Ketika Liburan Menjadi Ruang Belajar: Catatan Perjalanan Kalèntèng
Sumenep, Rulis: Sebuah perjalanan wisata edukatif yang melibatkan sanggar-sanggar kesenian di Kecamatan Lenteng bukan sekadar agenda rekreasi. Ia menjelma ruang belajar terbuka, tempat anak-anak menyerap sejarah, budaya, seni, dan kehidupan sosial sebagai bahan baku kreativitas dan literasi.
Perjalanan selalu menyimpan kemungkinan: kemungkinan menemukan hal baru, memperluas cara pandang, dan menata ulang pemahaman tentang seni serta kehidupan. Itulah semangat yang dibawa sejumlah sanggar kesenian di Kecamatan Lenteng ketika mereka menggelar wisata edukatif pada Minggu, 28 Desember 2025. Bukan sekadar berpindah tempat, perjalanan ini dirancang sebagai ruang belajar yang hidup—tempat pengalaman bertemu dengan imajinasi.
Sanggar-sanggar yang terlibat berasal dari lintas jenjang pendidikan dan komunitas: Komunitas Sauh Langit, Teater Parokon MTs Miftahul Ulum, Sanggar SDN Banaresep, Sanggar Mayang Siwalan SMPN 1 Lenteng, Sanggar Damar Mesem Bustanul Ulum, serta Sanggar Lasemi MA Miftahul Ulum. Mereka bergerak bersama, membawa anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah, namun menyimpan semangat besar untuk mengenal dunia kesenian secara lebih luas.
Destinasi pertama adalah Wisata Keris Desa Aeng Tongtong, sebuah wilayah yang telah lama dikenal sebagai sentra empu keris. Di tempat ini, anak-anak tidak hanya menyaksikan keris sebagai benda, melainkan sebagai narasi panjang tentang peradaban leluhur. Bilah-bilah logam itu menyimpan kisah ketekunan, laku spiritual, hingga simbol-simbol kekuasaan dan identitas budaya. Observasi ini menjadi pengantar penting: bahwa seni bukan hanya hasil akhir, melainkan proses panjang yang sarat makna.
![]() |
| Mendapat pencerahkan tentang dunia keris |
Dari Aeng Tongtong, rombongan melanjutkan perjalanan ke Pasar Kebun di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi. Pasar ini menyuguhkan kuliner tradisional khas Sumenep yang sederhana namun penuh cita rasa. Di antara aroma makanan dan riuh interaksi penjual-pembeli, anak-anak belajar membaca denyut ekonomi rakyat. Pasar menjadi panggung sosial tempat tradisi bertahan, bahasa hidup, dan kebiasaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tak jauh dari Pasar Kebun, perjalanan berlanjut ke Galeri Seni Lukis Tamar Sareseh. Di ruang sunyi yang dipenuhi warna dan goresan, peserta berhadapan dengan karya-karya perupa Tamar Saraseh. Lukisan-lukisan itu membuka percakapan tentang ekspresi personal, tafsir realitas, dan keberanian seniman menyuarakan kegelisahan zamannya. Di sini, anak-anak menyadari bahwa seni rupa bukan sekadar keindahan visual, melainkan bahasa yang mampu menyampaikan kritik, kenangan, dan harapan.
Perjalanan ditutup di sebuah kafe dan homestay syariah yang menjadi ruang eksplorasi tubuh. Melalui latihan-latihan sederhana, peserta diajak menyadari tubuh sebagai medium ekspresi. Gerak, diam, dan kesadaran ruang menjadi bagian dari proses berkesenian yang utuh—menghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman yang telah mereka kumpulkan sepanjang perjalanan.
![]() |
| Mengikuti apresiasi tentang seni rupa (kiri), saat perfom (kanan) |
Menurut Sugat Ibnu Ali, Ketua Kompolan Kesenian Lenteng (Kalèntèng) sekaligus koordinator kegiatan, empat tempat yang disinggahi membuka banyak pintu pemahaman.
“Dari sejarah dan peradaban leluhur, denyut ekonomi rakyat, hingga jejak politik dan kebudayaan—semuanya bisa mereka ramu menjadi karya tulis,” ungkapnya.
Seluruh peserta kegiatan ini adalah anak-anak sekolah. Namun, semangat mereka jauh melampaui batas usia. Sugat menegaskan bahwa wisata ini tidak dirancang sebagai liburan kosong.
“Kami tidak ingin menghadirkan liburan semu yang hanya diisi berenang, swafoto, dan makan-makan. Nilai edukasi justru lebih mudah disemai ketika anak-anak berada dalam suasana gembira dan bahagia,” ujarnya. Sebagai seniman sekaligus pengrajin dan pengusaha Kombung Batik, Sugat melihat perjalanan sebagai metode belajar yang paling manusiawi.
Ketika pulang, peserta tidak hanya membawa keseruan dalam ingatan. Tempat-tempat yang dikunjungi melahirkan catatan, puisi, cerpen, pentigraf, dan berbagai bentuk literasi lainnya. Karya-karya tersebut tidak akan berhenti di halaman buku. Panitia telah menyiapkan apresiasi bagi tulisan terbaik yang akan diberikan pada acara Sauh Langit akhir Januari mendatang.
Lebih dari sekadar perjalanan, wisata edukatif ini adalah ikhtiar merawat mimpi. Mimpi agar anak-anak tumbuh sebagai insan yang peka, kritis, dan kreatif—menjadikan pengalaman sebagai bahan bakar utama dalam proses berkesenian dan berliterasi.
(Rulis)
Pilihan






