Membela Anak atau Mendidik Anak: Tinjauan Para Ahli


Fenomena orang tua—terutama ibu—yang membela anaknya secara total, bahkan ketika anak berada dalam posisi salah, bukan sekadar persoalan emosional. Ia adalah pertemuan kompleks antara naluri psikologis, tekanan lingkungan sosial, konstruksi budaya, serta pemahaman nilai agama. Ketika pembelaan berubah menjadi pembenaran, di situlah persoalan bermula.

  1. Psikologi: Naluri Proteksi yang Kehilangan Batas

Dalam psikologi, pembelaan orang tua dipahami sebagai naluri protektif akibat ikatan emosional yang kuat. Ibu, secara alami, cenderung melindungi anak dari ancaman—baik fisik maupun sosial. Namun ketika emosi mengalahkan rasionalitas, lahirlah bias: anak selalu benar, pihak lain selalu salah.

Psikolog menegaskan bahwa pengasuhan semacam ini menghambat perkembangan tanggung jawab dan kedewasaan moral. Anak yang tidak pernah dihadapkan pada konsekuensi akan kesulitan menerima kritik, mengakui kesalahan, dan belajar empati. Cinta tanpa batas yang jelas justru berpotensi merusak karakter.

  1. Lingkungan Sosial: Normalisasi Konflik dan Pembiaran Kolektif

Lingkungan sosial turut memperkuat fenomena ini. Demi menjaga harmoni, konflik sering dianggap wajar dan tidak perlu dipersoalkan. Ungkapan seperti “namanya juga dinamika rumah tangga” atau “uniknya hidup bertetangga” menjadi alat pembenaran kolektif.

Akibatnya, masalah serius dipersempit maknanya. Lingkungan tidak mendorong penyelesaian yang adil, melainkan ketenangan semu. Dalam kondisi ini, orang tua terdorong membela anak demi menjaga citra keluarga di mata masyarakat.

  1. Budaya Madura: Loyalitas Keluarga dan Konsep Kehormatan

Dalam budaya Madura, keluarga dan kehormatan memiliki nilai yang sangat tinggi. Anak dipandang sebagai bagian dari martabat keluarga. Membela anak sering dimaknai sebagai menjaga harga diri dan menghindari rasa malu (todus).

Namun para budayawan Madura mengingatkan bahwa kehormatan sejati tidak lahir dari pembenaran kesalahan, melainkan dari keberanian memperbaiki diri. Budaya Madura sejatinya menjunjung nilai tanggung jawab, keberanian, dan kejujuran. Ketika pembelaan melampaui batas, nilai luhur itu justru terdistorsi.

  1. Agama (Islam): Keadilan di Atas Cinta Emosional

Dalam perspektif Islam, cinta kepada anak adalah fitrah, tetapi keadilan dan kebenaran berada di atas ikatan darah. Al-Qur’an menegaskan:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabatmu.”

(QS. An-Nisa: 135)

Ayat ini menegaskan bahwa membela kebenaran lebih utama daripada membela keluarga secara membabi buta. Dalam Islam, mendidik anak berarti menanamkan adab, tanggung jawab, dan keberanian mengakui kesalahan.

Rasulullah SAW pun mencontohkan ketegasan dalam keadilan. Beliau bersabda bahwa seandainya putrinya sendiri mencuri, hukum tetap harus ditegakkan. Ini menunjukkan bahwa kasih sayang tidak boleh menghalangi keadilan.

Membiarkan anak dalam kesalahan bukanlah rahmat, melainkan kezaliman yang tersembunyi. Islam memandang koreksi sebagai bentuk kasih sayang, bukan kebencian.

  1. Pendidikan Moral dan Dampak Jangka Panjang

Dari sudut pandang pendidikan moral, pembelaan tanpa koreksi adalah kegagalan pewarisan nilai. Anak menerima pesan keliru bahwa kesalahan bisa dinegosiasikan jika ada pelindung. Dalam jangka panjang, pola ini berpotensi melahirkan individu yang abai terhadap aturan sosial dan hukum.

Tidak sedikit persoalan besar di masyarakat berawal dari kesalahan kecil yang dulu dianggap sepele.

Reflektif

Dari psikologi, lingkungan, budaya Madura, hingga ajaran Islam, satu benang merah dapat ditarik: membela anak adalah naluri, tetapi mendidik anak adalah amanah. Cinta yang dewasa tidak menutup mata terhadap kesalahan, justru berani mengarahkan pada kebenaran.

Mengakui kesalahan anak bukanlah aib keluarga, melainkan bukti tanggung jawab orang tua. Sebab anak yang diajari bertanggung jawab sejak dini bukan hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga menjaga kehormatan keluarga, nilai budaya, dan tatanan masyarakat.

 (dari beberapa sumber)I

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 1892045017140177059

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close