Mencatat sebagai Jalan Belajar: Melatih Pikiran Anak, Menjaga Ingatan, dan Menumbuhkan Kemandirian


Di tengah arus pembelajaran instan—video singkat, penjelasan cepat, dan jawaban siap pakai—kebiasaan mencatat sering dianggap kuno dan melelahkan. Padahal, di balik aktivitas sederhana menulis catatan, tersimpan proses belajar yang paling mendasar dan esensial: mengaktifkan otak, menata pikiran, dan membangun ingatan jangka panjang. Tulisan ini membahas mengapa mencatat bukan sekadar tugas sekolah, melainkan latihan berpikir dan keterampilan hidup yang penting ditanamkan sejak dini.

*****

Oleh: Taufik Hidayat

Mengapa anak perlu lebih banyak mencatat? Pertanyaan ini tampak sederhana, namun jawabannya menyentuh inti dari proses belajar itu sendiri. Dalam praktik pendidikan sehari-hari, kita sering menjumpai anak yang tampak memahami pelajaran saat guru menjelaskan, tetapi beberapa jam kemudian lupa hampir seluruh isinya. Ungkapan yang kerap terdengar adalah, “Tadi saya paham, tapi sekarang lupa.” Kalimat ini bukan tanda kegagalan anak, melainkan cerminan cara kerja ingatan manusia yang memang rapuh jika tidak diberi penopang.

Mendengar saja tidak cukup. Ketika anak hanya mendengarkan penjelasan guru, otak cenderung berada pada posisi pasif. Informasi masuk, tetapi tidak diolah secara mendalam. Ia sekadar lewat, seperti air mengalir di permukaan. Berbeda halnya ketika anak mencatat. Dalam proses mencatat, otak dipaksa bekerja aktif: memilih informasi mana yang penting, memahami maknanya, menyusunnya kembali, lalu menuliskannya dengan bahasa sendiri. Pada titik inilah belajar yang sesungguhnya terjadi.

Menulis catatan bukan kegiatan mekanis semata. Ia adalah proses kognitif yang kompleks. Anak harus mendengar, memahami, memilah, dan memutuskan. Apa yang perlu ditulis? Apa yang bisa diabaikan? Bagaimana merangkum penjelasan panjang menjadi beberapa kalimat inti? Semua itu adalah latihan berpikir tingkat tinggi. Karena itu, mencatat bukan soal menyalin kata demi kata, melainkan mengolah informasi menjadi pemahaman.

Tulisan adalah jejak ingatan. Ingatan manusia mudah memudar, terlebih pada anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan. Apa yang hari ini dipahami dengan jelas, besok bisa hilang tanpa bekas. Catatan berfungsi sebagai penanda, sebagai arsip pemahaman yang bisa dipanggil kembali kapan saja. Saat anak lupa, ia tidak perlu memulai dari nol. Ia tinggal membuka catatan, membaca ulang, dan ingatan pun perlahan tersambung kembali.

Lebih dari itu, mencatat melatih fokus dan disiplin. Ketika anak mencatat, seluruh inderanya bekerja bersama. Tangan menulis, mata melihat, telinga mendengar, dan pikiran memproses. Anak belajar duduk tenang, memperhatikan, dan bertahan dalam satu aktivitas dalam jangka waktu tertentu. Di era gangguan digital yang serba cepat, kemampuan fokus semacam ini menjadi keterampilan yang semakin langka dan berharga.

Kebiasaan mencatat juga menumbuhkan kemandirian belajar. Guru tidak selalu ada di samping anak. Di luar kelas, anak harus berhadapan dengan buku, tugas, dan materi secara mandiri. Catatan menjadi teman belajar yang setia. Dari catatan, anak bisa mengulang pelajaran, memahami kembali konsep yang belum jelas, bahkan belajar sebelum ujian tanpa selalu bergantung pada penjelasan ulang dari guru atau orang tua.

Mencatat bukan hanya terjadi saat guru menjelaskan. Anak bisa mencatat saat membaca buku, menonton video pembelajaran, atau setelah berdiskusi. Dengan mencatat, anak belajar menyusun kembali pemahamannya sendiri. Ia tidak sekadar menerima informasi, tetapi mengolahnya. Proses ini melatih rasa tanggung jawab atas belajar yang ia jalani.

Sering kali, mencatat disalahpahami sebagai tuntutan tulisan rapi dan penuh halaman. Akibatnya, anak merasa tertekan. Padahal, esensi mencatat bukan pada keindahan tulisan, melainkan pada proses berpikir yang terjadi di baliknya. Catatan boleh sederhana, boleh singkat, bahkan boleh penuh coretan, selama ia lahir dari pemahaman anak itu sendiri.

Menulis dan mencatat adalah latihan berpikir. Dalam catatan, anak belajar merangkum, menyederhanakan, dan menyusun ide secara runtut. Ia belajar bahwa pikiran yang baik perlu ditata agar bisa dipahami kembali. Keterampilan ini tidak hanya berguna di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan. Kemampuan menyusun pikiran, membuat catatan, dan merencanakan langkah adalah bekal penting untuk masa depan.

Di sinilah mencatat berubah menjadi keterampilan hidup, bukan sekadar tugas akademik. Anak yang terbiasa mencatat akan lebih siap menghadapi berbagai situasi: merencanakan kegiatan, memahami instruksi, mencatat hal penting, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang ia miliki. Ia belajar berpikir sistematis dan reflektif.

Sebagai pendidik—baik guru maupun orang tua—kita perlu mengubah cara pandang terhadap kegiatan mencatat. Anak yang rajin mencatat bukan sedang dipaksa menulis, melainkan sedang dilatih berpikir. Ia sedang diajak membangun fondasi belajar yang kuat. Fokus kita seharusnya bukan pada banyaknya halaman yang terisi, tetapi pada kualitas proses belajar yang berlangsung.

Mencatat adalah proses belajar yang benar sejak awal. Ia mengajarkan anak bahwa belajar bukan sekadar mendengar dan menghafal, tetapi memahami dan mengolah. Dalam dunia yang serba cepat dan instan, kebiasaan mencatat mungkin terasa lambat. Namun justru di situlah kekuatannya: ia menumbuhkan kedalaman, ketekunan, dan kesadaran berpikir.

Akhirnya, ketika anak menulis catatan, ia sedang menulis jejak ingatannya sendiri. Jejak yang kelak bisa ia telusuri kembali, tidak hanya untuk menjawab soal ujian, tetapi untuk memahami cara berpikirnya sendiri. Dan dari situlah, belajar menjadi proses yang hidup, bermakna, dan berkelanjutan.

*****

Tonton videonya: 

Sumber disini 




Pilihan

Tulisan terkait

Utama 4735789054239346081

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close