Ketika Topeng Bercerita: Menelusuri Akar Budaya Topeng Dalang Madura
Oleh: Syaf Anton Wr
Topeng Dalang Madura bukan sekadar pertunjukan seni. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang kebudayaan Madura yang mempertemukan tradisi Jawa, kisah pewayangan, kehidupan sosial masyarakat, serta nilai-nilai moral dan spiritual. Hingga kini, kesenian tersebut masih hidup terutama di Sumenep dan sejumlah wilayah Madura. Pertunjukannya hadir dalam hajatan, rokatan, maupun panggung terbuka, bahkan telah dipentaskan hingga ke luar negeri.
Jejak Awal dari Jawa ke Madura
Sejarah Topeng Dalang Madura memiliki jejak yang menarik. Menurut penuturan seniman Akhmad Darus, tradisi topeng yang berkembang di Madura pada mulanya berasal dari Jawa. Kesenian itu kemudian masuk ke wilayah Proppo, Pamekasan, yang pada masa lalu memiliki hubungan erat dengan lingkungan kerajaan dan kebudayaan Jawa.
Salah satu kisah yang berkembang menyebut keberadaan Keraton Jhâng Beringin di Proppo. Raja di tempat tersebut memiliki hubungan kekeluargaan dengan seorang raja di Jawa. Dari hubungan itu, sang raja Madura memperoleh sebuah tokop, yakni penutup wajah yang kemudian dikenal sebagai topeng. Benda tersebut tidak berhenti sebagai simbol hubungan persaudaraan, tetapi berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Tokop kemudian menjadi sarana berkumpul. Orang-orang yang tergabung dalam perkumpulan tersebut dikenal sebagai tuping. Dalam pertemuan mereka, topeng digunakan untuk memainkan pertunjukan berbentuk drama atau tonil. Kisah yang dimainkan terutama bersumber dari Ramayana dan Mahabharata. Dari sinilah tradisi pertunjukan topeng perlahan menemukan bentuk sosial dan artistiknya di Madura.
Dari Pamekasan Menuju Sumenep
Perkembangan berikutnya tidak berlangsung dalam satu jalur. Di antara anggota perkumpulan tuping terdapat dua orang dari Sumenep, yakni Tearjâ Nimprang dan Agung Kertè. Ketika perkumpulan tuping di Pamekasan kemudian tidak lagi berkembang seperti sebelumnya, keduanya membawa pengalaman dan tradisi tersebut kembali ke Sumenep.
Di tangan mereka, kesenian topeng mengalami perkembangan baru. Pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi mulai membentuk tradisi yang kemudian dikenal sebagai Topeng Dalang Madura. Sementara itu, di Pamekasan, tradisi yang tersisa berkembang dalam bentuk Topeng Getthak, yang lebih menonjolkan unsur gerak dan tari serta kemudian berhubungan dengan kesenian ludruk sandur.
Agung Kertè selanjutnya berpindah ke Situbondo dan membentuk kelompok baru. Di wilayah tersebut keseniannya berkembang dengan nama Kertè. Sementara di Sumenep, Tearjâ Nimprang meneruskan pengembangan kelompok topeng, antara lain di kawasan Pinggir Papas, Kalianget. Dari wilayah pesisir dan masyarakat petani garam inilah salah satu mata rantai penting perkembangan Topeng Dalang Sumenep terus berlangsung.
Topeng sebagai Bahasa Karakter
Keunikan Topeng Dalang terletak pada kemampuan topeng menerjemahkan karakter manusia. Wajah, bentuk, warna, gerak, busana, dan musik tidak sekadar menjadi unsur estetika, tetapi membantu penonton mengenali watak tokoh yang dimainkan.
Tradisi topeng Jawa Timur sendiri banyak berhubungan dengan kisah Ramayana, Mahabharata, dan cerita Panji. Dalam tradisi Madura, kisah-kisah pewayangan tersebut memperoleh warna lokal dan kemudian menyatu dengan karakter masyarakat Madura. Topeng menjadi semacam bahasa visual yang memperlihatkan perbedaan antara tokoh yang gagah, lembut, bijaksana, licik, keras, maupun lucu.
Ciri lain yang menarik adalah penggunaan gungseng pada pergelangan kaki penari. Bunyi gungseng berpadu dengan gerakan tubuh dan iringan musik sehingga menciptakan identitas tersendiri dalam pertunjukan Topeng Dalang Madura.
Hiburan Sekaligus Pendidikan
Dalam perjalanan sejarahnya, Topeng Dalang tidak hanya berfungsi sebagai tontonan. Pertunjukan ini memiliki hubungan dengan hajatan dan rokatan atau ruwatan, yang mengandung harapan keselamatan serta kebaikan bagi kehidupan masyarakat.
Lebih jauh, cerita yang disampaikan dalang membawa pesan tentang kehidupan manusia. Konflik antartokoh, pilihan antara kebaikan dan keburukan, kesetiaan, kepemimpinan, keserakahan, keberanian, dan kebijaksanaan menjadi bagian dari pesan yang dapat direnungkan penonton.
Karena itu, Topeng Dalang dapat dipandang sebagai media pendidikan moral dan spiritual yang dikemas melalui seni pertunjukan. Masyarakat tidak hanya datang untuk melihat tari, topeng, musik, dan cerita, tetapi juga menyerap nilai-nilai kehidupan yang tersirat di balik lakon.
Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Topeng Dalang pernah mengalami masa pasang surut ketika kesenian modern dan perkembangan teknologi informasi mulai memasuki kehidupan masyarakat pedesaan. Namun tradisi ini ternyata tidak mudah hilang. Kelompok-kelompok baru terus tumbuh di berbagai wilayah Sumenep dan sekitarnya.
Menariknya, para pelaku seni juga beradaptasi dengan zaman. Teknologi dimanfaatkan untuk memperkenalkan pertunjukan, sementara cerita dan gerakan dikembangkan agar tetap menarik bagi penonton masa kini. Bahkan masyarakat perkotaan mulai kembali menemukan daya tarik dalam seni tradisi tersebut.
Dengan demikian, sejarah Topeng Dalang Madura bukan sekadar cerita tentang sebuah topeng yang berpindah dari Jawa ke Madura. Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah tradisi melakukan perjalanan, beradaptasi, menemukan identitas baru, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di balik setiap topeng terdapat karakter. Di balik setiap gerak terdapat cerita. Dan di balik setiap pertunjukan tersimpan ingatan kolektif masyarakat Madura tentang nilai, kehidupan, dan kebudayaan yang mereka warisi. Selama masih ada masyarakat yang mau mengenal, memainkan, dan mewariskannya, Topeng Dalang akan tetap menjadi salah satu wajah penting kebudayaan Madura.


