Legenda Nyonson: Asal-Usul Tradisi Keminyan di Sumenep
Legenda ini mengisahkan asal-usul tradisi Nyonson di Sumenep, Madura—ritual membakar keminyan pada malam Jumat yang dipercaya sebagai pelindung dari mara bahaya dan doa bagi arwah leluhur. Berangkat dari kisah kepahlawanan Joko Sukmono dan cinta sakralnya dengan Putri Srimangkuning, legenda ini hidup turun-temurun sebagai warisan kepercayaan masyarakat Madura.
*****
Oleh: Ayu Andika Putri
Tradisi Nyonson di Sumenep, Madura, Jawa Timur, merupakan kebiasaan membakar keminyan setiap malam Jumat ba’dah Magrib. Asap keminyan ditebarkan ke setiap sudut rumah sambil membacakan surah Al-Fatihah untuk anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Kepercayaan ini telah mengakar kuat dan diwariskan dari generasi ke generasi hingga hari ini.
Ratusan tahun silam, pada masa pemerintahan raja pertama Sumenep, hiduplah seorang kakek sakti mandraguna bernama Ki Sareang, penguasa hutan terlarang yang disegani banyak orang. Ia memiliki seorang cucu laki-laki yang gagah, tampan, dan berhati luhur bernama Joko Sukmono. Selain rupawan, Joko dikenal sebagai pemuda berbakti dan berakhlak mulia.
Suatu hari, Ki Sareang memanggil cucunya dan memberinya tugas penting.
“Wahai cucuku, bawalah keminyan ini. Kelak, siapa tahu ia akan berguna bagimu,” ujar Ki Sareang.
“Baik, Eang. Saya pamit,” jawab Joko Sukmono penuh hormat.
Dalam perjalanan menuju desa di ujung barat Pulau Madura, Joko Sukmono melihat cahaya terang memancar di kejauhan. Saat didekati, cahaya itu meredup, memperlihatkan sosok perempuan berpakaian serba kuning. Namun, ketika hendak dihampiri, sosok itu lenyap begitu saja.
Perjalanan berlanjut hingga Joko memasuki sebuah hutan lebat. Dari balik semak-semak, terdengar suara lirih. Ia melihat tanaman menjalar yang melilit buah berwarna kuning keemasan. Saat buah itu dipetik, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan.
“Siapa pun yang berhasil memetik buah itu, dialah yang akan menjadi suamiku.”
“Siapakah engkau?” tanya Joko Sukmono terkejut.
“Aku Putri Srimangkuning,” jawab suara itu dari balik pepohonan.
Ketika Joko mendekat, ia terpesona oleh kecantikan sang putri. Ia pun sadar, Putri Srimangkuning adalah sosok yang ia lihat bercahaya di tengah perjalanan. Joko kemudian mengajak sang putri menuju desa tujuan.
Sesampainya di desa, mereka disambut para tetua dengan penuh harap. Joko Sukmono menyampaikan amanah dari kakeknya. Para tetua pun bersyukur, sebab doa mereka akhirnya terkabul. Desa itu telah lama diteror makhluk buas pemburu anak-anak. Lebih dari dua puluh anak menjadi korban. Makhluk itu selalu datang setiap malam Jumat, bermukim di hutan belantara seberang sungai, di balik bukit kembar dengan batu berbentuk cincin.
Mendengar kisah itu, Joko Sukmono berjanji akan membinasakan makhluk tersebut. Ia hanya memiliki waktu empat hari sebelum malam Jumat tiba kembali.
Malam pun datang. Joko bersiap pergi berburu.
“Kanda, aku merasa khawatir. Bolehkah aku membantumu?” tanya Putri Srimangkuning cemas.
“Tidak, dinda. Jika kau ingin membantuku, jagalah desa ini. Aku berjanji akan kembali dan menikahimu,” jawab Joko sambil merangkulnya.
Tiga hari kemudian, Joko tiba di sarang makhluk itu—tempat yang berbau busuk dan gelap. Ia mengamati makhluk tersebut diam-diam, mencari kelemahannya. Namun, semua usahanya gagal. Dalam kebingungan, Joko teringat keminyan pemberian kakeknya.
“Mungkin ini bisa menolongku,” gumamnya.
Saat keminyan dibakar, aroma harum memenuhi hutan. Tanpa diduga, makhluk itu melemah, mengerang kesakitan. Kesempatan itu dimanfaatkan Joko Sukmono untuk menghabisi makhluk jahat tersebut hingga tuntas.
Ia pun kembali ke desa sebagai pahlawan. Putri Srimangkuning, para tetua, dan seluruh warga menyambutnya dengan sukacita.
“Kini aku tahu kelemahan makhluk itu,” kata Joko Sukmono.
“Apakah itu, tuan?” tanya seorang tetua.
“Makhluk itu takut pada wewangian, terutama keminyan. Saat dibakar, ia akan melemah dan menjauh,” jawab Joko.
Sejak saat itu, para tetua sepakat membakar keminyan setiap malam Jumat sebagai upaya perlindungan.
Setelah tugas selesai, Joko Sukmono dan Putri Srimangkuning kembali ke tempat asal. Joko meminta restu Ki Sareang untuk menikahi sang putri. Mereka pun hidup bahagia.
Kabar keberhasilan Joko Sukmono tersebar ke seluruh Madura. Sejak itulah masyarakat Madura meyakini bahwa membakar keminyan pada malam Jumat dapat menghindarkan dari mara bahaya. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi ritual doa bagi arwah leluhur. Tradisi tersebut dikenal hingga kini dengan sebutan Nyonson.
Pilihan





