Air yang Tak Pernah Netral
Cerpen: Muhtadi Chasbien
Sejak kejadian itu, kau paling membenci acara makan malam. Meja panjang dengan taplak bunga krem yang dulu terasa hangat kini seperti altar pengadilan, tempat keputusan-keputusan sepihak dibacakan tanpa ruang bantahan. Kau lebih memilih mengurung diri di kamar, menatap langit-langit sambil menghitung retakan kecil di sudut tembok, daripada duduk berhadap-hadapan dengan bapakmu. Kau bukan lagi perempuan ceria yang senyumnya mudah merekah. Jika suatu waktu senyum itu muncul, semata karena ingatanmu melompat ke masa lalu—masa sebelum makan malam itu, ketika cinta belum dipaksa memilih antara darah dan nurani.
Pada awal kisah cintamu, keluargamu memberi restu penuh. Bapakmu bahkan tampak bangga. Lelaki yang kausayangi dianggapnya tepat: aktif di organisasi pemuda, disegani warga, pandai berbicara, dan—yang paling menyenangkan hatinya—pintar bermain catur. Beberapa sore mereka habiskan di beranda, papan catur terbentang di antara dua gelas teh hangat.
Dari balik jendela berkaca gelap, kau kerap mengintip. Raut muka mereka menegang setiap kali bidak digeser. Ada sesuatu yang membuatmu bahagia melihat dua dunia itu bertemu: dunia rumah dan dunia cintamu. Tiga kali kau abadikan momen itu melalui kamera ponsel.
Suatu saat akan kutunjukkan foto ini kepadamu, Mas, gumammu dalam hati.
Ibumu datang membawa dua cangkir teh. “Percayalah,” katanya sambil tersenyum tipis, “kelak mereka akan menyandang status mertua dan menantu.” Ia menyodorkan nampan ke tanganmu. “Bawakan ke beranda.”
Sore itu hujan turun perlahan. Atap seng memantulkan suara yang berisik namun menenangkan. “Diminum dulu tehnya!” serumu agak nyaring.
Bapakmu hanya melirik sekilas. Tatapannya kembali ke papan catur, seolah dunia lain tak penting selama permainan belum usai.
“Apakah kau juga hanya akan meliriknya?” godamu pada kekasihmu.
Ia menyeruput sekali. “Enak. Komposisinya pas.” Wajahmu menghangat. Kau yakin ia mengira kau yang membuat teh itu.
“Calon suami takut istri,” ledek bapakmu.
“Skak,” ujar kekasihmu tiba-tiba. Kekalahan itu membuat bapakmu terdiam beberapa detik.
“Aku suka menantu yang pintar main catur,” katanya akhirnya. “Apalagi bisa jadi inspirator pemuda di desanya.”
Hatimu mengembang. Kau merasa masa depan terbentang sederhana dan pasti.
Namun sore itu pula, hujan meninggalkan bekas. Air dari parit di samping rumah mengalir deras, menghanyutkan daun-daun gugur. Kau memandangi aliran itu lama sekali, tanpa tahu bahwa kelak air akan menjadi sumber pertengkaran paling kejam dalam hidupmu.
“Bapak minta bantuanmu,” ucapmu pelan kepada kekasihmu. “Kalau berhasil, ia akan memenuhi keinginanku.”
“Apa pun,” jawabnya cepat. “Aku akan membantunya.”
Telepon masuk. Ia menjauh. Dan sejak itulah jarak mulai tercipta—bukan hanya sejengkal tubuh, tetapi bentangan nilai yang tak lagi searah.
Keesokan paginya kalian bertemu di pos ronda. Udara pagi dingin, bau tanah basah masih tertinggal. Kau menyampaikan undangan makan malam dengan nada yang dibuat dingin. Ia menyanggupi tanpa banyak tanya.
“Bapak menanyakan kepastianmu,” katamu.
“Aku akan membantunya.”
“Bantuan apa?”
Ia menggeleng.
“Bapak ingin kau menghentikan perlawanan warga terhadap pengeboran air tanah.”
Ia terdiam lama. Matanya membesar. “Lokasinya terlalu dekat dengan mata air.”
“Itu hanya kemungkinan,” kilahmu.
“Kemungkinan yang sudah berkali-kali jadi kenyataan.”
Kau tak menjawab. Dalam hati kau menghitung mata air yang mati satu per satu. Nama-nama itu kini hanya tinggal sebutan kosong di mulut warga.
“Jika kau mencintaiku,” katamu akhirnya, “kau pasti akan berusaha agar kita tak berpisah.”
Kau pergi meninggalkannya dengan dada bergetar. Namun sore itu pesan singkatnya membuatmu menangis bahagia. Kau memilih percaya, sebab cinta sering kali meminta kita menutup mata pada kenyataan yang tak kita sukai.
Malam itu, kekasihmu datang memenuhi undangan makan malam.
Kau menyuguhkan air putih. Ibumu menggeleng pelan, lalu membawakan teh hangat. Semua tampak biasa, sampai bapakmu mulai bicara tentang pengeboran—tentang air sebagai komoditas, tentang keuntungan, tentang masa depan keluarga.
“Bapak,” ujar kekasihmu pelan, “undang-undang melarang pengeboran dalam radius dua ratus meter dari mata air.”
Kalimat itu seperti palu.
Tamparan mendarat di pipinya. Ia tak melawan.
“Selangkah saja kakimu keluar dari pekarangan ini, haram kau kembali,” teriak bapakmu saat kau hendak mengejar.
Malam itu kau tidur dengan mata basah, telinga masih berdenging oleh suara meja dipukul.
Esoknya, alat bor dijarah warga.
Bapakmu mengamuk. Kau menjadi sasaran.
Sejak hari itu, kau menghindari makan malam. Kau tahu, meja itu tak pernah benar-benar netral. Di sanalah cinta, kekuasaan, dan air saling berebut tempat. Dan kau—di tengahnya—belajar bahwa tidak semua yang jernih bisa diminum dengan tenang.
Air mengalir, tapi luka menetap.
Pilihan





