Sajak-Sajak Republik Rakyat, Ajaz Elmazry
Ajaz Elmazry, nama lengkap Ach. Jazuli lahir di ujung timur pulau Madura, tepatnya di desa Tambaksari Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep. Dia menyelesaikan pendidikannya di berbagai tempat dan terakhir S1-nya di selesaikan di fakultas tarbiyah program studi tadris bahasa Indonesia IAIN Madura pada tahun 2020. Sekarang menjadi tenaga pendidik di SMP Integral Luqman Al-Hakim Sumenep. Selain itu, dia juga aktif di berbagai komunitas dan organisasi. Dia bisa dihubungi melalui akun facebook atau instagram-nya @ajaz_elmazry atau sur-el ajhazelmazry106@gmail.com
kepada seluruh penghuni wilayah ini
silakan segera menyelesaikan rasa dengki terhadap sesama
jika tidak, hindari tindakan kontak fisik
jangan sampai presiden menghukum kita
yang berbuat mesum segera dirikan ruangan-ruangan gelap
bisa di belakang gedung, di sebelah pasar atau di rumah petinggi sekalian
jika tidak mau, setidaknya tidak telanjang di tengah jalan
jangan sampai presiden mengutuk kita
pun, yang seringkali berjudi, merampas maling uang rakyat
segera bubarkan keamanan, vakumkan KPK, kuasai revisian undang-undang
jika tidak mungkin, paling tidak kalian bisa menyuap dan mengancamnya
jangan sampai presiden mendakwa kita
sudah menjadi rahasia umum
uang dan kuasa tetap dipercaya sebagai kekuatan,
mampu mengalihkan isu-isu besar pada yang tidak penting,
bisa membubarkan pertahanan, dengan pura-pura lumpuh,
mampu membuat kebijakan baru diatas penindasan yang
merajalela,
si miskin bisa apa, buat makan-pun tak ada
bicara kuasa, setiap hari hak-haknya kian di peras
rumahnya di gusur, tanahnya diangkut, hutannya di gunduli, bukit-bukitnya di gali
ujungnya si miskin tetap kalah jika melawan
hidup sudah bak hukum rimba
peraturan dibuat oleh si kuat untuk membuat asemakin kuat
yang lemah dijadikan semakin melemah
seakan yang boleh berkeliaran hanya singa, harimau, buaya elang dan kerabatnya
inilah republik anjay
republik kuat yang selalu menertawakan bangsanya
Tambaksari, 03 September 2020
Wakil Rakyat
Yang katanya wakil rakyat
Tapi kenapa membuat rakyat semakin melarat
Yang katanya di sumpah atas nama tuhan
Tapi kenapa senang berbuat pengkhianatan
Yang katanya berikan bukti bukan janji
Tapi kenapa selalu mencari alasan untuk menginkari
Yang katanya akan berdiri atas nama keadilan
Justru sering sekali berbuat kedhaliman
Yang katanya ingin menjadi wakil rakyat
Ternyata hanya ingin menjadi konglomerat
Yang katanya ingin mewakili aspirasi
Ternyata hanya bagian dari tikus berdasi
Yang katanya kepentingan rakyat dikedepankan
ternyata kedok untuk menutupi anggaran yang dipestakan
Yang katanya, dan katanya
Ternyata memang sebatas katanya tak nyata
Terimakasih telah menjadi wakil rakyat
Rakyatnya sekarat, wakilnya tidur di gedung bertingkat
Rakyatnya terjerat, wakilnya jalan-jalan naik pesawat
Tambaksari, 07 Oktober 2020
sebelum berangkat tak lupa berucap bismillah
menyebut asma-Nya diantara keraguan
yang sudah lama bersama masih tidak cocok
apalagi yang datang tiba-tiba dengan sebungkus rokok
pantas dicurigai sejauh diri menafsiri mimpi-mimpi
setelah tiba, harapannya menjadi barokah
tapi sangat mustahil jika sering bertindak serakah
kecerdasan bukan kunci segala lini
jika kelakuan bejat, hati picik
selamanya dunia tak akan meridhoi
belum lagi bicara perubahan
tentu bukan hal sepele untuk dilontarkan
butuh kekuatan besar untuk diwujudkan
tekad yang bulat serta niat yang dii'tikadkan
semua sektor harus diperhatikan
tak ada satupun boleh tertinggal
satu kebodohan membuktikan ketidak-siapan
sebutir kemiskinan menjadi simbol ketidak-mampuan
selamanya harus berbenah
dari satu titik ke titik yang terarah
manakala bisa memprediksi baik
setelah menyaksikan luka mulai berbalik,
sembuh perlahan berganti senyum menawan
sawah-sawah menguning bulir-bulir padi berisi
lautnya indah dengan hamparan pasir di sepanjang pesisir
bunga mekar menyemerbak sajak-sajak penyair
disampingnya sungai-sungai mengalir
menghapus haus dan kelaparan mendarah-daging
mari memilih dengan jiwa berkalung tasbih
Warung Sabu - Sumenep, 30 Agustus 2020
Mengingat Kembali
Melihat peristiwa kedhaliman ini, aku teringat sewaktu kalian ngemis suara kepada kami para rakyat.
Turun ke jalan pasang baliho besar lengkapnya engan visi-misi manis, membuai dan mengawangkan
Menghadiri majelis, forum, pengajian, dan perhelatan sebatas mengisi sambutan dan ujung-manis mulut berbisa, menyampaikan, “cobloslah aku!”.
Tak berhenti disitu,
kalian juga tiba-tiba mengadakan sunnatan masal, pesta rakyat, santunan anak yatim dan fakir miskin, dan benner terpampang dimanapun berjejer penuh senyum manis, muslihat
Namun ketika kalian mencapai kursi tahta, naik mobil mewah, berdasi dan bersepatu. bisa-bisanya kalian berkhianat pada kami, para rakyat.
Benarkah kalian sedang lupa ingatan, kalau kalian telah di sumpah, dan diamanahkan atas nama Tuhan untuk menjadi wakil kami, Membawa segala aspirasi kami.
Memperjuangkan hak-hak kami.
Bukan malah sebaliknya, menindas, mengkibiri, dan merampas hak-hak kami.
Jika benar kalian sedang lupa ingatan. mengapa ketika ada mobil mewah, anggaran besar, dan tunjangan keluarga, kalian berebut paling depan untuk mengajukan proposal dan laporan.
Apa jangan-jangan kalian hanya lupa pada rakyat?
ah, sungguh bingung kalau berbicara dengan orang-orang seperti kalian, lebih canggih dari seekor bunglon, tranggiling dan sejenisnya.
bebal dan dungu dari seekor keledai, yang selalu terperosok pada lubang yang sama
Tambaksari, 08 Oktober 2020
Malam Dosa
seperti malam, kamu datang setelah senja ku nikmati
pada gelapnya terdapat rintik-rintik kenangan
hitam pekat bak rautmu yang sedang memarahiku
kubaringkan sekujur tubuh pada sisa-sisa janji,
yang kemarin pernah kamu sebut sebelum menarik selimut
tenang, aku masih simpan semua tentangmu di bawah bantal
sesekali aku lihat, betapa menakutkannya dirimu
sedikitpun tak pernah memperdulikan angin rindu
meski tahu kalau aku sedang kedinginan karenanya
tidur jadi tak pulas dan menyayat hati
walau sudah larut namun tetap saja masih ramai
apa yang engkau maui
berdiam di langit-langit kamar dan membayangiku?
dan menjelma secangkir kopi di saat aku
mulai menelusuri mimpi-mimpi yang lain
tak ubahnya setangkai mawar di sepertiga malam,
tak ada yang mengecupnya kecuali nyamuk dan orang yang bersungguh-sungguh
selain waktunya yang istijabah,
semua makhluk langit pada saat itu menyaksikan
sedikitpun tak ada yang terlewati,
termasuk kamu yang pura-pura mencintaiku
aku sampaikan pada bulan
disaksikan jutaan bintang
kalau aku sedang dilanda kerinduanku diantara kobaran api
mau memandangnya pun panas,
apalagi bertemu; tentu haram menurut agama dan etika
Tambaksari, 28 Agustus 2020





