Apresiasi Puisi: Menyalakan Rasa dalam Membaca dan Melatih
![]() |
| Yulianti saat menyajikan materi workshop membaca puisi |
Pokok-pokok materi yang disampaikan oleh Yulianti, dalam acara Workshop Membaca Puisi, bagi Guru, Pembina dan Pelatih yang dilaksanakan Rumah Literasi Sumenep, di aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumene[, Sabtu, 17 Januari 2026
Puisi kerap dianggap sebagai sesuatu yang sulit, rumit, bahkan menakutkan, baik oleh siswa maupun guru. Ketika kata “puisi” diucapkan, yang terlintas sering kali bukan kegembiraan, melainkan kekhawatiran akan salah baca, salah intonasi, atau salah tafsir. Tak jarang pula puisi diajarkan semata sebagai latihan teknik vokal, seolah tugas pembaca hanyalah mengeraskan suara dan menghafal bait. Padahal, puisi sejatinya adalah ruang rasa, empati, dan permenungan.
Pelatihan apresiasi puisi hadir untuk menggeser cara pandang tersebut. Tujuannya bukan sekadar melahirkan pembaca puisi yang lantang, melainkan pelatih yang reflektif, inspiratif, dan mampu menularkan rasa. Pelatih diharapkan tidak hanya mengajarkan cara membaca puisi, tetapi juga membimbing peserta untuk memahami, merasakan, dan menghidupkan puisi secara utuh.
Apresiasi Puisi sebagai Proses
Apresiasi puisi bukan soal benar atau salah. Ia adalah proses yang berlangsung perlahan dan berlapis. Proses itu dimulai dari keberanian untuk merasakan suasana puisi, lalu berlanjut pada upaya memahami makna yang terkandung di dalamnya, menghargai keunikan bahasa dan ungkapannya, hingga akhirnya menghidupkan puisi melalui suara dan sikap pembaca.
Dalam proses ini, puisi tidak diperlakukan sebagai teks mati, melainkan sebagai pengalaman batin. Setiap pembaca boleh memiliki pintu masuk yang berbeda, karena puisi berbicara pada latar, pengalaman, dan kepekaan masing-masing individu.
Mengapa Pelatih Perlu Menguasai Apresiasi?
Peran pelatih sangat menentukan dalam dunia baca puisi. Pelatih adalah contoh hidup bagi peserta. Cara pelatih membaca, menyikapi, dan membicarakan puisi akan membentuk cara peserta memandang puisi itu sendiri. Jika pelatih membaca puisi dengan kaku dan penuh ketegangan, peserta pun akan merasakan hal yang sama. Sebaliknya, jika pelatih menghadirkan puisi sebagai ruang empati dan refleksi, peserta akan belajar menikmati puisi tanpa rasa takut.
Apresiasi puisi membentuk sikap, bukan hafalan. Ia menanamkan kepekaan, kesabaran, dan penghargaan terhadap proses. Inilah bekal penting bagi pelatih agar mampu membimbing peserta secara manusiawi, bukan sekadar teknis.

Peserta workshop membaca puisi
Unsur Puisi yang Perlu Dikuasai Pelatih
Agar mampu membimbing dengan baik, pelatih perlu memahami unsur-unsur dasar puisi. Diksi dan makna kata menjadi pintu utama untuk membaca kedalaman puisi. Imaji dan suasana membantu pembaca memasuki dunia batin yang dibangun penyair. Irama dan bunyi memberi nyawa pada kata-kata, sementara tema dan pesan menjadi benang merah yang menuntun keseluruhan pembacaan.
Pemahaman unsur ini tidak dimaksudkan untuk membebani peserta dengan teori, melainkan sebagai bekal pelatih dalam menuntun proses pemaknaan secara alami.
Apresiasi sebagai Perpaduan Rasa, Pikir, dan Sikap
Apresiasi puisi adalah pertemuan antara rasa, pikir, dan sikap. Rasa hadir melalui penghayatan suasana puisi. Pikir bekerja dalam memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Sikap tercermin dalam cara menghargai puisi, membimbing peserta, dan membuka ruang tafsir yang beragam.
Ketiganya tidak berdiri sendiri. Tanpa rasa, puisi menjadi kering. Tanpa pikir, pembacaan kehilangan arah. Tanpa sikap, proses pelatihan berubah menjadi tekanan.
Strategi Melatih Baca Puisi yang Humanis
Melatih baca puisi sebaiknya dimulai dari pemaknaan, bukan dari suara. Peserta diajak memahami isi puisi terlebih dahulu sebelum memikirkan keras-lembut atau tinggi-rendah suara. Membaca pelan dan sadar membantu peserta merasakan setiap kata dan jeda. Diskusi tentang emosi puisi membuka ruang refleksi dan empati.
Dalam proses ini, pelatih memberi contoh, bukan menggurui. Contoh yang jujur dan sederhana jauh lebih efektif daripada nasihat panjang yang kering dari pengalaman.
Peran Kunci Pelatih dan Kesalahan yang Perlu Dihindari
Pelatih ideal berperan sebagai fasilitator, bukan juri. Ia menciptakan ruang aman agar peserta berani berekspresi, menghargai keberagaman gaya baca, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Pelatih membantu peserta menemukan suaranya sendiri, bukan menyeragamkan pembacaan.
Beberapa kesalahan umum yang kerap terjadi antara lain terlalu fokus pada vokal dan volume, memaksakan satu gaya baca, mengoreksi tanpa empati, serta mengabaikan proses batin peserta. Kesalahan-kesalahan ini justru dapat mematikan rasa dan membuat puisi terasa menakutkan.
Pada akhirnya, pelatih yang baik bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi menyalakan rasa. Puisi bukan sekadar untuk dibaca, melainkan untuk dirasakan dan dihidupkan. Ketika pelatih mampu menghadirkan puisi sebagai pengalaman yang manusiawi dan bermakna, peserta pun akan belajar mencintai puisi dengan caranya sendiri.
Dari sanalah lahir pembacaan puisi yang jujur, berakar pada rasa, dan menyentuh pendengarnya.
(Rulis)
Pilihan





