Ketika Kesalahan Anak Selalu Dibela: Fenomena Normalisasi Konflik dalam Keluarga dan Sosial


Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap mendengar ungkapan dari seorang ibu ketika anaknya terlibat masalah: “Salah atau benar, tetap anak saya.” Kalimat ini sering diucapkan dengan nada pembelaan penuh emosi, seolah kesalahan apa pun tidak lagi relevan ketika menyangkut darah daging sendiri. Fenomena ini begitu umum hingga sering dianggap wajar, bahkan lumrah dalam dinamika keluarga.

Yang menarik, kata “anak” di sini tidak selalu merujuk pada anak kecil yang masih membutuhkan bimbingan penuh. Anak yang dimaksud bisa saja sudah remaja, bahkan telah dewasa, berkeluarga, dan memiliki tanggung jawab sendiri. Namun, dalam posisi konflik, status kedewasaan itu seolah hilang. Ia kembali ditempatkan sebagai “anak” yang tidak boleh disalahkan, apalagi jika berhadapan dengan pihak luar—bahkan dengan ayahnya sendiri.

Dalam banyak kasus, sikap ini muncul terutama ketika anak berselisih dengan orang lain: tetangga, kerabat, atau lingkungan sosial. Pembelaan sering kali dilakukan tanpa upaya mencari kebenaran yang utuh. Kesalahan diperkecil, fakta diabaikan, dan emosi menjadi panglima. Tidak jarang, konflik yang seharusnya bisa diselesaikan secara dewasa justru membesar karena sikap defensif yang berlebihan.

Lebih jauh, persoalan-persoalan semacam ini kerap dinormalisasi melalui berbagai ungkapan yang terdengar ringan. Konflik disebut sebagai “dinamika rumah tangga”, pertengkaran dianggap “uniknya hidup bertetangga”, atau bahkan dibungkus dengan kalimat bercanda seperti “kalau hidup tidak ada pertengkaran, tidak seru.” Ungkapan-ungkapan ini secara tidak sadar mengaburkan batas antara masalah ringan dan persoalan serius.

Padahal, tidak semua konflik layak dianggap biasa. Ada masalah yang mengandung nilai, etika, dan dampak sosial yang besar. Ketika kesalahan terus ditoleransi atas nama kasih sayang, anak—baik kecil maupun dewasa—tidak belajar bertanggung jawab. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa apa pun yang dilakukan akan selalu dibenarkan, selama ada orang tua yang membela.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, pola pembelaan orang tua terhadap anak sudah menjadi bagian dari budaya sosial kita. Namun karena sering terjadi dan jarang dikritisi, ia menjadi kebiasaan kolektif. Masalah baru dianggap serius ketika sudah menyentuh ranah hukum, memicu kekerasan, atau menimbulkan kerugian besar. Barulah kemudian cerita itu menyebar dari lisan ke lisan, sering kali disertai penyesalan yang terlambat.

Pertanyaannya, mengapa hal yang serius bisa menjadi “biasa-biasa saja”? Salah satu jawabannya adalah karena adanya normalisasi. Ketika suatu perilaku terus diulang dan dibiarkan, masyarakat perlahan kehilangan kepekaan. Kasih sayang orang tua berubah menjadi tameng pembenaran, bukan lagi alat pendidikan. Padahal, cinta sejati tidak selalu berarti membela, tetapi berani mengakui kesalahan dan mengarahkan pada perbaikan.

Membela anak bukanlah hal yang salah. Namun pembelaan yang sehat seharusnya disertai kejujuran, keadilan, dan keberanian untuk mengatakan bahwa anak juga bisa keliru. Dengan begitu, anak belajar bertanggung jawab, orang tua menjalankan fungsi mendidik, dan konflik tidak lagi dianggap sekadar “bumbu kehidupan”, melainkan pelajaran untuk tumbuh bersama sebagai individu dan sebagai masyarakat.

(dari beberapa sumber/red) 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 1884332423312967169

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close