa yang dihadirkan, film ini menyimpan hati yang hangat melalui plot emosional tentang perjuangan Muslim yang ingin membawa ibunya ke Tanah Suci. Bagi masyarakat Madura, naik haji bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima lalu pulang, melainkan simbol kehormatan tertinggi—bahkan kepulangan mereka bisa disambut perayaan selama 7 hari 7 malam. Di sinilah letak konfliknya.
Bagi Muslim yang hanya berprofesi sebagai pengepul rongsokan, mimpi itu rasanya mustahil digapai jika hanya mengandalkan penghasilan harian yang tak seberapa. Siapa sangka, kehadiran UFO dan teknologi alien yang jatuh dari langit justru menjadi "keajaiban" sekaligus jalan pintas ironis untuk menggapai mimpi mulia tersebut. Nilai-nilai lokal tentang bakti anak kepada orang tua ini diselipkan dengan sangat rapi di antara keriuhan plot fiksi ilmiahnya.
Selama ini, genre fiksi ilmiah atau sci-fi selalu diidentikkan dengan lanskap sinema Hollywood yang megah, teknologi CGI miliaran rupiah, dan ancaman kiamat global. Bagi penggemar film, umumnya genre sains fiksi selalu digambarkan dengan visual yang memukau, adegan perang yang mahal, dan plot cerita yang kadang bikin kepala pusing. Namun, hadirnya Foufo membuka pandangan baru. Film ini seperti menabrak semua standar baku tersebut. Foufo hadir dengan CGI yang tampak sederhana dan tidak menyuguhkan plot yang panjang lebar, melainkan memilih untuk membumi. Ia membuktikan bahwa fiksi ilmiah tidak harus selalu bercerita tentang kehancuran dunia di Pentagon, melainkan bisa tampil lokal, jenaka, dan terasa sangat dekat dengan realitas masyarakat pinggiran yang hangat.
Pada akhirnya, film ini berhasil membuktikan bahwa sineas lokal mampu membawa genre fiksi ilmiah ke level yang sangat dekat dengan penonton kita. Bukan dengan meniru Hollywood, melainkan dengan merangkul identitas kita sendiri—lengkap dengan segala stereotip dan kehangatan budayanya. Di tengah gempuran layar bioskop kita yang hari-hari ini masih saja dipenuhi oleh teriakan histeris film horor, Foufo justru hadir memberikan warna baru dan tawa riang bagi penonton.
Film ini adalah bukti nyata bahwa komedi terbaik sering kali lahir dari kejujuran kita dalam melihat diri sendiri dan hal – hal di sekitar kita, kadang kita terlalu sibuk meniru terlalu jauh untuk mendapatkan ide – ide komedi yang sebenarnya kurang relate dengan keadaan dan kenyataan kita, akhirnya terkesan maksa dan garing.

