Rokat Tasè’: Jejak Syukur dan Kearifan Nelayan Madura Menjaga Laut Kehidupan

Perahu-perahu dihias dengan pernak-pernik warna-warni siap dilepas saat rokat tase' dimulai

Di pesisir Pulau Madura, laut bukan sekadar ruang mencari nafkah, melainkan bagian dari jati diri masyarakat yang melahirkan tradisi penuh makna. Rokat tasè’ hadir sebagai warisan budaya yang memadukan rasa syukur kepada Allah SWT, doa keselamatan, semangat gotong royong, dan kepedulian terhadap kelestarian laut. Lebih dari sekadar upacara adat, tradisi ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Madura yang menjunjung kebersamaan, menghormati alam, serta menjaga keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan lingkungan demi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang. (red)

Oleh: Zafira Fitria Al-Faizah HT

Bagi masyarakat pesisir Pulau Madura, laut bukan sekadar bentangan air yang luas, melainkan urat nadi kehidupan. Selama berabad-abad, gelombang dan ombak telah menjadi rumah kedua bagi para nelayan yang menggantungkan rezeki pada kekayaan bahari. Dari kedekatan yang mendalam antara manusia dan laut inilah lahir sebuah tradisi luhur yang terus dirawat hingga kini, yakni rokat tasè’ upacara adat petik laut yang menjadi simbol penghormatan, permohonan keselamatan, sekaligus wujud rasa sokkor yang tulus kepada Sang Maha Kuasa.

Secara etimologis, kata rokat dalam bahasa Madura merujuk pada ritual pembersihan, penyucian, atau perayaan syukur, sedangkan tasè’ berarti laut. Dengan demikian, Rokat tasè’  dapat diartikan sebagai ritual penyucian laut sekaligus perayaan atas segala nikmat yang dilimpahkan Sang Pencipta melalui hasil tangkapan ikan yang melimpah, atau yang sering disyukuri nelayan sebagai rejeke se melampa.

Meskipun rokat tasè’ berakar dari kebiasaan leluhur pra-Islam, tradisi ini telah mengalami penyesuaian nilai yang sangat harmonis dengan ajaran keagamaan yang dianut mayoritas masyarakat Madura saat ini. Ritual ini tidak disikapi sebagai bentuk penyembahan terhadap kekuatan laut, melainkan sebagai media perantara untuk mengekspresikan rasa terima kasih kepada Allah SWT atas segala berkah hidup.

Puncak dari dimensi spiritual ini terlihat dari rangkaian pembacaan doa bersama (istighatsah atau pengajian) yang dipimpin oleh para kiai dan tokoh agama setempat sebelum prosesi larung dilakukan. Masyarakat meyakini bahwa rezeki di laut hanya dapat diraih atas izin Tuhan, dan keselamatan saat menerjang ombak bergantung penuh pada perlindungan-Nya. Hal ini memunculkan kepasrahan yang mendalam di mana nelayan memegang teguh prinsip ghu-ongghu e dãlem adu'a (sungguh-sungguh dalam berdoa) agar mendapat perlindungan saat melaut.

Prosesi rokat tasè’ ditandai dengan kemeriahan yang khas. Puluhan hingga ratusan perahu nelayan dihias sedemikian rupa dengan ornamen warna-warni, bendera, dan janur kuning. Keindahan estetis perahu-perahu ini mencerminkan kegembiraan masyarakat pesisir dalam menyambut hari raya kebudayaan mereka.

Inti dari upacara ini adalah pembuangan atau pelarungan sajen ke tengah laut. Sesajen yang biasa dikemas dalam perahu tiruan berukuran kecil (sere’) berisi tumpeng, hasil bumi, kue tradisional, hingga kepala sapi atau kambing. Setiap elemen sajen mengandung makna simbolis tersendiri:

Tumpeng dan hasil bumi menjadi simbol dari kesinambungan hubungan antara darat dan laut, serta rasa saling melengkapi antarunsur alam.

Makan bersama di atas perahu menggambarkan kesederhanaan dan kepasrahan nelayan di hadapan alam bebas, memupuk kebersamaan yang hangat dalam semangat tanèyan lanjhãng.

Pelepasan sesajen ke laut menjadi bentuk simbolis pengembalian sebagian rezeki kepada alam agar menjadi makanan bagi biota laut, yang pada hakikatnya menegaskan prinsip memberi dan menerima antara manusia dan lingkungan.

Selain dimensi spiritual, rokat tasè’ memiliki fungsi sosial yang sangat kuat. Upacara ini menjadi wahana untuk mempererat tali silaturahmi dan jhung-rojung atau song-osong lombhung (gotong royong) antar nelayan. Kerja bakti dalam menghias perahu, menyiapkan perlengkapan upacara, serta memasak hidangan secara bersama-sama mencerminkan kebersamaan yang kokoh di tengah kehidupan pesisir yang keras.

Di sisi lain, terdapat pula pesan ekologis mendalam yang tersirat dalam rokat tasè’. Ritual ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut. Nelayan diajak untuk sadar bahwa tasè' tidak boleh dieksploitasi secara serakah. Dengan menghormati laut melalui ritual tahunan ini, masyarakat secara tidak langsung diingatkan untuk tetap merawat laut demi kelangsungan hidup anak cucu mereka.

Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial, keberadaan rokat tasè’ membuktikan betapa tangguhnya kearifan lokal Madura dalam merawat identitas budayanya. Tradisi ini terbukti mampu bertahan bukan karena kepatuhan buta pada masa lalu, melainkan karena nilai-nilai esensial yang dikandungnya seperti rasa syukur, kesederhanaan, dan kebersamaan—tetap relevan sepanjang zaman.

Pada akhirnya, rokat tasè’ bukan sekadar pesta adat atau pertunjukan seni pesisir semata. Ia adalah manifes dari kerendahan hati Rèng Madhurâ di hadapan keagungan Pencipta dan kebesaran alam semesta. Melalui helai bendera yang berkibar di atas perahu dan doa yang dilarung bersama ombak, para nelayan Madura menegaskan kembali janji mereka: untuk terus bersyukur atas hari ini, berserah untuk hari esok, dan menjaga laut yang memberi mereka kehidupan.

*****

Zafira Fitria Al-Faizah HT, lahir dan tumbuh dalam kehangatan budaya Melayu Palembang, ia selalu menjaga erat identitas dan kesantunan adat leluhurnya. Langkah hidup kini membawanya merantau jauh ke seberang pulau untuk menuntut ilmu dan menempa jiwa di Universitas Al-Amien Prenduan, Madura. Bisa Bergabung di Instagram @zafirafitriaalfaizah dan gmail @Zafira Fitria Al-faizah 

Tulisan terkait

Utama 5134278884011999241

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item