Jangan Jadikan Perasaan Orang Lain Sebagai Permainan
Dina Mariana
Ketulusan adalah sesuatu yang mahal. Ketika seseorang datang dengan hati terbuka, memberikan perhatian, kepercayaan, dan harapan, ia sedang menyerahkan bagian dirinya yang paling rapuh. Karena itu, jangan mempermainkan perasaan orang lain hanya demi kesenangan sesaat. Kita mungkin dapat pergi tanpa merasa kehilangan, tetapi orang yang kita tinggalkan bisa membawa luka yang membutuhkan waktu panjang untuk sembuh.
Mempermainkan perasaan seseorang bukan sekadar kesalahan kecil dalam sebuah hubungan. Di balik sikap memberi harapan lalu menarik diri, mendekat ketika membutuhkan lalu menghilang ketika bosan, terdapat hati yang perlahan dipaksa mempertanyakan dirinya sendiri.
Orang yang dipermainkan mungkin mulai bertanya, “Apa yang salah dengan diriku?” atau “Mengapa aku tidak cukup berharga untuk diperlakukan dengan baik?” Padahal, belum tentu masalahnya ada pada dirinya. Bisa jadi, ia hanya memberikan ketulusan kepada orang yang tidak mampu menghargainya.
Bagi orang yang menganggap hubungan sebagai permainan, perhatian mungkin hanya dianggap sebagai hiburan. Pesan-pesan manis, janji, pertemuan, dan kedekatan mungkin tidak memiliki arti yang serius. Tetapi bagi orang yang benar-benar tulus, semua itu bisa memiliki makna yang sangat dalam.
Karena itu, jangan memberikan harapan jika sejak awal kita tahu tidak akan mampu menjaganya.
Perasaan bukan benda yang bisa diperlakukan sesuka hati. Ia bukan sesuatu yang dapat digunakan ketika kita kesepian, kemudian ditinggalkan ketika kita sudah merasa nyaman. Di dalam perasaan seseorang ada kepercayaan, harapan, waktu, bahkan doa yang mungkin tidak pernah kita ketahui.
Luka akibat dipermainkan juga tidak selalu terlihat. Tidak ada darah, tidak ada perban, dan tidak ada bekas luka di tubuh. Seseorang tetap dapat tersenyum, bekerja, bercanda, dan menjalani kehidupan seperti biasa. Namun, di dalam dirinya mungkin sedang terjadi perjuangan panjang untuk memulihkan kepercayaan yang telah rusak.
Yang paling berat bukan hanya kehilangan seseorang, melainkan kehilangan keyakinan bahwa ketulusan masih layak diberikan.
Orang yang pernah dipermainkan bisa menjadi lebih hati-hati. Ia mulai sulit percaya. Perhatian yang tulus dicurigai sebagai tipu daya. Janji yang baik dianggap hanya kata-kata. Bahkan orang yang benar-benar datang dengan niat baik terkadang harus menanggung akibat dari luka yang dibuat orang lain.
Di sisi lain, orang yang terbiasa mempermainkan hati orang lain juga sebenarnya sedang kehilangan sesuatu. Ia perlahan kehilangan kepekaan. Ia mulai menganggap ketulusan sebagai kelemahan dan perhatian sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan.
Padahal, kemampuan menghargai perasaan orang lain adalah bagian dari kemanusiaan.
Kita tidak harus mencintai semua orang yang mencintai kita. Kita juga tidak wajib mempertahankan hubungan yang memang sudah tidak dapat dilanjutkan. Berubahnya perasaan adalah sesuatu yang manusiawi. Pergi dari sebuah hubungan juga bukan dosa.
Yang perlu dijaga adalah cara kita pergi.
Jika sudah tidak memiliki perasaan, katakan dengan jujur. Jika hubungan tidak dapat diteruskan, sampaikan dengan baik. Jangan mempertahankan seseorang hanya karena kita membutuhkan perhatian darinya. Jangan memberikan janji hanya karena takut kehilangan kenyamanan.
Kejujuran mungkin menyakitkan untuk sementara, tetapi kebohongan dapat meninggalkan luka yang jauh lebih panjang.
Karena itu, sebelum mempermainkan hati seseorang, cobalah bertanya kepada diri sendiri: Bagaimana jika aku berada di posisi mereka? Bagaimana jika perhatian yang selama ini kuberikan ternyata dianggap sebagai harapan? Bagaimana jika setelah aku pergi, ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali percaya kepada orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu mungkin dapat membuat kita lebih berhati-hati.
Kita boleh gagal mencintai seseorang. Kita boleh memilih pergi. Kita boleh mengakhiri hubungan. Tetapi jangan sampai keinginan untuk mendapatkan kesenangan, perhatian, atau keuntungan pribadi membuat kita kehilangan hati nurani.
Sebab pada akhirnya, yang menunjukkan kualitas diri seseorang bukan hanya bagaimana ia memperlakukan orang yang ia cintai, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan hati seseorang yang pernah mempercayainya.
Jangan bermain-main dengan hati yang tulus. Jika tidak mampu memberikan cinta, berikan kejujuran. Jika tidak mampu bertahan, berikan kepastian. Dan jika harus pergi, pergilah tanpa merendahkan harga diri orang yang pernah percaya kepada kita.
Karena sebuah hubungan mungkin berakhir, tetapi luka yang kita tinggalkan bisa tinggal jauh lebih lama.


