Ekonomi yang Membunuh Pelan-Pelan
Kita diajari sejak sekolah untuk melihat ekonomi sebagai ilmu yang steril: grafik naik-turun, inflasi sekian persen, pertumbuhan sekian koma. Di layar televisi, ekonomi hadir dalam wajah para pakar berbaju rapi, berbicara tenang seolah angka-angka itu tak pernah berdenyut, tak pernah berdarah. Padahal, bagi rakyat jelata, ekonomi bukan teori. Ia adalah penentu takdir. Ia adalah hakim tanpa palu, yang setiap hari memutuskan siapa yang boleh berharap hidup lebih lama, dan siapa yang harus belajar berdamai dengan kata “cukup” bahkan sebelum hidup benar-benar dimulai.
Ekonomi bukan sekadar statistik. Ia adalah rantai tak kasatmata yang menentukan panjang pendeknya napas seseorang. Ia tidak menyerang jantung secara tiba-tiba, tetapi bekerja perlahan, sistematis, dan nyaris tak terlihat—seperti racun yang diminum sedikit demi sedikit, hingga suatu hari tubuh menyerah tanpa sempat berteriak.
Cara pertama ekonomi membunuh adalah dengan mencuri waktu. Banyak dari kita tak lagi benar-benar hidup; kita hanya bertahan hidup. Hari-hari dimulai saat langit masih gelap dan berakhir ketika malam sudah pekat. Empat belas jam kerja bukan untuk mengejar mimpi, melainkan agar dapur tetap mengepul dan cicilan tak berubah menjadi ancaman. Masa muda, yang seharusnya menjadi ruang belajar dan mencoba, ditukar dengan rutinitas yang menua sebelum waktunya. Kita menjadi generasi yang lelah bahkan sebelum sempat bercita-cita.
Cara kedua, ekonomi membunuh hubungan. Meja makan yang seharusnya menjadi ruang berbagi cerita berubah menjadi medan perang sunyi. Uang yang tak pernah cukup mengikis kesabaran, merusak bahasa cinta, dan mematahkan empati. Angka perceraian melonjak bukan karena cinta habis, tetapi karena tekanan finansial yang mencekik kewarasan. Ketika perut lapar dan tagihan menunggu, romansa berubah menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Dalam kondisi seperti itu, bertahan bersama justru terasa lebih berat daripada berpisah.
Cara ketiga, ekonomi membunuh masa depan. Ia menjadi pencuri mimpi yang paling kejam. Wujudnya nyata: balita yang tumbuh kerdil karena susu terlalu mahal, anak-anak cerdas yang harus berhenti sekolah karena biaya UKT yang mencekik, dan remaja yang kehilangan harapan bahkan sebelum sempat mencoba. Masa depan bukan lagi soal potensi, melainkan soal kemampuan bertahan hari ini. Di titik ini, mimpi bukan mati karena gagal, tetapi karena tak pernah diberi kesempatan hidup.
Di atas semua itu, ada kesenjangan yang kian menyakitkan: yang kenyang gemar menasihati yang lapar. Dari puncak piramida, terdengar seruan untuk “bekerja lebih keras” dan “lebih berhemat”. Nasihat itu terdengar bijak, hingga kita bertanya: bagaimana mungkin seseorang berhemat jika seluruh pendapatannya habis hanya untuk ongkos menuju tempat kerja? Kesenjangan ini bukan lagi sekadar perbedaan gaya hidup, melainkan ketidakadilan sistemik. Si kaya membeli umur dengan teknologi medis tercanggih, sementara si miskin menukar umur mereka dengan polusi, stres, dan jam kerja panjang demi upah minimum.
Sering dikatakan bahwa sistem ini rusak dan perlu diperbaiki. Namun mungkin masalahnya lebih jujur dari itu: sistem ini tidak rusak sama sekali. Ia bekerja persis seperti yang dirancang—menggemukkan yang sudah makmur dan memeras mereka yang hampir hancur. Pertumbuhan ekonomi dipuja, angka-angka dirayakan, sementara nyawa manusia menjadi catatan kaki yang jarang dibaca.
Sudah saatnya kita berhenti melihat manusia sebagai unit produksi atau angka dalam statistik pertumbuhan nasional. Apa artinya ekonomi tumbuh lima persen jika angka bunuh diri akibat jeratan pinjaman online meningkat? Apa gunanya grafik hijau jika dapur jutaan keluarga tetap dingin? Pertumbuhan semacam itu bukan keberhasilan, melainkan kebohongan yang dibungkus rapi.
Kita membutuhkan sistem yang memanusiakan manusia, bukan sistem yang menuhankan akumulasi modal di atas nyawa. Sistem yang mengakui bahwa hidup layak bukan hadiah bagi yang paling kuat, melainkan hak setiap orang. Jika hari ini kita masih bisa membaca tulisan ini dengan tenang, perlu diingat: di luar sana, jutaan orang sedang “dibunuh” secara perlahan oleh sesuatu yang kita sebut normal.
Sebab pada akhirnya, kemiskinan bukan sekadar nasib buruk. Ia adalah kejahatan yang dibiarkan—oleh sistem yang tahu, namun memilih untuk tetap mati rasa.
(Rahmatullah)
Pilihan





