Jejak Kata di Dunia yang Berubah: Mengapa Konsistensi Masih Penting Bagi Kita Biasa
Di teras rumah, di warung kopi pinggir jalan, di tempat kerja, dan di mana pun warga biasa berkumpul, satu nama tak lepas dari pembicaraan beberapa hari terakhir: Rocky Gerung. Akademisi yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai suara paling lantang mengkritik kekuasaan kini resmi duduk sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Kabar ini tak sekadar berita pelantikan—ia seperti batu yang dilemparkan ke kolam tenang: memunculkan riak kebingungan, kekecewaan, hingga pertanyaan yang paling mendasar bagi kita rakyat biasa: apa makna konsistensi, etika, dan pendidikan yang selama ini kita ajarkan dan percayai? Tulisan ini bukan tentang memihak satu kubu atau menjatuhkan seseorang. Ini adalah suara dari pemikiran sederhana orang yang berusaha memahami dunia, yang merasa seolah-olah kebenaran yang diyakini selama ini bergeser.
Selama ini, jejak digital menyimpan semua itu. Siapa yang tak kenal dengan pernyataan-pernyataan tajam Rocky Gerung yang tersebar luas di media sosial? Kata-kata yang keras, kadang kasar, ditujukan kepada pemimpin negara—baik masa lalu maupun sekarang. Banyak dari kita yang mendengarkan, ada yang mengagumi keberaniannya, ada yang tidak setuju dengan cara bicaranya, tetapi semua orang memahami satu hal: ia berdiri di barisan yang berbeda dari kekuasaan. Ia tampak sebagai orang yang tidak mau berkompromi, yang menjaga prinsip sekuat tenaga.
Kemudian kabar datang: ia dilantik. Langsung muncul pertanyaan di benak banyak orang: Apakah selama ini semua itu hanya sandiwara? Apakah kata-kata yang menyakiti itu hanyalah cara untuk menarik perhatian, agar akhirnya dipanggil masuk ke dalam lingkaran kekuasaan? Perasaan dibohongi itu muncul bukan karena ia masuk ke jajaran penasihat—bukan itu intinya. Rasa kecewa itu lahir karena kita diajarkan sejak kecil bahwa perkataan harus sejalan dengan perbuatan. Kita diajarkan di sekolah, di rumah, di tempat ibadah: jaga ucapanmu, hargai orang lain, dan jika kamu memegang prinsip, pertahankanlah dengan jujur.
Di sinilah letak persoalan yang paling menyentuh hati rakyat sederhana. Kita bukan ahli politik, bukan ahli filsafat. Kita tidak mengerti permainan strategi kekuasaan yang rumit. Tetapi kita mengerti satu hal: etika itu sederhana. Etika adalah ketika kamu berkata sesuatu, lalu hidup sesuai dengan perkataan itu. Etika adalah ketika kamu menilai orang lain dengan standar yang sama yang kamu pakai untuk dirimu sendiri.
Selama bertahun-tahun, kita melihat seseorang menggunakan kata-kata yang tidak biasa kita ucapkan sehari-hari—kata yang menurut pemahaman kita kasar, tidak sopan, dan melampaui batas kesusilaan—terhadap pemimpin negara. Kita berdebat di rumah: apakah itu cara yang benar untuk menyampaikan ketidaksetujuan? Ada yang bilang kebebasan berpendapat itu tanpa batas, ada pula yang berkata meski benar, cara menyampaikannya tetap harus terhormat. Namun begitu, banyak dari kita yang menghormati posisinya sebagai orang yang konsisten memegang kebenaran yang ia yakini.
Lalu, ketika pintu kekuasaan terbuka, ia masuk. Dan tiba-tiba, semua yang dulu dikatakan seolah terlupakan. Pertanyaannya bukan: bolehkah seseorang berubah pikiran? Tentu saja boleh. Manusia bukan batu, pandangan kita bisa berkembang. Tetapi perubahan itu harus dijelaskan, harus jujur, dan harus menghormati mereka yang selama ini mempercayainya. Jika dulu pemimpin disebut dengan sebutan yang sangat menyakitkan, lalu hari ini orang yang sama bersedia duduk di sampingnya sebagai penasihat, di mana letak kebenarannya? Apakah dulu kata-katanya berlebihan dan tidak pantas, atau sekarang prinsipnya telah bergeser?
Inilah yang membuat pendidikan dan pengajaran etika menjadi begitu penting. Ketika kita mengajarkan anak-anak untuk jujur, kita tidak mengajarkan mereka jujur hanya saat menguntungkan mereka. Ketika kita mengajarkan mereka bersikap sopan, kita tidak mengajarkan mereka bersopan santun hanya kepada orang yang tidak berkuasa. Nilai itu tidak boleh berubah-ubah tergantung situasi. Jika kita membiarkan standar etika menjadi lunak bagi mereka yang pintar atau berpengaruh, maka apa yang kita ajarkan kepada generasi muda? Bahwa aturan itu ada hanya untuk orang kecil? Bahwa kata-kata itu sekadar bunyi yang bisa ditarik kembali begitu ada keuntungan?
Kita tidak mengatakan bahwa menjadi penasihat presiden itu salah. Sebaliknya, negara memang membutuhkan pemikiran yang beragam, termasuk mereka yang kritis. Masalahnya bukan pada jabatan itu. Masalahnya adalah kesenjangan yang mencolok antara apa yang dikatakan selama bertahun-tahun dengan apa yang dilakukan sekarang, tanpa penjelasan yang memadai. Rakyat merasa dibohongi bukan karena seseorang berubah arah, melainkan karena merasa seolah-olah emosi, harapan, dan kepercayaan yang diberikan dimanfaatkan sebagai tangga untuk naik ke posisi yang dulu dikritiknya.
Jejak digital itu tidak hilang. Ia tetap ada di sana, tersimpan rapi, menjadi saksi bisu. Ketika kita melihatnya, kita tidak bisa tidak membandingkan: di satu sisi kata-kata yang membakar, di sisi lain langkah yang mendekat. Bagi orang yang sederhana, perbandingan itu menyakitkan. Bukan karena kita membenci kesempatan, melainkan karena kita rindu pada ketegasan prinsip. Kita rindu pada tokoh yang tidak berubah warna hanya karena angin berhembus ke arah yang menguntungkan.
Ada yang berkata: mungkin ini strategi, mungkin ia ingin mengubah sistem dari dalam. Itu argumen yang sering kita dengar. Namun bagi banyak orang, argumen itu terdengar seperti pembenaran belaka. Jika kamu masuk ke dalam sistem yang dulu kamu kutuk, lalu apa yang berubah? Apakah sistemnya, atau kamu sendiri? Dan jika dulu kamu menggunakan bahasa yang sangat keras dan tidak mengenal kompromi, bagaimana kamu bisa bekerja sama dengan orang yang dulu kamu sebut dengan sebutan hina? Di mana letak integritas yang kita pelajari?
Pelajaran terbesar dari peristiwa ini sebenarnya bukan tentang satu orang saja. Ini tentang kita semua. Ini tentang bagaimana kita menilai tokoh publik, bagaimana kita membedakan antara keberanian dan pencitraan, dan bagaimana kita menjaga nilai-nilai yang kita ajarkan kepada anak cucu. Etika bukan hiasan kata-kata yang indah di panggung pidato. Ia teruji justru saat pilihan itu berat—saat tidak populer, saat tidak menguntungkan, dan saat harus memilih antara keuntungan pribadi dan prinsip yang dijunjung tinggi.
Pendidikan yang benar mengajarkan kita untuk berpikir kritis, ya. Tetapi ia juga mengajarkan kita untuk berpikir sopan, berpikir bertanggung jawab, dan memegang janji. Kebebasan berpendapat itu hak yang luhur, tetapi ia tidak lepas dari tanggung jawab. Setiap kata yang diucapkan meninggalkan jejak, dan setiap kata itu harus bisa dipertanggungjawabkan—tidak hanya saat suasana mendukung, tetapi juga saat keadaan berubah sepenuhnya.
Bagi rakyat biasa, peristiwa ini menjadi pengingat yang pahit: jangan terlalu mudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada satu orang, sekalipun ia terdengar paling benar. Tetapi lebih dari itu, ini adalah panggilan untuk kembali memperteguh nilai-nilai sederhana yang kita miliki: ucapan yang terjaga, prinsip yang teguh, dan kesetiaan pada kebenaran yang tidak berubah-ubah meski apa pun terjadi.
Kita tidak membenci siapa pun. Kita hanya rindu pada konsistensi. Kita hanya berharap, siapa pun yang dipilih untuk memimpin atau menasihati negeri ini, datang membawa kejujuran yang utuh, bukan kata-kata yang disesuaikan dengan siapa yang sedang berkuasa. Itulah permintaan sederhana dari hati rakyat yang ingin tetap percaya bahwa etika dan pendidikan yang kita pelajari setiap hari itu nyata, bukan sekadar dongeng.
Akhirnya, kisah ini bukan berakhir di sini. Ia justru baru dimulai. Waktu akan menjawab segalanya. Akan terlihat apakah langkah yang diambil ini membawa perubahan yang lebih baik, atau sekadar membuktikan bahwa semua kata yang dulu bergema hanyalah angin lalu. Sementara itu, biarlah kita menjaga diri: menjaga ucapan, menjaga prinsip, dan menjaga agar nilai-nilai yang kita tanam di hati anak-anak tidak pernah menjadi lunak karena keuntungan sesaat. Karena pada akhirnya, bukan jabatan atau kata-kata yang diingat orang, melainkan keteguhan hati untuk tetap jujur pada diri sendiri dan pada kebenaran yang diyakini. (Syaiful Anwar)


