Antara Pujian yang Meninabobokan dan Kritik yang Membebaskan

 



Bahaya pujian yang berlebihan dan kekuatan kritik yang jujur dalam membentuk kedewasaan, ketangguhan, dan pertumbuhan manusia.

Manusia sering kali merasa nyaman ketika dipuji, karena pujian memberi rasa aman dan menguatkan ego. Dalam pujian, seseorang merasa diakui, diterima, dan ditempatkan pada posisi yang menyenangkan. Kata-kata manis seperti “hebat”, “luar biasa”, atau “kamu sudah benar” bekerja seperti obat penenang yang menenangkan batin. Ia membuat seseorang merasa tidak perlu lagi mempertanyakan diri, tidak perlu lagi menggali kekurangan, dan tidak perlu menghadapi kenyataan yang mungkin pahit. Pujian memberi ilusi bahwa segalanya telah berjalan baik-baik saja.

Namun, di balik kenyamanan itu, sering tersembunyi bahaya yang tidak disadari. Pujian, jika datang secara berlebihan dan tanpa kejujuran, dapat menjadi racun yang halus. Ia meninabobokan kesadaran, membuat seseorang berhenti bertumbuh, merasa sudah cukup, dan menutup mata dari kekurangan yang sebenarnya perlu diperbaiki. Dalam jangka panjang, pujian yang kosong justru melahirkan pribadi rapuh—pribadi yang hanya kuat selama disanjung, namun runtuh ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak seindah kata-kata.

Dalam kehidupan sosial, pujian sering kali menjadi alat untuk menjaga hubungan tetap aman. Banyak orang memilih memuji bukan karena kagum, tetapi karena enggan berkonflik. Pujian menjadi topeng kesopanan, bahkan alat manipulasi. Dengan memuji, seseorang bisa mendapatkan simpati, kedekatan, atau keuntungan tertentu. Sayangnya, pujian semacam ini tidak membangun, karena ia tidak lahir dari kejujuran, melainkan dari kepentingan. Orang yang terlalu sering menerima pujian seperti ini akan tumbuh dalam ruang gema—ruang di mana ia hanya mendengar apa yang ingin ia dengar.

Di sinilah letak persoalannya. Ketika seseorang terbiasa hidup dalam pujian, ia perlahan kehilangan daya tahan mental. Sedikit kritik terasa sebagai serangan, perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman, dan teguran dipersepsikan sebagai permusuhan. Ego yang lama dipupuk oleh sanjungan menjadi terlalu sensitif. Padahal, hidup tidak pernah steril dari kesalahan, dan manusia tidak pernah sepenuhnya sempurna. Mereka yang menolak kenyataan ini cenderung stagnan, bahkan mundur tanpa sadar.

Sebaliknya, kritik kerap terasa menyakitkan karena ia memaksa kita bercermin dengan jujur. Kritik membuka sisi diri yang sering ingin kita sembunyikan: kelemahan, kekeliruan, ketidaktahuan, bahkan kebodohan. Tidak semua kritik datang dengan bahasa yang lembut atau cara yang menyenangkan. Ada kritik yang tajam, keras, dan terasa menampar harga diri. Reaksi pertama manusia terhadap kritik hampir selalu defensif—marah, tersinggung, atau menolak mentah-mentah.

Namun, justru di sanalah peluang untuk berubah berada. Kritik, jika disikapi dengan kesadaran dan kerendahan hati, dapat menjadi pintu masuk menuju pertumbuhan. Ia berfungsi seperti cermin retak yang memperlihatkan wajah kita apa adanya, bukan seperti yang ingin kita lihat. Kritik membongkar kesalahan, mengusik kenyamanan, dan memaksa kita berpikir ulang tentang sikap, cara pandang, dan tindakan yang selama ini dianggap benar.

Tidak semua kritik memang layak diterima. Ada kritik yang lahir dari niat buruk, iri hati, atau keinginan merendahkan. Namun, kedewasaan seseorang justru diukur dari kemampuannya memilah kritik, bukan menolaknya secara total. Bahkan kritik yang disampaikan dengan cara tidak menyenangkan tetap bisa mengandung kebenaran. Orang yang bijak tidak sibuk mempermasalahkan nada, tetapi menyaring substansi. Ia bertanya pada dirinya sendiri: adakah bagian dari kritik ini yang benar dan perlu diperbaiki?

Dalam sejarah peradaban, kemajuan selalu lahir dari keberanian menerima kritik. Ilmu pengetahuan berkembang karena teori lama dikritik dan diuji. Seni tumbuh karena seniman mau mendengar masukan, bukan hanya tepuk tangan. Pendidikan bermakna karena guru berani mengoreksi murid, dan murid bersedia dikoreksi. Tanpa kritik, dunia akan berhenti pada kesombongan, bukan bergerak menuju kebijaksanaan.

Pilihan antara pujian dan kritik sejatinya adalah pilihan antara kenyamanan dan kemajuan. Kenyamanan memang menyenangkan, tetapi ia jarang melahirkan perubahan. Kemajuan menuntut ketidaknyamanan: rasa malu karena salah, perih karena ditegur, dan kerendahan hati untuk mengakui kekurangan. Mereka yang hanya mengejar sanjungan akan terjebak dalam kepalsuan, membangun citra tanpa fondasi, dan hidup dalam bayang-bayang penilaian orang lain.

Dalam dunia modern, terutama di ruang digital dan media sosial, pujian menjadi mata uang sosial. Jumlah “suka”, komentar positif, dan pengikut sering dijadikan ukuran nilai diri. Kritik, sekecil apa pun, langsung dianggap sebagai serangan personal. Budaya ini melahirkan generasi yang haus validasi, tetapi miskin refleksi. Banyak orang sibuk membangun tampilan yang disukai, namun lupa membangun kedalaman yang dibutuhkan untuk bertahan menghadapi realitas.

Padahal, kehidupan nyata tidak selalu memberikan tepuk tangan. Dunia kerja, relasi sosial, dan proses belajar dipenuhi koreksi, evaluasi, dan penilaian. Mereka yang sejak awal menutup diri dari kritik akan kesulitan beradaptasi. Sebaliknya, mereka yang terbiasa dikritik dan belajar darinya akan lebih tangguh, fleksibel, dan matang secara emosional. Kritik melatih ketahanan mental, sementara pujian berlebihan justru melemahkannya.

Menerima kritik bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan atau kehilangan kepercayaan diri. Justru sebaliknya, hanya orang yang cukup percaya diri yang mampu menerima kritik tanpa merasa hancur. Ia tahu bahwa dirinya lebih besar daripada kesalahan yang ia buat. Ia memahami bahwa dikritik bukan berarti tidak berharga, melainkan masih memiliki ruang untuk berkembang. Inilah bentuk kepercayaan diri yang sehat—bukan yang dibangun dari pujian, tetapi dari kesadaran akan proses.

Dalam kehidupan pribadi, kritik sering datang dari orang-orang terdekat: keluarga, sahabat, atau rekan kerja. Ironisnya, kritik dari merekalah yang paling sering ditolak, karena terasa lebih personal. Kita lupa bahwa mereka yang peduli justru berani berkata tidak enak. Orang yang benar-benar sayang tidak selalu memuji, tetapi berani menegur ketika melihat kita berjalan ke arah yang salah. Sebaliknya, mereka yang hanya memuji mungkin tidak cukup peduli untuk bersikap jujur.

Akhirnya, hidup mengajarkan bahwa bukan siapa yang paling sering dipuji yang bertahan, melainkan siapa yang paling mampu belajar dari kritik. Pujian mungkin membuat kita merasa baik hari ini, tetapi kritik yang jujur dapat menyelamatkan masa depan. Pujian memberi rasa nyaman sesaat, sementara kritik memberi arah jangka panjang. Di antara keduanya, manusia ditantang untuk memilih: tetap nyaman dalam ilusi, atau bertumbuh dalam kejujuran.

Kedewasaan sejati lahir ketika seseorang tidak lagi mabuk pujian dan tidak lagi alergi kritik. Ia mampu menerima sanjungan tanpa sombong, dan menerima teguran tanpa dendam. Ia menjadikan pujian sebagai penyemangat, bukan tujuan; dan menjadikan kritik sebagai guru, bukan musuh. Dalam sikap inilah manusia menemukan keseimbangan—antara menghargai diri dan terus memperbaiki diri.

Pada akhirnya, kritik bukanlah lawan dari kebaikan, melainkan jalan menuju kebenaran. Dan pujian, jika tidak diiringi kejujuran, hanyalah kebisingan yang meninabobokan. Hidup yang bertumbuh adalah hidup yang berani bercermin, meski pantulan yang terlihat tidak selalu indah.

(Rulis)

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 6582319416807219502

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close