Kacang Lupa Kulit: Ketika Kesuksesan Menghapus Jejak Asal Usul


Oleh: Beryl Abadi

Peribahasa kacang lupa kulitnya merupakan salah satu ungkapan yang tetap relevan hingga hari ini. Ia bukan sekadar sindiran bagi orang yang sombong, melainkan pengingat bahwa setiap keberhasilan memiliki akar yang tidak boleh dilupakan. Di tengah masyarakat modern yang dipenuhi persaingan, jabatan, kekayaan, dan popularitas, peribahasa ini menjadi cermin agar manusia tetap rendah hati dan menghargai perjalanan hidupnya.

Dalam khazanah peribahasa Indonesia, terdapat ungkapan yang sangat populer, yakni "kacang lupa kulitnya." Kalimat sederhana ini mengandung makna yang sangat dalam. Secara harfiah, kacang tidak mungkin tumbuh tanpa kulit yang melindunginya sejak awal. Namun dalam makna kiasan, peribahasa ini merujuk kepada seseorang yang melupakan asal-usulnya setelah memperoleh keberhasilan, kekayaan, kedudukan, atau popularitas.

Orang yang disebut kacang lupa kulitnya bukan hanya mereka yang menjadi kaya lalu memandang rendah orang miskin. Lebih jauh lagi, peribahasa ini menggambarkan sikap manusia yang kehilangan rasa tahu diri. Ia melupakan orang-orang yang dahulu membantunya, menganggap masa lalunya sebagai sesuatu yang memalukan, bahkan merasa dirinya berhasil semata-mata karena kemampuan sendiri.

Fenomena semacam ini bukanlah hal baru. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpainya dalam berbagai bentuk. Misalnya, seseorang yang lahir dari keluarga sederhana di sebuah desa. Berkat kerja keras dan kesempatan, ia berhasil menjadi pejabat, pengusaha, atau tokoh terkenal di kota. Namun setelah berada di puncak, ia enggan pulang ke kampung halaman. Ia malu mengakui keluarganya yang masih hidup sederhana. Teman-teman masa kecil yang dahulu selalu menemaninya kini dianggap tidak selevel. Bahkan ketika bertemu, ia bersikap dingin dan menjaga jarak.

Contoh lain sering terjadi dalam dunia pendidikan. Ada seseorang yang dahulu dibimbing oleh guru dengan penuh kesabaran hingga berhasil meraih prestasi tinggi. Ketika telah sukses, ia tidak lagi menghormati gurunya. Bahkan ada yang merasa lebih pintar daripada orang yang dahulu mengajarinya. Sikap seperti ini merupakan bentuk lain dari kacang lupa kulitnya, sebab ia melupakan jasa yang telah mengantarkannya menuju keberhasilan.

Dalam dunia pertemanan, peribahasa ini juga sangat relevan. Tidak sedikit orang yang berubah setelah memiliki lingkungan baru. Ketika masih berada dalam kesulitan, ia sangat akrab dengan teman-teman lamanya. Namun setelah memiliki pekerjaan bergengsi, penghasilan besar, atau pergaulan yang dianggap lebih elit, ia perlahan meninggalkan sahabat-sahabat yang dahulu selalu mendukungnya. Ia hanya menghubungi mereka ketika membutuhkan bantuan. Persahabatan yang dulu hangat berubah menjadi hubungan yang dingin karena kesombongan telah mengambil alih.

Fenomena serupa juga tampak di era media sosial. Popularitas sering kali membuat seseorang lupa bahwa pengikut dan penggemarnya berasal dari masyarakat biasa. Ada figur publik yang berubah sikap setelah terkenal. Kritik dianggap sebagai penghinaan, sementara nasihat dipandang sebagai gangguan. Padahal, tanpa dukungan orang lain, mungkin namanya tidak pernah dikenal luas. Ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih tinggi daripada semua orang, saat itulah benih kacang lupa kulitnya mulai tumbuh.

Dalam lingkungan kerja pun demikian. Seorang karyawan yang dahulu bekerja bersama rekan-rekannya bisa berubah setelah diangkat menjadi atasan. Jabatan membuatnya lupa bahwa dulu ia pernah merasakan kesulitan yang sama. Ia menjadi arogan, sulit ditemui, dan enggan mendengarkan masukan bawahannya. Padahal pemimpin yang baik justru lahir dari kemampuan mengingat perjalanan hidupnya sendiri.

Peribahasa ini sesungguhnya mengajarkan nilai moral yang sangat penting, yakni pentingnya menjaga kerendahan hati. Keberhasilan bukan alasan untuk melupakan masa lalu, melainkan kesempatan untuk menghargai setiap proses yang telah dilalui. Orang tua, keluarga, guru, sahabat, tetangga, bahkan kegagalan-kegagalan yang pernah dialami merupakan "kulit" yang dahulu melindungi dan membentuk seseorang hingga menjadi seperti sekarang.

Dalam budaya Nusantara, menghormati asal-usul merupakan bagian dari etika kehidupan. Seseorang boleh setinggi apa pun kedudukannya, tetapi akar kehidupannya tidak boleh dicabut. Pohon yang besar tetap berdiri karena akarnya kuat. Demikian pula manusia. Ketika ia memutus hubungan dengan akar kehidupannya, sesungguhnya ia sedang kehilangan jati dirinya.

Oleh karena itu, peribahasa kacang lupa kulitnya bukan sekadar sindiran bagi orang yang sombong. Ia adalah nasihat lintas zaman agar manusia selalu ingat dari mana ia berasal, siapa yang pernah menolongnya, dan bagaimana perjalanan panjang telah membentuk dirinya. Sebab setinggi apa pun seseorang melangkah, kerendahan hati tetap menjadi pakaian yang paling indah. Orang yang mampu mengingat asal-usulnya akan lebih mudah menghargai orang lain, sedangkan mereka yang melupakannya sering kali kehilangan rasa hormat dari masyarakat.

Tulisan terkait

Utama 5415007069334694350

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item