Pewara: Seni Mengatur Jalannya Sebuah Acara
Dalam sebuah kegiatan, keberhasilan acara tidak hanya ditentukan oleh materi, pembicara, atau tamu yang hadir. Ada satu unsur penting yang sering dianggap sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki peran besar dalam menentukan keteraturan dan suasana acara, yaitu pewara atau Master of Ceremony (MC). Pewara merupakan orang yang bertugas membuka, mengatur, memandu, menghubungkan setiap rangkaian acara, hingga menutup kegiatan secara teratur.
Pewara bukan sekadar orang yang berdiri di depan mikrofon lalu membacakan susunan acara. Ia merupakan pengendali alur komunikasi dalam sebuah kegiatan. Karena itu, seorang pewara harus memahami jenis acara, karakter peserta, tata urutan kegiatan, penggunaan bahasa, etika, serta situasi yang mungkin terjadi selama acara berlangsung.
Pengertian Pewara
Secara sederhana, pewara adalah seseorang yang bertugas memandu jalannya suatu acara dari awal hingga akhir. Dalam praktiknya, pewara menjadi penghubung antara penyelenggara, pengisi acara, narasumber, tamu undangan, dan peserta.
Pewara harus memastikan bahwa setiap bagian acara berlangsung sesuai susunan yang telah ditentukan. Ia mengumumkan pergantian satu kegiatan ke kegiatan berikutnya, memperkenalkan pihak yang akan tampil, memberikan informasi kepada peserta, sekaligus menjaga agar suasana acara tetap hidup dan tertib.
Oleh karena itu, pewara memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi teknis dan fungsi komunikatif. Fungsi teknis berkaitan dengan pengaturan urutan acara, sedangkan fungsi komunikatif berkaitan dengan bagaimana pesan disampaikan kepada hadirin secara jelas, santun, menarik, dan sesuai situasi.
Tujuan Pewara
Kehadiran pewara pada dasarnya bertujuan menciptakan acara yang terarah, tertib, dan mudah diikuti. Setidaknya terdapat beberapa tujuan utama.
Pertama, mengatur jalannya acara agar setiap rangkaian kegiatan berlangsung sesuai susunan dan waktu yang telah direncanakan.
Kedua, memberikan informasi kepada peserta mengenai kegiatan yang sedang berlangsung maupun kegiatan yang akan dilakukan berikutnya.
Ketiga, menciptakan suasana acara. Pewara dapat membuat suasana menjadi resmi, khidmat, santai, hangat, atau meriah sesuai karakter kegiatan.
Keempat, menjadi penghubung antarpihak. Pewara menghubungkan pembicara dengan peserta, penyelenggara dengan tamu, atau satu segmen acara dengan segmen lainnya.
Kelima, mengantisipasi perubahan situasi. Acara tidak selalu berjalan sesuai rencana. Pembicara dapat terlambat, susunan acara dapat berubah, atau terjadi gangguan teknis. Dalam kondisi tersebut, pewara dituntut mampu menjaga agar peserta tetap merasa bahwa acara berjalan dengan baik.
Bentuk-Bentuk Pewara
Pewara dapat dibedakan berdasarkan jenis dan karakter acara yang dipandunya.
Pertama, pewara acara resmi. Jenis ini digunakan dalam kegiatan pemerintahan, lembaga pendidikan, organisasi, seminar, rapat, upacara, pelantikan, dan kegiatan formal lainnya. Bahasa yang digunakan harus baku, santun, jelas, dan tidak berlebihan. Pewara harus memahami protokol serta tata penghormatan terhadap pejabat atau tamu yang hadir.
Kedua, pewara acara keagamaan. Pewara dalam kegiatan keagamaan harus memperhatikan norma, nilai, dan tata kesopanan sesuai jenis kegiatan. Acara pengajian, peringatan hari besar keagamaan, ceramah, khataman, atau kegiatan keagamaan lainnya membutuhkan gaya penyampaian yang santun dan terkendali.
Ketiga, pewara acara akademik dan ilmiah. Seminar, diskusi, konferensi, lokakarya, dan kegiatan ilmiah membutuhkan pewara yang mampu menjaga ketepatan waktu serta memperkenalkan narasumber secara proporsional. Pewara tidak boleh mengambil alih porsi pembicara.
Keempat, pewara acara keluarga dan sosial. Pernikahan, ulang tahun, syukuran, pertemuan keluarga, dan kegiatan sosial biasanya membutuhkan gaya yang lebih akrab. Meskipun lebih santai, pewara tetap harus mampu menjaga kesopanan dan keteraturan.
Kelima, pewara acara hiburan. Pada konser, pertunjukan seni, festival, atau acara perayaan, pewara biasanya dituntut lebih ekspresif dan komunikatif. Namun, kreativitas tetap harus disesuaikan dengan karakter acara dan tidak mengganggu jalannya pertunjukan.
Cara Kerja Pewara
Seorang pewara yang baik tidak bekerja secara spontan tanpa persiapan. Sebelum acara dimulai, ia harus mempelajari rundown atau susunan acara secara menyeluruh. Ia perlu mengetahui siapa saja yang terlibat, kapan setiap kegiatan dimulai, siapa yang akan tampil, berapa lama waktunya, dan bagaimana hubungan antara satu kegiatan dengan kegiatan berikutnya.
Pada saat acara dimulai, pewara membuka kegiatan dengan salam, sapaan, dan pengantar yang sesuai. Setelah itu, pewara mengarahkan peserta memasuki rangkaian acara pertama.
Ketika satu kegiatan selesai, pewara memberikan transisi menuju kegiatan berikutnya. Transisi ini penting agar acara tidak terasa terputus. Misalnya, setelah sambutan selesai, pewara dapat mengantarkan peserta menuju sesi berikutnya dengan kalimat yang singkat dan jelas.
Pewara juga harus mampu mengendalikan waktu. Jika seorang pengisi acara melebihi waktu yang tersedia, pewara perlu mengambil langkah yang sopan tanpa mempermalukan orang tersebut. Demikian pula ketika terjadi perubahan susunan acara, pewara harus mampu menyampaikannya secara tenang.
Pada bagian akhir, pewara menyampaikan rangkaian penutup, ucapan terima kasih, permohonan maaf apabila terdapat kekurangan, serta salam penutup. Dengan demikian, acara berakhir secara jelas dan terhormat.
Kemampuan yang Harus Dimiliki Pewara
Menjadi pewara membutuhkan lebih dari sekadar keberanian berbicara di depan umum. Pewara harus memiliki kemampuan berbicara, artikulasi yang jelas, penguasaan bahasa, intonasi, ekspresi, pengendalian suara, serta kemampuan membaca situasi.
Selain itu, pewara harus memiliki wawasan mengenai protokol, etika komunikasi, dan karakter berbagai jenis kegiatan. Kemampuan improvisasi juga sangat penting karena kondisi di lapangan sering kali berbeda dengan rencana tertulis.
Pewara yang baik juga harus mampu menempatkan dirinya. Ia bukan bintang utama dalam setiap acara. Tugasnya adalah membuat seluruh rangkaian acara berjalan baik dan memberikan ruang yang cukup kepada setiap pihak yang memiliki peran.
*****
Pewara merupakan bagian penting dalam sebuah kegiatan komunikasi. Ia bukan sekadar pembaca susunan acara, melainkan pengatur ritme, penghubung antarpihak, sekaligus penjaga suasana kegiatan. Karena setiap acara memiliki karakter berbeda, cara menjadi pewara pun tidak dapat disamaratakan.
Acara resmi membutuhkan bahasa dan sikap yang formal, acara keagamaan membutuhkan kesantunan dan penghormatan, kegiatan ilmiah membutuhkan ketepatan dan ketertiban, sedangkan acara hiburan membutuhkan kreativitas dan energi. Dengan memahami karakter tersebut, seorang pewara dapat menjalankan tugasnya secara tepat.
Pada akhirnya, keberhasilan pewara bukan diukur dari seberapa banyak ia berbicara, tetapi dari seberapa baik ia membuat sebuah acara berjalan teratur, komunikatif, nyaman, dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pewara yang baik adalah mereka yang mampu membuat acara terasa mengalir tanpa kehilangan arah. (***)


