Ayah yang Dilemahkan: Ketika Rumah Tangga Kehilangan Keadilan dan Keseimbangan
Oleh: Sholehuddin
Dalam diskursus keluarga kontemporer, figur ayah semakin sering ditempatkan dalam posisi defensif. Ia hadir bukan sebagai subjek yang dipahami, melainkan sebagai objek kritik yang nyaris selalu diasosiasikan dengan ketidakhadiran, kekakuan emosi, atau kegagalan dalam pengasuhan. Narasi ini terus diulang dalam percakapan publik, media populer, bahkan diskusi akademik, hingga perlahan membentuk kesan bahwa problem rumah tangga berakar pada sosok ayah. Persoalannya, generalisasi semacam ini tidak hanya menyederhanakan realitas, tetapi juga berpotensi melemahkan martabat ayah secara sistemik.
Tidak dapat dipungkiri, ada ayah yang abai, tidak bertanggung jawab, atau gagal menjalankan perannya. Namun, menyamakan semua ayah dalam satu wajah kegagalan adalah ketidakadilan. Banyak ayah hadir dengan cara yang tidak spektakuler dan jarang mendapat sorotan. Ia bekerja dalam sunyi, menanggung tekanan ekonomi, kecemasan sosial, serta beban ekspektasi sebagai “kepala keluarga” yang dituntut selalu kuat. Kehadirannya sering tidak diukur dari seberapa sering ia berbicara, melainkan dari seberapa lama ia bertahan.
Masalah muncul ketika bentuk kehadiran seperti ini tidak lagi diakui sebagai kehadiran. Ayah direduksi menjadi penyedia nafkah semata. Selama ia mampu membayar kebutuhan rumah tangga, keberadaannya dianggap cukup. Namun, ketika ia ingin didengar, dilibatkan dalam keputusan, atau mengekspresikan pandangan, posisinya kerap dipertanyakan. Ia dibutuhkan tenaganya, tetapi diabaikan suaranya. Ia dituntut bertanggung jawab, tetapi tidak selalu diberi ruang berpartisipasi.
Paradoks ini melahirkan tekanan psikologis yang serius. Ayah diminta kuat, tetapi tidak diberi ruang untuk rapuh. Ia diharapkan sabar, tetapi tidak diberi tempat untuk lelah. Ketika ia diam, ia dianggap tidak peduli. Ketika ia bersuara, ia dituduh otoriter. Dalam banyak situasi, ayah seolah tidak memiliki pilihan yang benar. Apa pun sikapnya, selalu ada celah untuk menyalahkannya.
Lebih jauh, pelemahan ayah sering kali dibungkus dalam bahasa kemajuan dan kesetaraan. Kritik terhadap maskulinitas toksik, misalnya, sering meluas menjadi kecurigaan terhadap otoritas ayah itu sendiri. Padahal, membongkar pola maskulinitas yang merusak tidak identik dengan meruntuhkan peran ayah. Sayangnya, batas ini kerap kabur. Yang terjadi bukan pembaruan relasi, melainkan pengerdilan peran.
Kesetaraan sejati seharusnya membangun relasi yang saling menguatkan antara ayah dan ibu. Namun, dalam praktiknya, sebagian wacana justru menciptakan kompetisi peran. Seolah-olah untuk mengangkat peran ibu, peran ayah harus dilemahkan. Logika semacam ini keliru dan berbahaya. Keadilan tidak pernah lahir dari ketimpangan baru. Kesetaraan tidak tumbuh dari saling meniadakan, melainkan dari saling mengakui.
Dampak dari pelemahan ayah tidak berhenti pada relasi suami-istri. Anak-anak adalah pihak yang paling lama menyerap akibatnya. Mereka belajar tentang martabat, tanggung jawab, dan keadilan bukan dari teori, tetapi dari apa yang mereka saksikan setiap hari. Ketika ayah diperlakukan sebagai figur yang selalu salah atau tidak penting, anak menyerap pesan bahwa kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan penghargaan. Dari sini, krisis nilai perlahan terbentuk.
Anak laki-laki tumbuh dengan kebingungan tentang peran dan identitasnya. Anak perempuan tumbuh dengan persepsi yang timpang tentang figur ayah dan relasi dengan laki-laki. Keduanya sama-sama berisiko kehilangan teladan tentang relasi yang adil dan saling menghormati. Rumah tangga, yang seharusnya menjadi sekolah pertama tentang keadilan, justru menjadi ruang reproduksi ketidakadilan.
Perlu ditegaskan, membela martabat ayah bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan ayah atau menafikan peran ibu. Kritik tetap diperlukan. Evaluasi peran tetap penting. Namun, kritik yang adil selalu berangkat dari pengakuan, bukan dari prasangka. Rumah tangga yang sehat berdiri di atas dua pilar utama yang sama-sama kuat dan saling menopang. Ibu dan ayah bukan kompetitor, melainkan mitra dalam perjuangan hidup yang tidak ringan.
Ayah juga manusia. Ia bisa gagal, salah, dan jatuh. Namun, budaya kita belum cukup memberi ruang bagi ayah untuk menunjukkan sisi rapuhnya. Kesedihan ayah sering dianggap kelemahan. Kegelisahannya dianggap ketidakmampuan. Padahal, pengakuan atas kerentanan justru merupakan prasyarat kedewasaan emosional. Ayah yang dipaksa selalu kuat berisiko kehilangan kemanusiaannya.
Sudah saatnya masyarakat menata ulang cara memandang figur ayah. Media, pendidik, dan keluarga perlu lebih adil dalam membingkai peran ini. Ayah tidak perlu dipuja, tetapi juga tidak pantas dilemahkan. Ia tidak harus sempurna, tetapi layak dihormati. Rumah tangga tidak membutuhkan ayah yang dibungkam atau disisihkan, melainkan ayah yang dilibatkan, didengar, dan diperlakukan sebagai manusia seutuhnya.
Ketika ayah terus dilemahkan, yang sesungguhnya goyah bukan hanya satu figur, melainkan keseimbangan rumah tangga itu sendiri. Dan rumah yang kehilangan keseimbangan—seberapa pun modern dan progresif tampaknya—cepat atau lambat akan runtuh oleh beban yang seharusnya bisa ditopang bersama.
Pilihan





